KABARBURSA.COM - Senior Market Analyst Nanovest, Bryan Oskar, menilai prospek pasar investasi global masih menyimpan ruang pertumbuhan yang lebar untuk melanjutkan laju positif pada tahun mendatang. Optimisme itu muncul setelah performa pasar sepanjang 2025 mencetak capaian yang dinilai luar biasa dan melampaui ekspektasi banyak pelaku industri.
Menurutnya, arah pasar global berpeluang tetap berada di jalur bullish selama bank-bank sentral utama dunia konsisten melonggarkan kebijakan moneter. Pada saat yang sama, sektor teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai masih mampu menjaga denyut inovasi yang menjadi motor utama pergerakan pasar.
“Tahun 2025 tidak semata tentang rekor harga. Ini adalah fase ketika aset tradisional seperti emas dan saham berjalan seiring dengan aset digital—Bitcoin dan saham-saham berbasis AI—menuju puncak baru,” ujarnya dalam di Jakarta, Senin 22 Desember 2025.
Bryan menegaskan, fenomena tersebut menjadi bukti bahwa diversifikasi dalam lanskap investasi modern semakin matang. Perpaduan antara aset konvensional dan aset digital dinilai mampu menciptakan imbal hasil yang lebih optimal di tengah dinamika ekonomi global.
Gambaran itu, lanjut dia, terlihat jelas dari pergerakan pasar saham Amerika Serikat. Indeks-indeks utama seperti S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average mencatat reli solid dan berulang kali menorehkan All-Time High (ATH) baru sepanjang 2025.
Capaian tersebut, menurut Bryan, tidak lepas dari euforia AI yang mendorong kinerja saham teknologi. Emiten besar seperti Nvidia (NVDA) dan Palantir (PLTR) menjadi contoh nyata, dengan harga saham yang kembali mencetak rekor tertinggi baru.
Tren serupa juga tercermin di dalam negeri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus ATH di level 8.616 poin, melonjak sekitar 45 persen dibandingkan titik terendah 5.987 pada April 2025.
Di sisi lain, aset kripto turut mencuri perhatian. Bitcoin (BTC) sempat melesat hingga menyentuh ATH di atas 126 ribu dolar AS atau sekitar Rp2,11 miliar pada triwulan III 2025, sebelum terkoreksi dan bergerak di bawah level 100 ribu dolar AS.
Sementara itu, emas kembali menegaskan perannya sebagai instrumen safe-haven. Logam mulia tersebut mencapai harga 4.381 dolar AS per troy ons pada Oktober 2025, setara dengan Rp73,34 juta.
Namun demikian, Bryan mengingatkan adanya risiko pada valuasi saham Amerika Serikat, khususnya saham-saham berbasis AI. Rasio Price-to-Earnings (P/E) dinilai telah melampaui level puncak era dot-com tahun 2000, sebuah periode yang sarat spekulasi.
Kondisi itu memicu kekhawatiran akan terbentuknya “AI Bubble”. Kekhawatiran tersebut kian menguat dengan bayang-bayang utang nasional Amerika Serikat yang telah menembus lebih dari 38 triliun dolar AS. Dalam situasi seperti ini, emas dinilai tetap menjadi pilihan perlindungan nilai favorit dengan peluang mencetak rekor baru.
Meski demikian, optimisme investor terhadap masa depan pasar investasi masih terjaga, khususnya pada platform investasi digital Nanovest. Tingkat kepercayaan tercatat tetap solid.
Chief Marketing Officer Nanovest, Jovita Widjaja, mengungkapkan bahwa volume transaksi di platform tersebut melonjak signifikan. Sepanjang tahun ini, terjadi peningkatan sebesar 95 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Lonjakan hampir dua kali lipat pada volume perdagangan menjadi sinyal bahwa semakin banyak investor Indonesia yang menaruh keyakinan pada potensi pasar global untuk diadopsi dan dikembangkan di dalam negeri,” tuturnya.(*)