KABARBURSA.COM – Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menutup perdagangan 30 April 2026 di zona merah. Harganya turun 100 poin atau 2,43 persen ke level Rp4.010, setelah sempat dibuka di Rp4.150 dan bergerak di rentang harian Rp3.970–Rp4.150.
Tekanan paling mencolok datang dari transaksi asing. Pada perdagangan 30 April 2026, investor asing membukukan beli Rp16,34 miliar, tetapi jualnya jauh lebih besar, yakni Rp32,76 miliar. Alhasil, CPIN mencatatkan net foreign sell Rp16,42 miliar dalam sehari.
Pergerakan ini membuat CPIN kembali berada sangat dekat dengan target terendah analis di Rp4.000. Posisi harga terakhir Rp4.010 hanya berjarak tipis dari batas bawah konsensus, sementara target rata-rata analis masih berada di Rp5.564. Adapun target tertinggi berada di Rp6.800.
Dalam sepekan perdagangan terakhir yang tersedia, CPIN bergerak tidak stabil. Pada 27 April 2026, saham ini turun 1,69 persen ke Rp4.070 dengan net foreign sell Rp1,94 miliar. Dua hari berikutnya CPIN sempat mencoba pulih, masing-masing naik 0,49 persen ke Rp4.090 pada 28 April dan Rp4.110 pada 29 April.
Namun pemulihan itu patah pada 30 April. Nilai transaksi melonjak menjadi Rp39,12 miliar, jauh lebih besar dibanding Rp11,88 miliar pada 29 April dan Rp9,79 miliar pada 28 April. Volume juga naik ke 97.360 lot dengan frekuensi 5.610 kali, menunjukkan tekanan jual terjadi saat aktivitas pasar meningkat.
Dari sisi arus asing, pola CPIN juga berubah cepat. Setelah mencatat net foreign buy Rp3,57 miliar pada 28 April dan Rp322,91 juta pada 29 April, saham ini langsung berbalik mencatat net sell besar pada 30 April. Perubahan ini menjadi sinyal paling menonjol dalam data perdagangan sepekan.
Meski harga saham sedang tertekan, konsensus analis masih cenderung positif. Dari 21 analis yang memantau CPIN, sebanyak 19 memberikan rekomendasi buy, dua hold, dan tidak ada rekomendasi sell. Artinya, tekanan harga jangka pendek belum mengubah posisi mayoritas analis terhadap saham emiten unggas tersebut.
Namun proyeksi kinerja CPIN tidak sepenuhnya agresif untuk 2026. Konsensus memperkirakan pendapatan naik dari Rp70,70 triliun pada 2025 menjadi Rp75,31 triliun pada 2026. Di sisi lain, laba bersih justru diproyeksikan turun dari Rp5,64 triliun menjadi Rp5,31 triliun, sebelum kembali naik ke Rp5,90 triliun pada 2027.
Gambaran serupa terlihat pada estimasi laba usaha dan EPS. Laba usaha diproyeksikan turun dari Rp8,13 triliun pada 2025 menjadi Rp7,43 triliun pada 2026, lalu naik lagi ke Rp8,23 triliun pada 2027. EPS juga diperkirakan turun dari 344,18 menjadi 326,92 pada 2026, sebelum naik ke 363,44 pada 2027.
Dengan data tersebut, CPIN sedang berada di titik yang cukup sensitif. Harga saham turun mendekati target bawah analis, asing mencatat jual bersih besar, tetapi mayoritas analis masih memasang rekomendasi buy. Perdagangan berikutnya akan memperlihatkan apakah area Rp4.000 menjadi penahan, atau justru membuka ruang tekanan baru.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.