Logo
>

BBRI, BBCA, BMRI Hijau Royo-royo, Asing Semakin Getol Buang Saham

BBRI, BBCA, dan BMRI kompak menguat di sesi I, namun investor asing justru melakukan net foreign sell hingga ratusan miliar rupiah di tengah reli pasar.

Ditulis oleh Yunila Wati
BBRI, BBCA, BMRI Hijau Royo-royo, Asing Semakin Getol Buang Saham
BBRI ditutup di level 2.850 atau naik 60 poin atau 2,15 persen, tapi nilai net foreign sell mencapai Rp461,46 miliar. (Foto: dok BBRI)

KABARBURSA.COM – Reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama Rabu, 10 Juni 2026 tidak hanya mengangkat saham-saham teknologi dan komoditas, tetapi juga mengembalikan minat beli pada kelompok perbankan berkapitalisasi jumbo. 

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sama-sama ditutup di zona hijau dengan kenaikan yang cukup signifikan.

Namun di balik penguatan tersebut, investor asing justru memanfaatkannya untuk melakukan aksi ambil untung atau profit taking dalam jumlah besar. Fenomena ini terlihat dari daftar Top Net Foreign Sell, di mana tiga saham perbankan tersebut masuk dalam empat besar saham yang paling banyak dilepas investor asing pada perdagangan tengah hari ini.

BBRI menjadi emiten yang mengalami tekanan jual asing paling besar. Nilai net foreign sell mencapai Rp461,46 miliar dengan volume bersih mencapai 162,41 juta saham. Posisi ini menjadikan BBRI sebagai saham yang paling banyak dilepas asing pada sesi pertama.

Padahal, dari sisi pergerakan harga, BBRI tampil cukup solid. Saham bank pelat merah tersebut ditutup di level 2.850 atau naik 60 poin atau 2,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Harga dibuka di level 2.790, kemudian bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi 2.910 sebelum sempat turun ke level terendah 2.730. Rata-rata harga transaksi berada di level 2.841.

Aktivitas perdagangan BBRI juga menjadi yang paling ramai di antara ketiga big banks. Nilai transaksi mencapai Rp1,32 triliun dengan volume mencapai 4,66 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 70,35 ribu kali. 

BBCA Naik Impresif

Situasi serupa juga terjadi pada BBCA. Saham bank swasta terbesar di Indonesia itu justru mencatat kenaikan paling impresif di antara ketiga emiten. BBCA ditutup di level 5.450 atau melonjak 300 poin atau 5,83 persen.

Sejak pembukaan di level 5.175, saham ini langsung bergerak agresif hingga menyentuh level tertinggi 5.525 dan tidak pernah turun di bawah harga pembukaan. Rata-rata harga transaksi berada di level 5.366, mencerminkan dominasi tekanan beli sepanjang sesi pertama.

Di balik kenaikan hampir enam persen tersebut, investor asing justru melakukan distribusi cukup besar. Data menunjukkan net foreign sell BBCA mencapai Rp279,71 miliar dengan volume bersih sebanyak 52,12 juta saham. 

Nilai transaksi BBCA bahkan menjadi yang terbesar di antara ketiga emiten, mencapai Rp2,32 triliun dengan volume 4,33 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 69,03 ribu kali.

Artinya, setiap kenaikan harga langsung dimanfaatkan oleh sebagian investor asing untuk merealisasikan keuntungan setelah saham mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

BMRI Naik Terbatas

Sementara itu, BMRI juga bergerak positif meski kenaikannya relatif lebih terbatas dibandingkan dua pesaingnya. Saham Bank Mandiri ditutup di level 4.170 atau naik 80 poin atau 1,96 persen.

BMRI dibuka pada level 4.100, kemudian sempat menyentuh level tertinggi 4.240 sebelum bergerak turun ke level terendah 4.050. Harga rata-rata transaksi tercatat di level 4.165.

Nilai transaksi BMRI mencapai Rp877,83 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 2,11 juta lot dan frekuensi transaksi 43,79 ribu kali. Meski aktivitasnya lebih rendah dibandingkan BBRI dan BBCA, tekanan jual asing tetap terlihat cukup besar dengan net foreign sell mencapai Rp165,94 miliar atau sekitar 39,84 juta saham.

Jika dibandingkan secara langsung, terdapat perbedaan pola menarik pada ketiga emiten tersebut.

BBRI menjadi saham dengan tekanan jual asing paling besar sekaligus volume perdagangan tertinggi. Nilai net foreign sell mencapai Rp461,46 miliar, jauh di atas BBCA dan BMRI. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing lebih agresif mengurangi eksposur pada saham BBRI meskipun harga masih mampu naik 2,15 persen.

BBCA justru menjadi saham dengan performa harga terbaik. Kenaikan 5,83 persen merupakan yang tertinggi di antara kelompok big banks. Namun kenaikan tersebut ternyata tidak membuat investor asing menambah akumulasi, melainkan menjadi momentum untuk melepas saham senilai Rp279,71 miliar.

Sementara BMRI berada di posisi paling defensif. Kenaikan harga sebesar 1,96 persen disertai net foreign sell Rp165,94 miliar menunjukkan tekanan distribusi yang lebih kecil dibandingkan dua emiten lainnya.

Artinya, reli sektor perbankan pada sesi pertama lebih banyak ditopang oleh kekuatan investor domestik yang mampu menyerap aksi jual asing. Ketika harga bergerak naik signifikan, investor asing memilih mengamankan keuntungan, sedangkan pelaku pasar lokal memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan akumulasi.

Selama minat beli domestik tetap kuat, aksi taking profit asing belum tentu menjadi ancaman bagi tren kenaikan jangka pendek. Namun besarnya distribusi pada BBRI, BBCA, dan BMRI juga menjadi sinyal bahwa pelaku pasar perlu mewaspadai potensi profit taking lanjutan apabila IHSG mulai kehilangan momentum pada sesi perdagangan berikutnya.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79