KABARBURSA.COM — Pergerakan dana asing melalui broker J.P. Morgan Sekuritas Indonesia pada 20 Februari 2026 memperlihatkan satu pola yang tegas. Arus modal global tidak sekadar masuk ke pasar saham domestik, tetapi memilih sektor secara selektif. Bank-bank besar menjadi tujuan utama, sementara saham berbasis hilirisasi dan konsumsi justru dilepas dalam jumlah besar.
Sejak awal perdagangan, akumulasi sudah terlihat di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Nilai beli bersih terus menanjak dari Rp45,8 miliar pada pukul 09.14 hingga ditutup di kisaran Rp84 miliar pada akhir sesi. Kenaikan yang nyaris tanpa jeda itu menunjukkan pola pembelian terstruktur, bukan transaksi spekulatif harian.

Di saat yang sama, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut dikoleksi. Posisi beli bersih meningkat dari Rp15,4 miliar pada pertengahan sesi menjadi Rp33,7 miliar saat penutupan. Masuknya dana ke dua bank berkapitalisasi besar itu menandakan bahwa investor global kembali menjadikan sektor perbankan sebagai jangkar likuiditas di tengah ketidakpastian global.
Pola berbeda justru terjadi di saham berbasis komoditas hilirisasi. PT Merdeka Battery Materials Tbk atau MBMA menjadi yang paling dalam dilepas dengan posisi jual bersih mencapai Rp28,1 miliar. Tekanan juga terlihat pada PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM yang mencatatkan net sell Rp22,9 miliar.

Saham konsumer PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ikut keluar dari radar akumulasi dengan nilai jual bersih Rp26 miliar.
Di tengah pelepasan itu, ada satu anomali. PT AlamTri Resources Indonesia Tbk (ADRO) justru mengalami lonjakan beli bersih pada akhir sesi hingga Rp24,6 miliar. Padahal, tak lama setelah sesi pembukaan, ADRO sempat dilepas Rp1,5 miliar. Kenaikan yang terjadi mendekati penutupan perdagangan mengindikasikan pembentukan posisi jangka menengah, bukan sekadar respons intraday.

Perpindahan dana tersebut mencerminkan rotasi sektor. Asing tidak sedang keluar dari Indonesia, tetapi mengalihkan portofolio ke instrumen yang dianggap paling stabil dan likuid. Bank besar selama ini menjadi proksi pertumbuhan ekonomi domestik. Kinerja yang ditopang ekspansi kredit, stabilitas margin bunga bersih, serta posisi sebagai penopang likuiditas sistem keuangan membuat sektor ini lebih defensif terhadap gejolak eksternal.
Sebaliknya, saham berbasis hilirisasi nikel yang dalam dua tahun terakhir menjadi primadona mulai kehilangan momentum jangka pendek. Tekanan harga komoditas global dan ketidakpastian permintaan membuat investor global mengambil posisi lebih konservatif. Pergerakan ini juga mengirim sinyal lain. Strategi dana asing kini lebih selektif, tidak lagi menyapu bersih tema besar seperti hilirisasi, tetapi memilih emiten dengan fundamental likuiditas paling kuat.
Asing Berbalik Arah
Arus modal asing di Bursa Efek Indonesia mulai menunjukkan perubahan arah setelah sempat keluar besar-besaran pada awal tahun. Data perdagangan memperlihatkan bagaimana saham perbankan yang sebelumnya menjadi sumber tekanan justru kembali menjadi target akumulasi.
Pada 29 Januari 2026, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih hingga Rp5,11 triliun. Sepanjang tahun berjalan, nilai net sell bahkan telah mencapai Rp11,42 triliun. Tekanan terbesar saat itu terjadi pada saham-saham berkapitalisasi jumbo, seperti BBCA, BMRI, BBRI, ANTM, dan BUMI. Sejalan dengan aksi jual tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 1,06 persen ke level 7.922.
Kondisi itu menegaskan sektor perbankan sempat menjadi sumber utama arus keluar dana global. Penurunan kepemilikan asing di saham bank besar terjadi bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap pasar negara berkembang.
Dalam siklus pergerakan dana global, fase net sell besar sering diikuti oleh periode re-entry secara bertahap pada saham dengan fundamental paling kuat. Perbankan nasional, yang selama ini menjadi proxy pertumbuhan ekonomi domestik, kembali menjadi pintu masuk utama.
Masuknya kembali dana asing ke bank besar juga memberi sinyal bahwa investor global mulai melihat valuasi yang lebih menarik setelah koreksi sebelumnya.
Di sisi lain, perubahan arah ini memperlihatkan adanya proses reposisi portofolio. Investor yang sebelumnya menurunkan eksposur kini kembali meningkatkan bobot pada sektor yang sama, tetapi pada harga yang lebih rendah. Fenomena tersebut memperkuat indikasi bahwa pasar sedang bergerak dari fase distribusi menuju fase akumulasi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.