KABARBURSA.COM – PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) membeberkan arah penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) yang akan menjadi kunci ekspansi bisnis ke depan. Mayoritas dana segar tersebut akan difokuskan untuk aksi akuisisi strategis, sementara sisanya digunakan untuk memperkuat operasional dan ekspansi jaringan logistik.
Direktur Utama BSA Logistics, Edwin Wibowo, menegaskan bahwa seluruh langkah ini tetap mengacu pada visi besar perusahaan untuk membangun ekosistem logistik terintegrasi di Indonesia, dari darat hingga laut.
“Kami tetap kan visi kami adalah menjadi perusahaan logistik yang paling terintegrasi di Indonesia,” ujar Edwin di Main Hall BEI, Jakarta pada Jumat, 10 April 2026.
Dalam dokumen prospektus, BSA mengalokasikan sekitar Rp215 miliar atau porsi terbesar dana IPO untuk mengakuisisi 99,99 persen saham BIL. Entitas ini merupakan perusahaan holding yang memiliki anak usaha operasional di sektor logistik, termasuk angkutan laut dan aktivitas pendukung pertambangan.
Langkah akuisisi ini menjadi pintu masuk BSA ke bisnis shipping, yang selama ini belum dimiliki secara langsung oleh perseroan. Dengan masuk ke sektor pelayaran, BSA ingin melengkapi rantai layanan logistiknya yang saat ini sudah mencakup trucking, warehousing, dan trade.
“Yang saat ini kami sudah meng-cover di trucking, di warehousing, di trade, dan nantinya juga ada shipping,” kata Edwin.
Rencana ini tidak berhenti di atas kertas. Manajemen menegaskan bahwa setelah IPO, perusahaan akan langsung bergerak mengikuti proses akuisisi yang telah disiapkan, termasuk menyesuaikan dengan regulasi yang berlaku.
“Jadi itu sebenarnya rencana setelah IPO ini kami ada rencana untuk akuisisi perusahaan shipping,” ujarnya.
Secara strategis, akuisisi ini dinilai sangat krusial karena menyasar salah satu kelemahan utama industri logistik nasional, yakni belum terintegrasinya antar moda transportasi. Selama ini, ketidaksinkronan antara kapal, truk, dan gudang kerap memicu waktu tunggu yang panjang dan biaya logistik yang tinggi.
“Problemnya di Indonesia itu adalah terlalu banyak uncertainties, kapal harus tunggu, truknya belum datang, atau sebaliknya,” tutur Edwin.
Selain untuk akuisisi, sisa dana IPO akan digunakan sebagai modal kerja. Penggunaan ini mencakup berbagai kebutuhan operasional, mulai dari pembiayaan transportasi, pembayaran kepada vendor, pengelolaan arus kas, hingga mendukung peningkatan volume pengiriman.
BSA juga akan memanfaatkan dana tersebut untuk memperluas jaringan logistik multimoda, termasuk membuka rute baru dan meningkatkan kapasitas layanan. Hal ini penting seiring meningkatnya kebutuhan distribusi barang di berbagai wilayah Indonesia.
Saat ini, BSA memiliki sekitar 1.000 armada sendiri dan juga mengandalkan kerja sama dengan vendor lokal di berbagai daerah seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Model kemitraan ini menjadi salah satu strategi perusahaan untuk mempercepat ekspansi sekaligus memberdayakan pelaku usaha lokal.
“Kami sebenarnya dengan logistik yang terintegrasi, kebanyakan dari armada kita kita juga bekerja dengan vendor,” kata Edwin.
Dari sisi bisnis, akuisisi BIL juga memberikan nilai tambah berupa akses ke sektor pertambangan dan komoditas, yang dikenal memiliki volume logistik besar dan kebutuhan transportasi berkelanjutan. Hal ini membuka peluang pertumbuhan jangka panjang bagi BSA, sekaligus memperluas basis pelanggan.
Tidak hanya itu, integrasi pasca akuisisi juga akan memperkuat posisi BSA di pasar logistik B2B.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan tekanan pasar, manajemen tetap optimistis terhadap prospek industri logistik. Kebutuhan distribusi barang yang terus meningkat dinilai menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan bisnis ke depan.(*)