Logo
>

PIER Ungkap Fakta di Balik Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal 1 2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, namun tekanan manufaktur dan arus modal asing masih jadi perhatian.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
PIER Ungkap Fakta di Balik Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal 1 2026
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal 1 2026. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal 1 2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) perlu dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1 2025.

Karena, menurutnya, pertumbuhan secara triwulanan ekonomi Indonesia masih terkontraksi 0,77 persen dan adanya dorongan musiman dari momentum Ramadan dan Idulfitri pada bulan Maret 2026.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih didukung kuat oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah,” kata Josua dalam Virtual Media Briefing PIER Economic Review Kuartal 1, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Josua mengungkapkan, konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat tumbuh 5,52 persen yoy pada kuartal I 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang berada di level 5,11 persen yoy.

Peningkatan konsumsi didorong oleh naiknya aktivitas belanja masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri, ditambah perbaikan indikator keyakinan konsumen serta penjualan ritel pada Maret 2026.

Dari sisi investasi, pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) melambat menjadi 5,96 persen yoy dari sebelumnya 6,12 persen yoy pada kuartal IV 2025. Meski mengalami moderasi, aktivitas investasi domestik dinilai masih cukup kuat, terutama ditopang investasi bangunan dan struktur yang berkaitan dengan program prioritas pemerintah.

Pada saat yang sama, belanja pemerintah melonjak hingga 21,31 persen yoy seiring percepatan realisasi fiskal pada awal tahun. Peningkatan tersebut termasuk untuk mendukung sejumlah program prioritas, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari sektor eksternal, ekspor hanya tumbuh 0,90 persen yoy di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Sementara itu, impor meningkat 3,22 persen yoy sejalan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal di dalam negeri.

Walau pertumbuhan ekonomi masih mencatatkan kinerja positif, dominasi konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menunjukkan sumber pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya berasal dari ekspansi investasi swasta yang kuat dan berkelanjutan. Sebagian dorongan pertumbuhan juga masih dipengaruhi faktor musiman dan kebijakan pemerintah.

Secara sektoral, sektor akomodasi serta makanan dan minuman mencatat pertumbuhan tertinggi. Pada kuartal I 2026, sektor tersebut tumbuh 13,14 persen yoy, meningkat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 7,41 persen yoy. Pertumbuhan juga terjadi pada sektor jasa lainnya serta transportasi dan pergudangan.

Di sisi lain, industri pengolahan yang menjadi kontributor terbesar PDB mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 5,04 persen yoy dari sebelumnya 5,40 persen yoy. Sementara sektor pertambangan masih berada dalam tekanan akibat pengendalian produksi pada sejumlah komoditas mineral utama.

Jika dilihat dari segi wilayah, pertumbuhan ekonomi di Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, serta Jawa tercatat melampaui rata-rata nasional. Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 7,93 persen yoy, Sulawesi 6,95 persen yoy, dan Jawa 5,79 persen yoy.

Pertumbuhan tersebut ditopang normalisasi pertambangan di Nusa Tenggara Barat, kuatnya industri manufaktur di Sulawesi, serta meningkatnya konsumsi domestik di Jawa.

Josua juga menyoroti, kehati-hatian pelaku usaha juga tercermin pada kondisi pasar tenaga kerja dan sektor manufaktur. Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 berada di level 4,68 persen, dengan jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang atau bertambah 1,896 juta orang dibanding Februari 2025.

Meski penyerapan tenaga kerja masih tumbuh, kualitas pekerjaan menjadi perhatian. Proporsi pekerja formal turun tipis sebesar 0,02 poin persentase, sedangkan pekerja paruh waktu meningkat 0,16 poin persentase.

Risiko yang mulai muncul bukan lonjakan pengangguran besar, melainkan meningkatnya informalitas dan tekanan terhadap pendapatan kelompok menengah bawah.

Pada sektor manufaktur, Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis kuartal I 2026 masih berada di zona ekspansi dengan level 51,37. Namun angka tersebut turun dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 52,21.

Sinyal perlambatan semakin terlihat pada April setelah PMI Manufaktur turun ke level 49,1. Kondisi itu mengindikasikan kontraksi output, kenaikan biaya input, serta melemahnya keyakinan pelaku usaha.

Perkembangan di sektor riil juga berkaitan erat dengan kondisi pasar keuangan yang belum sepenuhnya pulih. Pertumbuhan PDB yang positif belum mampu sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran investor terhadap pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, terbatasnya ruang penurunan suku bunga, hingga tekanan fiskal akibat subsidi energi.

Pada kuartal I 2026, investor asing mencatat arus keluar bersih sekitar USD 1,79 miliar dari pasar domestik, terdiri dari obligasi minus USD 1,48 miliar dan saham minus USD 1,95 miliar. Di sisi lain, SRBI masih menarik arus masuk dana asing sebesar USD 1,64 miliar.

Meski demikian, sektor jasa keuangan dan konsumsi domestik masih menjadi penopang. Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit baru pada kuartal I tetap tumbuh meski lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya dengan standar penyaluran yang lebih selektif. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 masih berada di zona optimistis pada level 123,0.

Namun, ketahanan konsumsi tetap perlu dijaga mengingat pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi berpotensi memicu kenaikan harga barang impor, biaya logistik, dan biaya produksi.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,3 persen, dengan permintaan domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.

Meski begitu, risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik, perang dagang global, dan perlambatan ekonomi Tiongkok tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan kinerja ekspor nasional.

Secara keseluruhan, pertumbuhan PDB kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen dinilai menjadi capaian positif dan kredibel. Namun angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan ekonomi yang merata.

Perlambatan belanja modal, kehati-hatian perekrutan tenaga kerja, tekanan biaya, melemahnya sektor manufaktur, hingga volatilitas pasar keuangan menunjukkan kualitas pertumbuhan ekonomi masih perlu mendapat perhatian.

"Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap penting untuk menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar di tengah dinamika global,” kata Josua.

Josua mengimbau, pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, dan menjaga kredibilitas APBN. Ia juga menyarankan agar Bank Indonesia perlu terus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sambil memastikan likuiditas mengalir ke sektor produktif. Sementara dunia usaha perlu menjaga efisiensi dan memperkuat rantai pasok tanpa mengorbankan tenaga kerja secara berlebihan.

“Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat kuat dalam angka, tetapi juga lebih terasa nyata dalam investasi, penciptaan pekerjaan formal, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” tutup Josua.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.