KABARBURSA.COM — Setelah berbulan-bulan saling ancam dan serang, Amerika Serikat dan Iran disebut mulai mendekati titik kompromi. Namun perdamaian yang dibicarakan belum sepenuhnya berarti perang usai. Salah satu syarat terberat justru menyentuh urusan yang selama ini jadi harga diri Teheran yakni program nuklir.
Laporan Financial Times menyebut mediator internasional optimistis kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran selama 60 hari bakal tercapai. Perjanjian itu sekaligus membuka jalan pembicaraan lebih luas soal nuklir.
Jika tercapai, kesepakatan akan mencakup pembukaan bertahap Selat Hormuz, pelonggaran sanksi terhadap Iran, pembahasan stok uranium yang telah diperkaya hingga pencairan aset Iran di luar negeri secara bertahap.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Konflik di kawasan itu selama ini membuat pasar global cemas dan mendorong lonjakan harga energi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pemerintah tengah merampungkan nota kesepahaman sebagai tahap awal mengakhiri perang sebelum masuk ke negosiasi lebih besar dalam 30 sampai 60 hari mendatang.
“Nota kesepahaman sedang diselesaikan untuk mengakhiri perang sebagai tahap pertama, sebelum beralih ke pembicaraan yang lebih luas dalam 30 hingga 60 hari,” ujar perwakilan Iran, dikutip dari CNBC, Ahad, 24 Mei 2026.
Seorang diplomat yang mengetahui proses negosiasi mengaku arah pembahasan mulai menunjukkan sinyal positif. “Kesepakatan tampaknya bergerak ke arah yang benar. Sekarang dokumen itu berada di tangan Amerika untuk ditinjau,” katanya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga memberi sinyal serupa. Ia mengaku peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran makin terbuka. “Saya semakin dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” kata Trump.
Menurut laporan, Trump menggelar pembicaraan dengan para pemimpin negara Arab pada Sabtu waktu setempat guna membahas draf kesepakatan. Keputusan akhir kemungkinan diambil pada Minggu.
Meski begitu, jalan menuju damai masih dipenuhi ganjalan. Salah satu tuntutan utama Trump adalah Iran menyerahkan uranium hasil pengayaan dan menghentikan secara permanen kemampuan mengembangkan senjata nuklir.
Trump juga meminta Iran membongkar fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan. Ketiga lokasi itu sebelumnya menjadi sasaran serangan AS setelah Washington ikut mendukung operasi militer Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu.
Sikap Iran belum sepenuhnya melunak. Negosiator utama Iran kepada pihak Pakistan menegaskan Teheran tidak akan mengorbankan apa yang disebut sebagai hak sah mereka. “Iran tidak akan berkompromi atas hak-haknya yang sah,” ujar negosiator Iran.
Ketidakpercayaan terhadap AS juga masih membayangi pembicaraan. Bahkan Kementerian Luar Negeri Iran mengakui posisi kedua pihak masih terasa “sangat jauh sekaligus sangat dekat” menuju kesepakatan.
Sejak gencatan senjata rapuh berlaku pada 8 April lalu, bentrokan kecil masih terjadi. Persaingan memperebutkan pengaruh di Selat Hormuz terus memicu ketegangan.
Konflik tersebut bahkan disebut negara-negara Teluk sebagai krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Harga energi yang melonjak ikut menekan inflasi di AS dan memunculkan spekulasi bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga.
Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab pun dilaporkan mendesak Trump menghentikan serangan militer. Mereka khawatir balasan Iran justru menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik lebih besar dan memperparah guncangan ekonomi global.
Di tengah semua manuver itu, satu pertanyaan masih menggantung. Apakah perdamaian benar-benar sedang dibangun, atau ini sekadar jeda sebelum babak berikutnya dimulai.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.