KABARBURSA.COM - Pergerakan bursa Asia pada perdagangan Rabu, 22 April 2026 cenderung menguat. Penguatan ini terjadi seiring dengan investor yang menimbang sentimen geopolitik, lonjakan harga energi, serta arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Data LSEG menunjukkan, indeks Nikkei 225 terakhir berada di 59.366,11, naik 16,94 poin atau 0,03 persen. Indeks Hang Seng juga menguat ke 26.487,48, bertambah 126,41 poin atau 0,48 persen. Sementara itu, Shanghai Composite naik tipis 2,95 poin atau 0,07 persen ke level 4.085,08.
Di sisi lain, KOSPI sempat mencetak rekor intraday sebelum berbalik melemah. Pada 15 menit awal perdagangan, indeks berada di 6.377,42, turun 11,05 poin atau 0,17 persen. Pergerakan ini masih bersifat intraday dan dapat berubah seiring berjalannya sesi perdagangan.
Pergerakan pasar hari ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global yang saling tarik-menarik. Salah satu faktor utama adalah perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu. Meski sempat menopang sentimen, pasar tetap berhati-hati karena belum ada kepastian apakah Iran dan Israel benar-benar menyepakati langkah tersebut.
Selain itu, harga minyak yang masih tinggi turut menahan penguatan pasar. Harga West Texas Intermediate tercatat berada di kisaran USD90,12 per barel pada awal sesi Asia, setelah sebelumnya melonjak sekitar 2,8 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap tekanan biaya energi dan inflasi.
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati arah suku bunga AS setelah pernyataan pejabat yang dinilai cenderung hawkish, ditambah data penjualan ritel yang lebih kuat dari perkiraan. Kombinasi faktor ini membuat sentimen pasar tidak sepenuhnya risk-on.
Dari perspektif regional, penguatan relatif lebih terlihat di Jepang dan Korea Selatan yang ditopang sektor teknologi, khususnya tema kecerdasan buatan (AI). Minat investor terhadap saham berbasis AI kembali meningkat setelah Amazon mengumumkan rencana investasi hingga USD25 miliar ke Anthropic.
Di Korea Selatan, penguatan saham chip turut menopang indeks, sementara di Jepang data ekspor yang mencatat kenaikan selama tujuh bulan berturut-turut memberikan tambahan sentimen positif.
Sebaliknya, pasar China dan Hong Kong cenderung bergerak lebih terbatas, mencerminkan sikap investor yang masih berhati-hati terhadap ketidakpastian geopolitik dan jalur perdagangan global.
Keterkaitan dengan pasar global juga terlihat jelas. Pada sesi sebelumnya, Wall Street ditutup melemah, dengan Dow Jones turun 0,59 persen, S&P 500 terkoreksi 0,63 persen, dan Nasdaq turun 0,59 persen, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak.
Namun, pada awal perdagangan Asia, kontrak berjangka indeks utama AS menunjukkan pemulihan, dengan S&P futures naik 0,5 persen dan Nasdaq futures menguat 0,6 persen. Hal ini menunjukkan investor global belum sepenuhnya meninggalkan aset berisiko.
Sejumlah analis menilai pasar saat ini mulai melihat puncak ketidakpastian geopolitik. Senior Market Analyst di StoneX, Matt Simpson, menilai pasar sudah benar dalam mengasumsikan bahwa puncak ketidakpastian akibat perang sudah terlewati.
“Aset berisiko kemungkinan tetap bertahan kuat dan setiap pelemahan akan dipandang sebagai peluang oleh pelaku pasar saham. Penutupan Selat Hormuz juga sudah diperhitungkan dalam harga,” kata Matt.
Lebih jauh, tekanan biaya energi juga mulai terasa di kawasan Asia. Data menunjukkan harga produsen Korea Selatan pada Maret naik 4,1 persen secara tahunan, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, dengan lonjakan harga batu bara dan produk minyak mencapai 31,9 persen.
Secara keseluruhan, pasar Asia berada dalam kondisi risk-on selektif. Penguatan indeks ditopang oleh optimisme sektor teknologi dan harapan de-eskalasi konflik, namun tetap dibatasi oleh tingginya harga energi, penguatan dolar AS, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global.(*)