KABARBURSA.COM - Musim pembagian dividen emiten di Bursa Efek Indonesia masih berlanjut. Kali ini giliran PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI). Keduanyayang memutuskan membagikan sebagian laba bersih tahun buku 2025 kepada para pemegang saham.
Dividen SIMP cukup menarik, karena nilai dividen yang dibagikan mencapai Rp26 per saham. Total dana yang disiapkan sebesar Rp403,03 miliar atau setara dengan 19,49 persen dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang 2025 sebesar Rp2,07 triliun.
Besarnya kepemilikan saham membuat sebagian besar dana dividen mengalir kepada pemegang saham pengendali. Indofood Agri Resources Ltd sebagai pemilik mayoritas menjadi penerima dividen terbesar dengan nilai sekitar Rp296,08 miliar.
Di bawahnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga memperoleh tambahan pendapatan dividen sekitar Rp26,92 miliar berkat kepemilikannya di SIMP.
Begitu pula dengan Lo Kheng Hong. Investor yang dikenal luas sebagai penganut strategi investasi berbasis nilai (value investing) tersebut diperkirakan akan menerima dividen sekitar Rp20,71 miliar dari investasinya di SIMP.
Tidak hanya pemegang saham besar, investor publik juga ikut menikmati hasil kinerja perusahaan. Pemegang saham dengan kepemilikan di bawah lima persen memperoleh alokasi dividen sekitar Rp59,3 miliar.
Sementara itu, sebagian kecil dividen juga akan diterima anggota direksi dan dewan komisaris sesuai jumlah saham yang mereka miliki.
Di luar pembagian dividen, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) SIMP juga menyepakati penyisihan Rp5 miliar sebagai dana cadangan. Sisa laba bersih tidak dibagikan, melainkan dicatat sebagai laba ditahan yang akan menjadi tambahan modal untuk mendukung ekspansi dan kebutuhan operasional perusahaan pada periode mendatang.
Dividen Kedua Allo Bank
Sementara itu, dari sektor perbankan digital, Allo Bank juga menunjukkan komitmennya untuk berbagi hasil dengan investor.
RUPST BBHI menyetujui pembagian dividen sebesar Rp286,97 miliar atau setara 50 persen dari laba bersih tahun buku 2025. Ini adalah dividen kedua sepanjang sejarah Allo Bank sejak beroperasi sebagai bank digital.
Sepanjang 2025, Allo Bank membukukan laba bersih sebesar Rp574,26 miliar, meningkat sekitar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kenaikan pendapatan bunga yang mencapai hampir 30 persen secara tahunan. Pendapatan operasional juga melonjak sekitar 65 persen.
Sisa laba sekitar Rp287,28 miliar diputuskan menjadi laba ditahan guna memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung berbagai inisiatif strategis yang akan dijalankan perusahaan.
Fokus utama Allo Bank ke depan masih diarahkan pada pengembangan layanan perbankan digital yang lebih komprehensif, baik untuk segmen ritel maupun korporasi. Perseroan juga menargetkan peningkatan pengalaman nasabah melalui proses layanan digital end-to-end agar mampu bersaing di industri perbankan yang semakin kompetitif.
Selain menyetujui pembagian dividen, RUPST BBHI juga memberikan persetujuan atas laporan tahunan, penunjukan auditor independen, penetapan remunerasi direksi dan komisaris, pembaruan rencana aksi keuangan berkelanjutan, perubahan anggaran dasar sesuai regulasi terbaru, hingga pengkinian rencana aksi pemulihan sebagai bagian dari kepatuhan terhadap ketentuan regulator.
Jika dibandingkan, kebijakan dividen kedua emiten tersebut menunjukkan karakter yang berbeda.
SIMP memilih membagikan sekitar seperlima laba bersih sambil mempertahankan sebagian besar keuntungan sebagai modal internal untuk mendukung keberlanjutan bisnis agribisnis yang sangat dipengaruhi siklus harga komoditas.
Sebaliknya, Allo Bank mengambil pendekatan yang lebih agresif dengan membagikan separuh laba bersih kepada pemegang saham. Kebijakan tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan manajemen terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan pertumbuhan laba di masa mendatang meskipun industri perbankan digital masih menghadapi persaingan yang ketat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.