KABARBURSA.COM – Pekan pertama perdagangan tahun ini ditutup ceria. Wall Street mengakhiri pekan dengan hujan cuan. Di Eropa, indeks-indeks utama juga mencetak rekor demi rekor. Sepertinya investor sudah mulai agresif mengambil risiko meskipun tensi geopolitik belum reda.
Pergerakan indeks utama AS menunjukkan dinamika tersebut. Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq 100 sama-sama menguat lebih dari 2 persen. Sedangkan S&P 500 ditutup di rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH), dengan naik 0,6 persen pada perdagangan Jumat waktu setempat, 9 Januari 2026.
Reli ini terjadi meskipun ada ketidakpastian kebijakan tarif Presiden Donald Trump, yang sempat memicu volatilitas intraday, terutama setelah Mahkamah Agung tidak memberikan putusan terkait Nasib tarif tersebut.
Pasar sempat goyah sesaat, namun segera pulih ketika investor kembali fokus pada data tenaga kerja.
Dalam data tenaga kerja, ada penambahan di data non-pertanian sebesar 50.000 pdaa Desember, dengan Tingkat pengangguran turun 4,4 persen dari 4,6 persen sebelumnya. Bagi pasar, ini kombinasi yang cukup baik untuk menopang optimisme tanpa memicu kekhawatiran lanjutan.
Imbal hasil obligasi treasury dua tahun naik tipis ke 3,53 persen, sementara tenor 10 tahun relative stabil di sekitar 4,16 persen. Di sini, investor cenderung mengambil sikap wait and see.
Sandisk Dominasi Pergerakan Saham
Di balik penguatan indeks, pergerakan saham individual menunjukkan cerita yang jauh lebih beragam. Sandisk menjadi sorotan dengan lonjakan lebih dari 37 persen. Katalis utamanya adalah pernyataan Bank of America yang menyebutkan bahwa perusahaan ini akan diuntungkan dari desain perangkat keras AI generasi baru yang semakin meningkatkan peran memori NAND.
Kombinasi permintaan yang kuat, harga NAND yang naik, serta prospek laba yang membaik membuat pasar melakukan repricing agresif.
Valero Energy juga melonjak lebih dari 12 persen setelah otoritas California memastikan perusahaan akan tetap memasok pasar melalui stok dan impor. Kepastian ini meredakan kekhawatiran soal potensi kelangkaan bensin.
SLB atau Schlumberger mencatat kenaikan lebih dari 12 persen, dipicu optimisme terhadap prospek industri migas Venezuela setelah operasi militer AS, Ditambah kontrak besar dari Aramco dan perluasan kemitraan digital dengan Shell.
Amazon ikut menikmati momentum dengan kenaikan lebih dari 9 persen, setelah Uni Eropa mengisyaratkan pendekatan regulasi yang lebih lunak serta perusahaan ini memamerkan inovasi AI dan fitur iklan baru di CES.
Johnson Controls Anjlok Dihantam Nvidia
Sebaliknya, Johnson Controls turun lebih dari 9 persen setelah CEO Nvidia mengatakan bahwa chip generasi mendatang akan mengurangi kebutuhan pendingin air di pusat data. Narasi ini menggerus pertumbuhan pemasok sistem HVAC.
Roblox melemah hampir 9,5 persen akibat gangguan layanan semalam dan catatan analis yang menyoroti perlambatan keterlibatan pengguna, tepat ketika perusahaan meluncurkan produk iklan baru.
Marvell Technology juga turun hampir 7 persen setelah mengumumkan akuisisi XConn senilai USD 540 juta, yang meskipun membuka jalan ke bisnis switching pusat data berbasis AI, memunculkan kekhawatiran soal risiko eksekusi jangka pendek.
Secara sentimen, reli ini juga didorong oleh arus beli ritel yang masih kuat, menurut data JPMorgan Securities. Partisipasi investor individu yang agresif ini membantu pasar menahan tekanan jual dan menjaga tren naik tetap utuh.
Namun, tidak semua sektor ikut berpesta. Saham-saham konsumen seperti Mattel dan Deckers Outdoor tertinggal, menunjukkan bahwa rotasi sektor masih berlangsung dan investor tidak lagi hanya berfokus pada big tech.
Ke depan, pasar menghadapi dua sumber volatilitas utama, yaitu musim laporan keuangan kuartalan yang akan dimulai pekan depan dan rilis data inflasi AS. Kedua faktor ini berpotensi mengubah narasi “Goldilocks” yang saat ini menopang reli.
Jika laba perusahaan mengecewakan atau inflasi kembali menghangat, ekspektasi suku bunga bisa berubah cepat. Untuk saat ini, pelaku pasar swap masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga total sekitar 50 basis poin sepanjang 2026, meskipun peluang pemangkasan pada Januari hampir nihil.
Dengan demikian, reli awal tahun di Wall Street lebih mencerminkan optimisme yang rapuh daripada euforia penuh. Pasar sedang mencoba menyeimbangkan harapan pertumbuhan, disiplin inflasi, dan ketidakpastian kebijakan.
Dalam konteks ini, lonjakan indeks bukan sekadar cerminan kekuatan ekonomi, melainkan juga hasil dari taruhan bahwa The Fed akan tetap berada di jalur yang akomodatif, sementara teknologi—terutama AI—akan terus menjadi mesin utama pertumbuhan sepanjang 2026.(*)