KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan inflasi pada Juli 2026 diprakirakan relatif stabil, sementara pada Oktober 2026 diprediksi meningkat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 sebesar 175,8, relatif stabil dibandingkan IEH pada Juni 2026 sebesar 175,6.
"Sementara itu, IEH Oktober 2026 diprakirakan sebesar 167,6, lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 sebesar 163,2 didorong oleh kenaikan harga bahan baku," ujar dia dalam keterangannya.
Adapun Ramdan menyampaikan penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan terjaga. Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 diprakirakan sebesar 225,0, ditopang terutama oleh peningkatan penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, dan barang lainnya.
Secara bulanan, kata dia, penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan sebesar -0,9 persen (mtm), lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar -11,6 persen (mtm).
"Perkembangan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak," jelasnya.
Sementara pada April 2026, IPR tercatat sebesar 226,9. Kinerja tersebut didorong oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang budaya dan rekreasi.
"Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 tercatat terkontraksi sebesar 11,6 persen (mtm), sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idulfitri 1.447 H," ungkapnya.
Purbaya Yakin Kenaikan Harga Pertamax Tak Picu Lonjakan Inflasi
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme bahwa penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya jenis Pertamax, yang berlaku pada Rabu, 10 Juni 2026, tidak akan memicu lonjakan inflasi.
Purbaya memastikan bahwa efek domino dari kebijakan ini terhadap harga barang dan jasa di masyarakat akan sangat terbatas.
Optimisme ini didasarkan pada karakteristik pengguna Pertamax yang mayoritas merupakan kendaraan pribadi kelas menengah ke atas, bukan kendaraan logistik atau transportasi publik yang menjadi urat nadi distribusi barang pokok.
Purbaya menegaskan bahwa laju inflasi sepanjang tahun 2026 diperkirakan akan tetap stabil dan berada di dalam koridor asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
"Harusnya (dampak inflasi) limited, karena bukan buat angkutan umum, angkutan barang enggak pakai Pertamax," ujar dia dalam keterangannya, Rabu, 10 Juni 2026.
Merespons kekhawatiran publik mengenai potensi beralihnya konsumen Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite yang dikhawatirkan dapat menjebol kuota subsidi negara, Pemerintah bersama para pemangku kepentingan terkait telah menyiapkan langkahlangkah mitigasi yang komprehensif.
Pemerintah memastikan bahwa pengawasan distribusi BBM bersubsidi akan semakin diperketat sehingga tepat sasaran. Langkah ini diambil guna menjamin agar BBM bersubsidi tetap dinikmati oleh masyarakat yang berhak dan kuota APBN tetap terjaga hingga akhir tahun.
Adapun harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green melonjak dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. (*)