KABARBURSA.COM - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau dalam kode saham BBRI menegaskan komitmennya dalam memberikan imbal hasil kepada pemegang saham melalui pembagian dividen jumbo, di tengah tekanan ekonomi global yang meningkat pada awal 2026.
Dalam paparan kinerja kuartal I 2026, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa perseroan tetap mampu menjaga pertumbuhan yang sehat sekaligus mempertahankan fundamental bisnis yang kuat.
Hery menyebut dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar pada 10 April 2026 lalu, BRI telah menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp52,102 triliun atau Rp346 per saham. Keputusan ini mencerminkan rasio pembayaran dividen yang mencapai sekitar 92 persen dari laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
“Menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp52,102 triliun atau Rp346 per lembar saham,” ujar Hery dalam pemaparannya laporan kinerja keuangan triwulan I tahun 2026 secara daring pada Kamis, 30 April 2026.
Jumlah Rp346 adalah total dividen yang dibagikan. Menilik jadwal pembagian dividennya. Cum date 20 April 2026, ex date 21 April 2026, tanggal pencatatan 22 April 2026 dan tanggal dibagikan 8 Mei 2026. Nominal yang akan dibagikan Rp209 per lembar untuk dividen final. Sementara Rp137 per lembar sudah dibagikan pada 2 Januari 2026 lalu.
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan investor dan penguatan kinerja jangka panjang perusahaan.
“Hal ini mencerminkan komitmen BRI dalam menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil dan penguatan fundamental perusahaan,” katanya.
Kinerja solid yang menopang keputusan dividen tersebut terlihat dari capaian laba bersih konsolidasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp57,132 triliun, dengan laba yang dapat diatribusikan sebesar Rp56,652 triliun. Hery juga menekankan bahwa dividen yang dibagikan memiliki dampak langsung terhadap perekonomian nasional.
“Kinerja BRI tidak hanya memberikan manfaat bagi pemegang saham tetapi juga berdampak langsung terhadap pembangunan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global yang dipicu eskalasi konflik geopolitik, termasuk perang di Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, BRI tetap mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2026. Kondisi global tersebut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan inflasi global ke kisaran 3,73 persen secara tahunan, yang berdampak pada ekspektasi suku bunga yang lebih berhati-hati.
Meski demikian, ekonomi Indonesia dinilai masih cukup tangguh. Indeks keyakinan konsumen tetap berada di atas 125, sementara PMI manufaktur berada di atas level 50, menandakan aktivitas produksi masih ekspansif. Dari sisi fiskal, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan.
Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit nasional tercatat sekitar 9,37 persen, sementara dana pihak ketiga tumbuh 13,18 persen. Rasio kredit terhadap dana pihak ketiga berada di kisaran 84,72 persen, dengan rasio kecukupan modal mendekati 26 persen dan rasio kredit bermasalah sekitar 2,17 persen.
BRI sendiri mencatatkan total aset sebesar Rp2.250 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Dana pihak ketiga mencapai Rp1.555 triliun, naik 9,4 persen, ditopang pertumbuhan dana murah yang meningkat 13,2 persen menjadi Rp1.058,6 triliun.
Di sisi penyaluran kredit, BRI mencatat pertumbuhan 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun, dengan segmen UMKM tetap mendominasi sebesar Rp1.211 triliun. Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menyebut fokus pada UMKM memberikan keunggulan dalam pengelolaan risiko.
“Portofolio pembiayaan tersebar luas di jutaan nasabah mikro sehingga risiko lebih terdiversifikasi,” ujarnya.
Kinerja operasional juga menunjukkan perbaikan, dengan pre-provision operating profit (PPOP) tumbuh 7,7 persen menjadi Rp32,2 triliun. Laba bersih pada kuartal I 2026 tercatat Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan.
Dari sisi kualitas aset, loan at risk (LAR) turun dari 11,1 persen menjadi 9,7 persen, sementara rasio non-performing loan (NPL) juga membaik. Direktur Manajemen Risiko BRI Eti Yuniarti menyebut perbaikan ini sebagai hasil strategi pertumbuhan selektif dan penguatan sistem peringatan dini.
“Rasio NPL membaik dari 3,07 persen menjadi 3,01 persen,” ujarnya.
Efisiensi juga terlihat dari penurunan cost of fund dari 3 persen menjadi 2,3 persen serta cost of credit dari 3,5 persen menjadi 3,2 persen. Hal ini mendorong peningkatan profitabilitas, dengan return on asset mencapai 2,8 persen dan return on equity naik menjadi 18,4 persen.
Pendapatan bunga bersih (net interest income) tumbuh 11,9 persen menjadi Rp40,155 triliun, mencerminkan keseimbangan antara ekspansi kredit dan efisiensi biaya dana.
BRI menegaskan bahwa pertumbuhan yang diraih tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.(*)