KABARBURSA.COM – Pasar global mulai resah jelang negosiasi antara Washington dengan Teheran. Meski demikian, Wall Street bergerak campuran, di mana Dow Jones turun 0,6 persen ke 47.916,57 dan S&P 500 melemah tipis 0,1 persen ke 6.816,89. Sementara Nasdaq masih mampu menguat 0,4 persen ke 22.902,89.
Dalam skala yang lebih luas, kinerja sepekan justru menjadi yang terbaik sejak November. S&P 500 menguat 3,6 persen, Dow naik 3 persen, dan Nasdaq melonjak 4,7 persen. Ini memperlihatkan respons pasar terhadap meredanya ketegangan awal setelah adanya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan penuh hingga akhir pekan. Pelaku pasar kembali masuk ke mode antisipatif menjelang pembicaraan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini.
Ketidakpastian Negosiasi AS-Iran
Sentimen utama yang membayangi pasar datang dari ketidakpastian hasil negosiasi antara Washington dan Teheran. Iran kembali menegaskan tuntutan pembukaan akses aset serta penghentian serangan Israel di Lebanon. Sementara Presiden AS Donald Trump justru meningkatkan tekanan dengan ancaman serangan lanjutan jika tuntutan tidak dipenuhi.
Dinamika ini membuat pasar berada dalam kondisi yang sensitif, di mana arah pergerakan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dalam waktu singkat.
Posisi Minyak Masih di Level Tinggi
Di sisi komoditas, harga minyak memberikan sinyal yang tidak sepenuhnya konsisten. Meski sempat turun, posisi minyak masih berada di level tinggi. WTI ditutup di USD96,57 per barel dan Brent di USD95,20 per barel.
Angka tersebut muncul setelah sebelumnya pasar merespons pembatalan rencana serangan terhadap infrastruktur Iran. Namun, gangguan pasokan global masih terasa, terutama dengan lalu lintas di Selat Hormuz yang masih jauh di bawah normal. Kondisi ini menjaga risiko pasokan tetap tinggi, meskipun harga sempat terkoreksi.
Dampak dari lonjakan energi mulai terlihat pada data inflasi global. Amerika Serikat mencatat kenaikan harga konsumen tertinggi dalam hampir empat tahun pada Maret. Pun dengan China yang mencatat kenaikan harga produsen untuk pertama kalinya dalam tiga setengah tahun.
Data ini memperlihatkan bahwa tekanan biaya dari sisi energi mulai merembet ke sistem ekonomi yang lebih luas, serta menambah lapisan sentimen baru bagi pasar keuangan.
Asia Merespons Positif
Dari sisi regional, pasar Asia menunjukkan respons yang lebih positif. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,9 persen dan mencatat kenaikan mingguan 7,3 persen. Kenaikan ini menjadi yang terbesar sejak November 2022.
Di sini, pelaku pasar masih melihat peluang dari meredanya konflik, meskipun ketidakpastian belum sepenuhnya hilang.
Di pasar mata uang, indeks dolar melemah 0,2 persen ke 98,68 dan mencatat penurunan terbesar sejak Januari. Euro menguat ke USD1,1728, sementara yen melemah terhadap dolar.
Sementara itu, imbal hasil obligasi AS bergerak naik tipis, dengan yield 10 tahun berada di 4,317 persen dan yield 2 tahun di 3,802 persen. Ekspektasi suku bunga yang masih berada dalam fase penyesuaian.
Sektor teknologi menjadi salah satu penopang utama, didorong oleh kinerja Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) yang mencatat lonjakan pendapatan 35 persen pada kuartal pertama.
Data ini memperkuat sentimen terhadap saham berbasis kecerdasan buatan, yang tercermin dari kenaikan indeks semikonduktor Philadelphia sebesar 2,3 persen.
Dalam keseluruhan pergerakan, Wall Street menunjukkan dua lapisan yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, ada dorongan optimisme dari meredanya konflik dan kinerja sektor teknologi. Namun di sisi lain, ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi mulai menahan laju penguatan.
Pergerakan yang cenderung melemah di akhir pekan menjadi refleksi bahwa pasar belum sepenuhnya yakin arah berikutnya, dan masih menunggu kejelasan dari hasil perundingan yang akan menjadi penentu sentimen dalam waktu dekat.(*)