KABARBURSA.COM – Perdagangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 9 April 2026, ditutup melemah dengan tekanan jual asing yang masih dominan di seluruh pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.268,03 atau turun 11,18 poin setara 0,15 persen hingga pertengahan hari.
Data Stockbit Sekuritas menunjukkan nilai pembelian asing sebesar Rp2,45 triliun, sementara penjualan mencapai Rp3,56 triliun hingga sesi I. Arus dana asing masih mencatatkan net sell di seluruh pasar pada sesi I, mengacu pada data Foreign-Domestic Activity, Kamis, 9 April 2026.
Dari sisi komposisi transaksi, investor domestik mendominasi dengan porsi 65,93 persen, sementara asing hanya 34,07 persen. Nilai transaksi domestik tercatat Rp6,37 triliun untuk pembelian dan Rp5,27 triliun untuk penjualan.
Secara keseluruhan, aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi. Total volume transaksi mencapai 166,36 juta lot dengan nilai Rp8,84 triliun dan frekuensi 1,33 juta kali transaksi di seluruh pasar.
Pada pasar reguler, volume transaksi tercatat 164,37 juta lot dengan nilai Rp8,65 triliun dan frekuensi yang sama, yakni 1,33 juta kali. Data ini menunjukkan likuiditas pasar tetap terjaga di tengah tekanan jual asing.
Secara volume, aktivitas asing juga tertinggal dibanding domestik. Total volume beli asing tercatat 2,55 miliar saham, sedangkan jual asing mencapai 3,98 miliar saham, menghasilkan porsi hanya 21,38 persen dari total transaksi volume pasar.
Meski secara agregat masih mencatatkan net sell, sejumlah saham justru mengalami akumulasi asing pada sesi I. Berdasarkan data Top 20 Net Foreign Buy Midday, saham ESSA memimpin dengan net buy 19,89 juta saham, diikuti BUKA sebesar 16,68 juta saham dan NSSS sebesar 14,12 juta saham.
Saham lain yang masuk daftar akumulasi asing antara lain KAQI dengan net buy 13,08 juta saham, COAL sebesar 12,31 juta saham, serta TAPG sebesar 7,77 juta saham. Di sektor ritel dan konsumsi, MAPI mencatat net buy 6,70 juta saham, sementara ERAA sebesar 5,42 juta saham.
Pada sektor media dan digital, EMTK mencatat net buy 5,83 juta saham, disusul SCMA sebesar 3,82 juta saham. Sementara itu, saham properti seperti LPKR dan LAPD juga masuk dalam radar akumulasi asing dengan masing-masing 5,72 juta dan 4,68 juta saham.
Di sisi lain, aktivitas broker menunjukkan dominasi transaksi oleh sejumlah sekuritas besar. Stockbit Sekuritas Digital (XL) mencatat nilai transaksi tertinggi sebesar Rp2,47 triliun, diikuti UBS Sekuritas Indonesia (AK) sebesar Rp2,39 triliun dan Mandiri Sekuritas (CC) sebesar Rp1,61 triliun.
Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) juga masuk lima besar dengan masing-masing Rp1,1 triliun dan Rp1,05 triliun. Aktivitas ini mencerminkan likuiditas pasar yang tetap terjaga meski terjadi tekanan jual asing.(*)