KABARBURSA.COM - PT PLN (Persero) bergerak cepat mengeksekusi program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 Gigawatt (GW) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Hingga tahun 2030, PLN memproyeksikan tambahan kapasitas daya dari PLTS berbasis battery energy storage system mencapai 19,1 GW di Pulau Jawa.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan bahwa percepatan ini ditopang oleh penyediaan lahan langsung dari pemerintah serta pemanfaatan area permukaan waduk.
Strategi ini dinilai efektif memangkas biaya investasi karena proyek PLTS berskala besar sangat sensitif terhadap fluktuasi harga tanah.
"Karena program ini tanahnya sudah disediakan oleh pemerintah dan juga menggunakan waduk-waduk, tentu saja ini menjadikan program PLTS ditambah battery energy storage system dari program Presiden Prabowo Subianto menjadi sangat kompetitif secara keekonomian," kata Darmawan saat memberikan paparan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, pada Kamis, 2 Juli 2026.
Darmawan memaparkan, jika harga lahan melambung hingga 200 ribu rupiah per meter persegi, hal itu akan menaikkan tarif listrik sebesar 1 sen per Kilowatt-hour (kWh). Apabila harga tanah mencapai 600 ribu rupiah per meter persegi, kenaikan tarif bisa menyentuh angka 3 sen per kWh. Hambatan biaya inilah yang berhasil ditekan melalui intervensi pemerintah.
Untuk memuluskan target, PLN secara intensif berkoordinasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian ESDM. Lahan seluas 28.000 hektare yang diusulkan Kementerian ATR telah ditelaah (overlay) dengan peta jaringan transmisi dan gardu induk PLN.
Hasilnya, sekitar 8.500 hektare lahan dinilai siap digunakan untuk menghasilkan daya 8,5 GW, ditambah pemanfaatan waduk seluas 10.000 hektare yang berpotensi menghasilkan 10 GW.
Dalam peta jalan korporasi, PLN menjadwalkan penambahan kapasitas PLTS secara bertahap, dimulai pada tahun 2027 sebesar 4,6 GW melalui integrasi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS).
Selanjutnya, kapasitas daya akan bertambah sebesar 4,4 GW pada 2028, diikuti percepatan lelang proyek dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebesar 2,7 GW pada 2029, serta 2,4 GW pada 2030.
Selain fokus di Pulau Jawa, PLN juga tengah menyiapkan proyek serupa di Pulau Bali dan Pulau Madura. Langkah tersebut bertujuan menekan pengoperasian pembangkit berbasis bahan bakar minyak (BBM) yang membebani keuangan negara.
"Tambahan kapasitas sampai 2030 sekitar 19,1 GW ini akan memfasilitasi penguatan daya dan keandalan listrik di Jawa, sekaligus mengurangi konsumsi BBM berbasis impor untuk digantikan dengan energi domestik ramah lingkungan," tutur Darmawan.(*)