Logo
>

BEI: 15 Perusahaan Masuk Pipeline IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa jumlah tersebut mencerminkan kondisi pipeline yang masih aktif

Ditulis oleh Desty Luthfiani
BEI: 15 Perusahaan Masuk Pipeline IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, saat berbicara kepada wartawan di main hall BEI, Jakarta. (Foto: KabarBursa/Hutama Prayoga)

KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat minat perusahaan untuk melantai di pasar saham masih terjaga hingga awal kuartal II 2026.

Hingga akhir pekan, atau Jumat 10 April 2026, terdapat 15 perusahaan yang masuk dalam pipeline pencatatan saham BEI.

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa jumlah tersebut mencerminkan kondisi pipeline yang masih aktif.

“Terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip Ahad, 12 April 2026.

Pipeline sendiri merupakan daftar perusahaan yang sedang dalam proses menuju IPO, mulai dari tahap pengajuan dokumen, evaluasi oleh regulator, hingga menunggu jadwal pencatatan saham di bursa. Dengan kata lain, perusahaan dalam pipeline belum tercatat, tetapi sudah berada dalam jalur menuju pasar modal.

Dari sisi fundamental, mayoritas perusahaan yang berada dalam pipeline tergolong memiliki skala usaha besar. Berdasarkan klasifikasi POJK Nomor 53/POJK.04/2017, sebanyak 11 perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Sementara itu, 4 perusahaan berada dalam kategori aset menengah dengan nilai aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan tidak terdapat perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar.

Secara sektoral, pipeline IPO didominasi oleh sektor healthcare dengan porsi sebesar 26,7 persen atau sebanyak 4 perusahaan. Dominasi ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan dan ekspansi bisnis di sektor kesehatan dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, sektor consumer non-cyclicals diisi oleh 3 perusahaan, diikuti consumer cyclicals sebanyak 2 perusahaan. Sektor infrastructures dan technology masing-masing menyumbang 2 perusahaan, sementara sektor energy dan financials masing-masing diisi oleh 1 perusahaan. Tidak terdapat perusahaan dari sektor basic materials, industrials, properties dan real estate, serta transportation dan logistik dalam pipeline IPO saat ini.

Di sisi lain, aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen obligasi atau efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) juga menunjukkan tren yang kuat. Hingga saat ini telah diterbitkan 50 emisi dari 33 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp55,20 triliun.

Sementara itu, terdapat 40 emisi dari 28 penerbit yang masih berada dalam pipeline obligasi. Sektor financials menjadi yang paling dominan dengan porsi sebesar 52,5 persen atau sebanyak 14 perusahaan.

Disusul sektor infrastructures sebanyak 7 perusahaan atau sekitar 22,5 persen, kemudian sektor energy sebanyak 3 perusahaan. Adapun sektor basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing menyumbang 2 perusahaan.

Untuk aksi korporasi rights issue, hingga 10 April 2026 telah terdapat 3 perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun. Rights issue merupakan aksi penambahan modal dengan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru.

Saat ini, masih terdapat 1 perusahaan dalam pipeline rights issue yang berasal dari sektor properties dan real estate, atau setara 100 persen dari total pipeline rights issue tersebut.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih menjadi salah satu alternatif pendanaan yang menarik bagi dunia usaha. Dengan pipeline IPO yang masih mencapai 15 perusahaan, BEI menegaskan bahwa minat perusahaan untuk masuk ke bursa tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global.

Sebelumnya, Nyoman sempat membeberkan proses IPO-nya nanti tidak kurang dari Juni 2026.

“Harapan kita memang pencatatannya sekitar bulan ini, maksimal bulan Juni,” ujarnya di Gedung BEI, Jakarta pada Jumat, 10 April 2026 lalu.

Pipeline IPO terus meningkat, artinya ada banyak minat perusahaan-perusahaan untuk melantai ke bursa dari yang sebelumnya hanya 12 di 5 April 2026 kemudian naik 13 perusahaan. Dan saat ini ada 14 perusahaan lagi yang sedang antre.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".