Logo
>

Meredanya Konflik Timur Tengah Seret Dolar AS ke Zona Merah

Kesepakatan damai AS dan Iran meredakan kekhawatiran geopolitik global, mendorong pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Meredanya Konflik Timur Tengah Seret Dolar AS ke Zona Merah
Ilustrasi dolar Amerika Serikat (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) ditutup tersungkur terhadap mata uang beberapa negara pada Senin, 15 Juni 2026 setelah AS dan Iran sepakat mengakhiri perang.

Mengutip Reuters, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap mata uang termasuk yen dan euro turun 0,20 persen menjadi 99,60, dengan euro menguat 0,25 persen menjadi USD1,1597.

Sementara itu, poundsterling terpantau menguat  0,1 persen terhadap dolar AS menjadi USD1,342. Sedangkan Yen Jepang melemah 0,03 persen menjadi 160,25 per dolar AS.

Tak ketinggalan, nilai tukar rupiah per perdagangan kemarin juga menguat atas dolar AS sebesar 151 poin ke level Rp17.708.

Bank-bank sentral utama, seperti The Fed, Bank of Japan, Bank of England, dan Reserve Bank of Australia, akan mengumumkan keputusan suku bunga pekan ini.

Pasar berfokus pada apakah kesepakatan damai akan meredakan kekhawatiran mereka tentang inflasi dan memengaruhi kebijakan moneter jangka pendek.

Bank Sentral AS, The Fed, secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga dalam kisaran saat ini 3,5 persen hingga 3,75 persen, tetapi mungkin akan mengubah kecenderungan pelonggaran kebijakan moneternya.

Para pedagang juga akan memperhatikan seberapa agresif nada yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, pada konferensi pers setelah pernyataan tersebut.

Investor memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 56 persen pada bulan Desember seiring dengan membaiknya pasar tenaga kerja dan inflasi yang tetap di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen.

Bank Sentral Jepang diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1 persen, level tertinggi dalam 31 tahun, pada pertemuan dua hari yang berakhir pada hari Selasa.

Bank tersebut juga diperkirakan akan memberi sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman guna memerangi risiko inflasi meskipun ada kesepakatan damai.

“Kenaikan suku bunga mungkin tidak akan banyak berpengaruh langsung pada nilai tukar dolar/yen karena sudah tercermin dalam nilai tukar tersebut,” kata Chandler, meskipun ia menambahkan bahwa orang mungkin menganggap intervensi lebih mungkin terjadi jika yen terus melemah.

Sementara itu, baik Reserve Bank of Australia maupun Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil.
 

Adapun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin, 15 Juni 2026  nota kesepahaman untuk mengakhiri perang di Teluk telah ditandatangani oleh pihaknya dan Iran.

Menurut keterangan dari kedua belah pihak, perjanjian tersebut akan membuka kembali selat yang diblokade dan memperpanjang gencatan senjata untuk periode negosiasi selama 60 hari, di mana isu-isu kontroversial seperti masa depan program nuklir Iran akan diputuskan.

Meskipun demikian, pasar tetap agak berhati-hati karena menunggu rincian perjanjian dan penandatanganan final.

"Tingkat ketidakpercayaan sangat besar sehingga menurut saya naif untuk berasumsi bahwa semuanya akan berjalan lancar," kata Chandler, kepala ahli strategi pasar di Bannockburn Global Forex. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.