Logo
>

Dana Asing Mulai Masuk, Analis Prediksi Arah IHSG dan Risikonya Pekan ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat di tengah sentimen inflasi Amerika Serikat dan kebijakan Bank Sentral Jepang.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Dana Asing Mulai Masuk, Analis Prediksi Arah IHSG dan Risikonya Pekan ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat pada perdagangan pekan ini. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat pada perdagangan pekan ini, seiring mulai masuknya kembali dana investor asing dan meredanya sejumlah kekhawatiran pasar terhadap sentimen global maupun domestik.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 12 Juni 2026, IHSG berakhir di level 6.007 atau menguat 7,38 persen dibandingkan posisi sepekan sebelumnya yang sempat terkoreksi 8,69 persen. Meski sempat mengalami tekanan di awal pekan, indeks berhasil berbalik ke zona hijau hingga akhir perdagangan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan penguatan IHSG sepanjang pekan lalu ditopang kombinasi sentimen global dan domestik yang mulai membaik.

Dari eksternal, pasar mencermati kenaikan inflasi Amerika Serikat yang mencapai 4,2 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,8 persen pada bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak April 2023. Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik yang melibatkan Iran sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi.

“Meskipun inflasi yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang pemangkasan suku bunga oleh The Fed, pasar relatif merespons data tersebut secara positif,” kata Imam dalam risetnya Senin, 15 Juni 2026.

Sentimen positif lainnya datang dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meski World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,6 persen, pasar menyambut baik kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah membahas rancangan kesepakatan yang mencakup pencabutan sanksi ekspor minyak Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga energi,” ujar Imam.

Dari dalam negeri, pasar turut mencermati posisi cadangan devisa Indonesia yang turun menjadi USD144,9 miliar pada Mei 2026 dari USD146,2 miliar pada bulan sebelumnya. Meski menurun, posisi tersebut masih tergolong kuat karena setara dengan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, jauh di atas standar kecukupan internasional.

Selain itu, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui rapat di luar jadwal pada 9 Juni 2026. Kebijakan tersebut diambil untuk meredam tekanan eksternal yang sempat menekan nilai tukar rupiah.

Sentimen domestik juga mendapat dukungan dari klarifikasi Badan Pengelola Investasi Danantara terkait kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Danantara menegaskan DSI tidak akan berfungsi sebagai trading house maupun mengambil margin perdagangan, sehingga kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan arus kas dan kontrak ekspor dapat mereda.

Di sisi sektoral, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil nasional pada Mei 2026 mencapai 69.219 unit atau tumbuh 14 persen secara tahunan. Secara kumulatif, penjualan mobil selama lima bulan pertama tahun ini meningkat 12,8 persen menjadi 359.015 unit.

Sebaliknya, sektor ritel masih menghadapi tantangan setelah penjualan ritel pada April 2026 mengalami kontraksi 3,7 persen secara tahunan, berbalik dari pertumbuhan 3,4 persen pada bulan sebelumnya.

Imam juga mencatat adanya sinyal positif dari aliran dana asing yang mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Pada perdagangan akhir pekan lalu, investor asing membukukan pembelian bersih senilai Rp287,4 miliar.

Meski demikian, menurutnya angka tersebut belum cukup untuk memastikan perubahan tren secara menyeluruh.

Memasuki pekan ini yang hanya berlangsung empat hari karena libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari China dan Jepang.

Dari China, perhatian pasar tertuju pada rilis data Industrial Production yang menjadi indikator kekuatan pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur negara tersebut. Data ini dinilai penting karena China merupakan mitra dagang utama sekaligus tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia.

Sementara dari Jepang, pelaku pasar menunggu keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan naik 25 basis poin menjadi 1 persen dari sebelumnya 0,75 persen. Investor juga akan mencermati data inflasi Jepang untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.

Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, kondisi tersebut berpotensi memicu penutupan posisi carry trade dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Secara teknikal, Imam menilai IHSG masih berada dalam tren turun karena struktur pergerakannya masih membentuk lower low dan lower high. Namun, tekanan penurunan mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286,” ujarnya.

Ia menambahkan dua candle terakhir menunjukkan mulai munculnya keraguan di pasar. Setelah membentuk pola spinning top, IHSG sempat menembus area tersebut selama perdagangan berlangsung. Namun, indeks akhirnya ditutup dengan pola shooting star dan gagal menembus area resistance yang ada.

“Dengan kondisi tersebut, secara teknikal IPOT melihat IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat apabila berhasil breakout dari pola shooting star. Sebaliknya, IHSG berpotensi melemah apabila mengalami breakdown dari pola tersebut. Adapun level resistance berada di 6.286, sementara level support berada di 5.695,” kata Imam.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".