KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga 151 poin ke level Rp17.708 pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. Perkasanya rupiah hari ini tidak lepas dari harga minyak mentah dunia yang menurun.
Diketahui harga minyak pada hari Minggu, 14 Juni 2026 menyusut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negaranya telah menyelesaikan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya diberitakan Kabarbursa.com, seperti dilaporkan CNBC, kontrak berjangka minyak mentah AS turun 4,8 persen menjadi USD80,80 per barel pada pukul 18.01 waktu ET.
Sementara itu, kontrak berjangka Brent sebagai patokan internasional diperdagangkan 3,9 persen lebih rendah ke posisi USD83,89 per barel.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang telah selesai," kata Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social. Hormuz akan dibuka tanpa sistem tarif tol dan AS akan mengakhiri blokade angkatan lautnya terhadap Iran, ungkap sang presiden.
"Kapal-kapal dunia, hidupkan mesin kalian," tutur Trump. "Biarkan minyak mengalir!"
Dalam unggahan berikutnya, Trump menyebutkan bahwa selat tersebut akan dibuka pada hari Jumat, hari di mana upacara penandatanganan resmi perjanjian damai dijadwalkan berlangsung di Swiss.
"Dengan pembukaan Selat saat penandatanganan Kesepakatan pada hari Jumat untuk tujuan pembersihan ranjau, minyak akan mengalir kembali di kedua ujungnya untuk Kawasan ini, dan Dunia!" katanya.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuabi mengatakan anjloknya harga minyak mentah dunia ini menjadi sentimen positif bagi domestik karena diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN.
"Membuat pememerintah senang dan ketegangan berubah menjadi kegembiraan," ujar dia dalam keterangannya.
Dengan kondisi global yang kembali stabil, kata Ibrahim, masyarakat berbondong-bondong menjual valuta asingnya sesuai dengan instruksi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengimbau masyarakat yang menyimpan dolar AS agar segera menjual atau menukarkannya menjadi rupiah.
Ibrahim menyampaikan fokus pasar kini akan beralih ke pertemuan kebijakan Bank Indonesia (BI) akhir pekan ini yaitu Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilaksanakan pada 17-18 Juni 2026/
Diketahu, pada 9 Juni 2026 lalu, BI telah mengambil langkah pengetatan lanjutan dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen.
"Langkah pre-emptive ini dioptimalkan untuk melindungi nilai tukar rupiah dari gejolak global dan menahan keluarnya arus modal asing (capital outflow)," kata Ibrahim.
Sementara dari luar negeri, lanjut Ibrahim, pasar saat ini tengah mengamati dengan hati-hati seberapa cepat produsen Timur Tengah dapat melanjutkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang dan apakah lebih banyak kapal akan memasuki wilayah tersebut.
"Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan kesepakatan yang lebih luas akan dinegosiasikan selama periode gencatan senjata 60 hari," ungkapnya.
Adapun untuk perdagangan besok, Selasa, 16 Juni 2026, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp17.650- Rp17.700. (*)