Logo
>

Kredit BMRI Tumbuh 18,5 Persen, Asing Masih Keluar Deras?

BMRI membukukan laba Rp18,1 triliun dengan kredit tumbuh 18,5 persen. Namun asing justru keluar Rp310 miliar dan porsi saham publik turun ke 38,44 persen.

Ditulis oleh Yunila Wati
Kredit BMRI Tumbuh 18,5 Persen, Asing Masih Keluar Deras?
DPK BMRI ikut bertumbuh 16,6 persen menjadi Rp1.650 triliun, meskipun asing masih melakukan jual bersih Rp626,94 miliar. (Foto: dok Bank Mandiri)

KABARBURSA.COM - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI kembali mencatat pertumbuhan kinerja agresif pada empat bulan pertama 2026. Per April 2026, laba bersih bank only BMRI mencapai Rp18,1 triliun atau naik 18,9 persen secara tahunan.

Kenaikan laba tersebut berjalan seiring pertumbuhan kredit yang mencapai 18,5 persen menjadi Rp1.550 triliun. Total aset BMRI juga naik menjadi Rp2.245 triliun dari sebelumnya Rp1.933 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini, mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang penguatan ekosistem bisnis dan akselerasi layanan digital. Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri disebut menjadi motor utama aktivitas transaksi dan pengelolaan keuangan nasabah.

Dana pihak ketiga atau DPK BMRI juga tumbuh 16,6 persen menjadi Rp1.650 triliun. Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, BMRI tetap menjaga disiplin pengelolaan risiko sambil memperluas pembiayaan sektor prioritas nasional seperti KUR, UMKM, hilirisasi hingga program MBG.

Jumlah Pemegang Saham Bertambah, Free Float Susut

Namun di tengah pertumbuhan kinerja tersebut, pasar justru membaca sinyal lain dari struktur kepemilikan sahamnya. Per April 2026, jumlah pemegang saham BMRI memang bertambah 26.408 investor menjadi 308.605 pemegang saham.

Akan tetapi, porsi saham publik atau free float justru turun menjadi 38,44 persen. Pada saat bersamaan, kepemilikan kolektif direksi dan komisaris juga tercatat berkurang sebanyak 4.244.800 saham.

Kondisi itu membuat pasar mulai memperhatikan arah distribusi saham BMRI di tengah kenaikan jumlah investor ritel. Sebab dalam beberapa kasus, kenaikan jumlah pemegang saham tidak selalu sejalan dengan peningkatan distribusi kepemilikan publik secara proporsional.

Asing Jual Bersih Rp626,94 miliar 

Pergerakan saham BMRI sendiri terlihat masih berada dalam fase konsolidasi dengan tekanan asing yang cukup besar. Dalam empat perdagangan terakhir sejak 21 Mei hingga 25 Mei 2026, asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp626,94 miliar.

Rinciannya, net sell asing mencapai Rp141,50 miliar pada 21 Mei, Rp287,86 miliar pada 22 Mei, dan Rp197,58 miliar pada 25 Mei. Sementara itu, net buy asing hanya terlihat pada 18 Mei sebesar Rp84,87 miliar, 19 Mei Rp14,38 miliar, dan 20 Mei Rp217,73 miliar.

Jika ditotal selama enam hari perdagangan terakhir, asing masih membukukan net sell sekitar Rp310 juta. Tekanan distribusi asing tersebut terjadi di tengah pergerakan harga saham yang relatif tertahan di area 4.100 hingga 4.300.

Pada perdagangan 26 Mei 2026, saham BMRI ditutup turun 20 poin atau melemah 0,47 persen ke level 4.200. Nilai transaksi mencapai Rp255,92 miliar dengan volume perdagangan 609,21 ribu lot dan frekuensi 18,40 ribu kali.

Sebelumnya, saham BMRI sempat rebound 2,43 persen pada 25 Mei 2026 ke level 4.220. Namun penguatan tersebut belum mampu membawa saham keluar dari tekanan distribusi jangka pendek.

Area Resistance Penting BMRI

Secara teknikal, area 4.300 kini menjadi resistance penting bagi BMRI. Saham ini beberapa kali gagal bertahan di atas area tersebut dalam sepekan terakhir.

Sementara area support jangka pendek mulai terbentuk di kisaran 4.100 hingga 4.040. Bila tekanan asing masih berlanjut, area tersebut menjadi level yang akan diuji pasar dalam perdagangan berikutnya.

Di sisi lain, fundamental BMRI sebenarnya masih relatif kuat dibanding mayoritas bank besar lain. Pertumbuhan kredit dua digit, kenaikan laba bersih, dan ekspansi digital masih menjadi faktor utama yang menjaga optimisme investor jangka panjang.

Namun pasar saat ini tampaknya belum hanya membaca pertumbuhan laba. Investor juga mulai memperhatikan struktur kepemilikan saham, arah arus dana asing, dan kemampuan BMRI menjaga kualitas pertumbuhan di tengah persaingan likuiditas perbankan yang semakin ketat.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79