KABARBURSA.COM – Wall Street berakhir variasi. Indeks S&P 500 dan Nasdaq berakhir pecah rekor, tersengat gerak cepar sektor teknologi. Namun, laju Wall Street tertahan Dow Jones Industrial Average yang terkoreksi 0,31 persen.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan, masing-masing berada di level 7.230,12 dan 25.114,44. Kenaikan ini memperpanjang tren positif selama enam pekan berturut-turut, dan menjadi periode penguatan terpanjang sejak Oktober 2024.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru bergerak berlawanan arah. Indeks yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar tersebut terkoreksi 0,31 persen ke posisi 49.499,27.
Kekuatan utama pasar datang dari saham teknologi yang menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi di S&P 500. Lonjakan ini tidak lepas dari kinerja emiten yang melampaui ekspektasi, terutama dari kelompok saham berbasis kecerdasan buatan yang menjadi sorotan utama investor.
Data menunjukkan, dari 314 perusahaan yang telah merilis laporan keuangan, sekitar 83 persen mencatatkan laba di atas ekspektasi. Sementara, 78 persen melampaui proyeksi pendapatan.
Secara agregat, pertumbuhan laba kuartal pertama diperkirakan mencapai 27,8 persen secara tahunan, menjadi yang tertinggi sejak akhir 2021.
Kepala Strategi Pasar Carson Group Ryan Detrick, menyebut momentum ini sebagai refleksi dari musim laporan keuangan yang solid.
“Pergerakan hari ini menjadi puncak dari pekan yang kuat bagi investor, dengan kinerja perusahaan yang secara umum lebih baik dari perkiraan,” ujarnya.
Gangguan Timur Tengah Picu Ketidakpastian
Di sisi lain, saham energi justru menjadi penekan utama pasar. Penurunan harga minyak mentah memberikan tekanan pada emiten sektor ini, di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar global.
Perkembangan terbaru dari kawasan Timur Tengah menunjukkan proses negosiasi belum menemukan titik terang, dengan gangguan distribusi energi masih menjadi perhatian. Namun laporan mengenai proposal baru Iran untuk membuka kembali jalur diplomasi sempat menekan harga minyak, yang kemudian berdampak langsung pada saham-saham energi.
Ahli strategi investasi U.S. Bank Wealth Management Tom Hainlin, menyebut pasar kini mencoba mengukur durasi gangguan tersebut.
“Investor sedang memperkirakan seberapa lama gangguan pasokan akan berlangsung, lalu menilai sektor mana yang paling sensitif terhadap kondisi tersebut,” katanya.
Aktivitas Manufaktur AS Bertumbuh
Dari sisi makroekonomi, data terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur AS masih tumbuh untuk bulan keempat berturut-turut. Namun komponen harga yang dibayarkan dalam survei tersebut melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun, menandakan tekanan inflasi yang belum mereda.
Kondisi ini menciptakan tarik-menarik baru di pasar, antara optimisme kinerja korporasi dan kekhawatiran terhadap inflasi serta kebijakan suku bunga. Di satu sisi, laba perusahaan mendorong sentimen positif, namun di sisi lain tekanan harga dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.
Apple Menguat, Exxon Melemah
Pergerakan saham individual turut mencerminkan dinamika tersebut. Apple menguat 3,3 persen setelah memberikan proyeksi penjualan yang solid, didorong permintaan untuk produk terbaru. Di sektor teknologi lainnya, Atlassian melonjak hampir 30 persen setelah menaikkan panduan tahunan, diikuti penguatan Salesforce dan ServiceNow.
Sebaliknya, tekanan terlihat pada saham berbasis platform digital seperti Roblox yang anjlok lebih dari 18 persen setelah memangkas proyeksi pemesanan. Reddit justru melesat lebih dari 13 persen setelah memberikan panduan pendapatan yang lebih optimistis.
Di sektor energi, kinerja keuangan perusahaan minyak besar turut tertekan. Exxon Mobil mencatat penurunan laba akibat gangguan di Timur Tengah, sementara Chevron meski melampaui ekspektasi pendapatan, laba keseluruhan berada di level terendah dalam lima tahun. Saham kedua perusahaan tersebut masing-masing melemah sekitar 1 persen dan 1,4 persen.
Memasuki bulan Mei, pasar juga mulai menghadapi pola musiman yang cenderung lebih lemah. Data historis menunjukkan bahwa sejak 1945, rata-rata kenaikan S&P 500 pada periode Mei hingga Oktober hanya sekitar 2 persen, jauh di bawah rata-rata kenaikan sekitar 7 persen pada periode November hingga April.
Di tengah kondisi tersebut, pasar kini berada pada fase yang ditentukan oleh kombinasi kinerja korporasi, arah harga energi, serta perkembangan geopolitik global yang masih bergerak dinamis.(*)