KABARBURSA.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menggeser pendekatan pembiayaan ekonomi daerah dari sekadar penyaluran kredit UMKM menjadi pembangunan ekosistem industri lokal berbasis rantai nilai melalui Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED).
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan program PED yang dikembangkan sejak 2024 difokuskan pada optimalisasi potensi ekonomi unggulan daerah melalui kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem pendukung pengembangan ekonomi daerah.
Menurutnya, berbagai tantangan dinamika global saat ini tidak boleh menyurutkan optimisme Indonesia. Seharusnya, tantangan ini bisa menjadi ajang pembuktian kekuatan Indonesia salah satunya adalah dari kekuatan ekonomi di daerahnya.
“Mari kita cintai Indonesia dengan bersama-sama, bersinergi, berkolaborasi mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah yang nantinya kita harapkan akan menyokong pertumbuhan ekonomi nasional supaya Indonesia ke depan semakin maju dan semakin sejahtera,” kata Friderica dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Balai Kartini, dikutip Selasa, 26 Mei 2026.
Menurut Friderica, PED tidak hanya berfokus pada akses pembiayaan UMKM, tetapi juga membangun keterhubungan antara sektor jasa keuangan, pemerintah daerah, kementerian teknis, hingga sektor riil.
Sampai saat ini, Program PED telah diterapkan di 40 kabupaten dan kota dengan fokus pada sektor agrikultur dan ekonomi kreatif, termasuk di Sumatera Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.
Tahapan program tersebut dimulai dari pemetaan potensi ekonomi unggulan daerah melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi terintegrasi lintas pemangku kepentingan, peningkatan kapasitas pembiayaan, hingga pemanfaatan produk jasa keuangan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
Dalam implementasinya, PED dikembangkan berbasis ekosistem industri lokal. Di Sumatera Selatan, misalnya, program difokuskan pada pengembangan ekosistem kopi dari hulu hingga hilir.
OJK mencatat produksi kopi Indonesia pada 2025 mencapai 832,7 ribu ton dan berpotensi meningkat hingga 1,2 juta ton per tahun melalui optimalisasi produktivitas lahan dan penguatan industri olahan kopi dengan valuasi mencapai Rp129 triliun.
Di Jawa Timur, PED diarahkan untuk pengembangan ekosistem susu sapi perah guna mendukung rantai nilai pangan nasional. Sektor tersebut disebut memiliki nilai ekonomi mencapai Rp49,5 triliun.
Sementara di Jawa Tengah, program PED mendukung pengembangan komoditas padi, jagung, dan rajungan yang menjadi bagian dari sektor pangan dengan potensi ekonomi mencapai Rp1.684 triliun.
Untuk wilayah DKI Jakarta, OJK mendorong pengembangan ekonomi kreatif, termasuk industri film dan konten kreatif yang diperkirakan memiliki potensi nilai hingga Rp2.130 triliun pada 2029.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Hernawan Bekti Sasongko mengatakan OJK akan terus memperluas implementasi PED di berbagai daerah.
“Kita terus mendorong PED ini semakin luas agar bisa memberikan kontribusi yang nyata di daerah melalui berbagai kolaborasi yang bisa membangun ekosistem program prioritas di daerahnya,” kata Hernawan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi daerah.
“Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) senantiasa digenjot dan diharapkan dapat mendorong perekonomian di daerah. Pemerintah juga mendorong digitalisasi melalui berbagai kegiatan ekonomi. Selain itu, pemerintah juga mendorong industri semikonduktor di daerah, proses hilirisasi, serta mempersiapkan SDM yang andal,” kata Airlangga.(*)