Logo
>

Rupiah Ditutup di Level 17.243, Proposal Iran Katalis Negatif

Rupiah ditutup di Rp17.243 saat dolar AS menguat dan konflik AS-Iran belum mereda, analis soroti faktor eksternal dan dinamika domestik.

Ditulis oleh Yunila Wati
Rupiah Ditutup di Level 17.243, Proposal Iran Katalis Negatif
Rupiah kembali berakhir melemah, masih di kisaran Rp17.200 per dolar AS. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa, 28 April 2026. Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp17.243 per dolar AS, turun 32 poin atau 0,19 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya di Rp17.211 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pergerakan dolar menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di sisi eksternal, perhatian pasar tertuju pada perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. 

Ibrahim menjelaskan jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz masih terganggu, sementara upaya negosiasi belum mengeluarkan kesepakatan yang dapat meredakan situasi.

“Upaya untuk mengakhiri perang AS-Iran tampaknya terhenti, dengan Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup, sehingga pasokan energi dari wilayah tersebut tidak dapat diakses secara normal oleh pasar global,” katas Ibrahim dalam risetnya, Selasa, 28 April 2026.

Proposal Iran tak Mempan

Dalam beberapa hari terakhir, Iran sempat mengajukan proposal untuk membuka kembali jalur tersebut. Namun, Amerika Serikat meresponsnya dengan skeptis lantaran proposal tersebut tidak menyentuh isu program nuklir Iran.

“Presiden AS Donald Trump tidak senang dengan proposal terbaru Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang,” kata Ibrahim, mengutip sumber pejabat AS. 

Kondisi inilah yang kemudian membuat konflik tetap berada dalam fase buntu, terlebih blokade terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung.

Selain itu, pasar juga masih menunggu arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sejauh ini, Bank Sentral AS dijadwalkan menggelar pertemuan pada pekan ini. Dari pertemuan itu, pengamat berharap suku bunga tetap. Namun, pernyataan lanjutan terkait inflasi dan kondisi ekonomi menjadi perhatian pelaku pasar.

Rupiah Undervalued

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti narasi yang kerap muncul saat rupiah melemah. Pemerintah dan Bank Indonesia sering menyebut nilai tukar berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued dalam berbagai kondisi, termasuk saat kurs mendekati Rp17.300 per dolar AS.

Menurutnya, narasi tersebut terus berulang sejak periode sebelumnya. Dalam rentang waktu sejak 2014, rupiah bergerak dari kisaran Rp12.000 per dolar AS hingga berada di atas Rp17.000 dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menyebut kondisi tersebut menempatkan diskusi mengenai nilai wajar rupiah dalam konteks yang lebih luas. Di satu sisi, indikator makro seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas sistem keuangan masih tercatat terjaga.

Namun di sisi lain, terdapat faktor struktural yang ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Beberapa di antaranya meliputi cadangan devisa yang sebagian ditopang oleh utang, arus investasi yang masuk namun diikuti keluarnya dividen dan bunga, serta ketergantungan terhadap aliran modal jangka pendek.

“Kondisi tersebut membuat nilai tukar rentan terhadap tekanan eksternal,” ujar Ibrahim. 

Ia juga menilai penggunaan narasi undervalued telah berkembang sebagai bagian dari komunikasi pasar, di tengah dinamika fundamental yang terus berubah.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dari konflik geopolitik, penguatan dolar AS, serta dinamika domestik, pergerakan rupiah pada penutupan hari ini mencerminkan respons pasar terhadap berbagai faktor yang berlangsung dalam waktu bersamaan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79