KABARBURSA.COM - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan terakhir memberikan konfirmasi bahwa pasar masih berada dalam fase pemulihan jangka pendek setelah tekanan kuat yang terjadi sebelumnya. Pada perdagangan terakhir, Jumat, 30 Januari 2026, IHSG ditutup menguat 1,18 persen ke level 8.329, dengan karakter penguatan yang ditopang dominasi volume pembelian.
Capaian ini sekaligus memenuhi area penguatan minimal yang sebelumnya diproyeksikan, dan sekaligus menandakan respons pasar yang relatif disiplin terhadap area teknikal yang dipantau pelaku pasar.
Dari sudut pandang struktur pergerakan, posisi IHSG saat ini diperkirakan telah berada di bagian akhir wave (a) dari wave [x]. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa ruang kenaikan lanjutan mulai terbatas dalam jangka sangat pendek. Dengan begitu, kewaspadaan terhadap potensi koreksi menjadi relevan menjelang perdagangan Senin, 2 Februari 2026.
Area koreksi yang perlu dicermati berada di rentang 7.945 hingga 8.189, yang secara teknikal berpotensi menjadi zona konsolidasi apabila tekanan jual kembali muncul. Di sisi lain, selama momentum beli masih terjaga, area penguatan lanjutan diproyeksikan berada di kisaran 8.527 hingga 8.812, dengan level resistensi terdekat di sekitar 8.341 dan 8.590. Support utama IHSG berada di 7.985 dan 7.762, yang menjadi area krusial untuk menjaga struktur tren jangka pendek tetap positif.
ASII, DAAZ, ESSA, MBMA di Zona Rekomendasi
Di level saham, pergerakan Astra International (ASII) menunjukkan dinamika yang lebih defensif. Saham ini terkoreksi 1,93 persen ke level 6.350 dan disertai tekanan jual yang mulai terlihat. Secara struktur gelombang, ASII diperkirakan berada di bagian awal wave B dari wave (4), yang umumnya ditandai dengan fluktuasi harga dan potensi pelemahan lanjutan sebelum menemukan keseimbangan baru.
Dalam konteks ini, pendekatan buy on weakness menjadi relevan, dengan area beli yang berada di rentang 6.200 hingga 6.325. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, ruang pemulihan teknikal tetap terbuka dengan target di area 6.600 hingga 6.800, sementara risiko perlu dikendalikan apabila harga turun di bawah 5.975.
Sementara itu, pergerakan PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) menampilkan karakter yang berbeda. Saham ini melonjak 11,01 persen ke level 3.730 dan didominasi oleh volume pembelian yang kuat. Penguatan tersebut juga berhasil membawa harga bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari, memperkuat indikasi perubahan momentum jangka pendek.
Secara teknikal, posisi DAAZ diperkirakan berada di awal wave B dari wave (B), yang membuka peluang kelanjutan penguatan setelah fase konsolidasi. Area buy on weakness berada di kisaran 3.540 hingga 3.670, dengan proyeksi target harga di 3.900 hingga 4.340. Area di bawah 3.350 menjadi batas risiko yang perlu diperhatikan.
Untuk saham ESSA, tekanan jual kembali muncul setelah harga terkoreksi 2,24 persen ke level 655. Struktur pergerakan menunjukkan bahwa ESSA diperkirakan berada di awal wave (a) dari wave [y], yang secara umum mencerminkan fase penyesuaian sebelum arah berikutnya terbentuk.
Dalam kondisi ini, pendekatan buy on weakness dinilai lebih terukur, dengan area beli di rentang 610 hingga 645. Selama level tersebut mampu menahan tekanan, peluang pemulihan ke area 710 hingga 750 tetap terbuka, dengan batas risiko di bawah 585.
Adapun MBMA masih bergerak dalam tekanan jual setelah terkoreksi 2,78 persen ke level 700. Saham ini diperkirakan berada di awal wave B dari wave (B) pada struktur yang lebih besar, sehingga pergerakannya cenderung fluktuatif dan membutuhkan kehati-hatian lebih tinggi.
Strategi speculative buy menjadi pendekatan yang digunakan, dengan area akumulasi di kisaran 665 hingga 700. Target teknikal berada di area 755 hingga 780, sementara level di bawah 645 menjadi batas pengendalian risiko.
Secara keseluruhan, perdagangan awal Februari 2026 dibuka dengan IHSG yang masih berada dalam fase teknikal positif, namun mulai mendekati area rawan koreksi jangka pendek. Dominasi volume beli pada penguatan terakhir memberikan dukungan awal, tetapi struktur gelombang mengisyaratkan bahwa selektivitas dan disiplin pada area harga menjadi kunci. Pada level saham, peluang tetap terbuka melalui strategi buy on weakness dan speculative buy, dengan fokus pada manajemen risiko seiring pasar yang bergerak semakin volatil pasca reli singkat.(*)