Logo
>

Dari Turun ke Hijau, IHSG 25 Maret Ditopang Lonjakan Saham Grup Bakrie

IHSG 25 Maret berbalik menguat setelah dibuka turun, ditopang lonjakan saham grup Bakrie seperti BUMI, BRMS, dan DEWA.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Dari Turun ke Hijau, IHSG 25 Maret Ditopang Lonjakan Saham Grup Bakrie
IHSG 25 Maret berbalik hijau usai dibuka turun 22 poin, didorong lonjakan saham grup Bakrie yang mendominasi transaksi. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG memulai perdagangan Selasa, 25 Maret 2026, dengan tekanan. Indeks dibuka turun 22,22 poin atau 0,31 persen ke kisaran 7.084. Namun, arah pasar berbalik dalam beberapa jam berikutnya, ditopang lonjakan saham-saham lapis dua, terutama yang terafiliasi dengan grup Bakrie.

Memasuki akhir sesi pertama sekitar pukul 11.50 WIB, IHSG mulai bergerak naik seiring meningkatnya aktivitas beli pada sejumlah saham tertentu. Meski data indeks tidak melonjak tajam, komposisi penguatannya menunjukkan pergeseran minat investor dari saham big caps ke saham dengan volume tinggi. Pada fase ini, saham-saham grup Bakrie mendominasi daftar penggerak pasar.

Berdasarkan data Stockbit, Bumi Resources (BUMI) melonjak 7,77 persen ke level 222 dengan frekuensi transaksi mencapai 65,37 ribu kali. Darma Henwa (DEWA) naik lebih tinggi, yakni 11,17 persen ke level 438 dengan frekuensi 21,01 ribu kali. Bumi Resources Minerals (BRMS) juga menguat 6,62 persen ke 725, sementara Bakrie and Brothers (BNBR) naik 4,27 persen ke 122.

Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan lonjakan volume transaksi, yang menunjukkan akumulasi dalam jumlah besar pada saham-saham tersebut.

Selain grup Bakrie, beberapa saham lapis dua lain juga mencatat penguatan signifikan. Bersama Zatta Jaya (ZATA) naik 12,68 persen ke 80, sementara Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) menguat 7,69 persen ke 210.

Dominasi saham-saham ini di daftar top volume menandakan bahwa penguatan IHSG pada sesi pertama lebih banyak ditopang oleh aktivitas di saham-saham non-big caps.

Memasuki sesi kedua hingga mendekati penutupan pasar pukul 15.10 WIB, tren penguatan pada saham-saham tersebut tidak hanya bertahan, tetapi cenderung menguat.

BUMI naik lebih tinggi menjadi 224 atau menguat 8,74 persen, dari sebelumnya 7,77 persen di sesi pertama. BRMS juga menguat ke 730 atau naik 7,35 persen, meningkat dari 6,62 persen. Ini menunjukkan adanya lanjutan akumulasi hingga akhir perdagangan.

Di sisi lain, saham-saham perbankan besar menunjukkan pergerakan yang lebih beragam. Bank Mandiri (BMRI) naik 3,81 persen ke 4.910, Bank Central Asia (BBCA) menguat 1,48 persen ke 6.875, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik tipis 0,57 persen ke 3.500.

Namun tekanan masih terjadi pada sebagian saham besar lainnya. Bank Negara Indonesia (BBNI) justru turun tajam 7,97 persen ke 4.040, sementara Aneka Tambang (ANTM) melemah 4,00 persen ke 3.600.

Kondisi ini mencerminkan bahwa penguatan IHSG sepanjang hari tidak didorong secara merata oleh saham berkapitalisasi besar, melainkan sangat bergantung pada lonjakan saham tertentu dengan volume tinggi.

Secara teknikal, IHSG kini tercatat di level 7.257,89, menguat sekitar 151,18 poin atau 2,13 persen. Posisi ini mendekati area tertinggi intraday di kisaran 7.263,77, yang menjadi resistance jangka pendek.

Dari sisi indikator, pergerakan harga terlihat berada di atas moving average 20 (MA20) di sekitar 7.220, yang menandakan momentum bullish jangka pendek mulai terbentuk. Bahkan, IHSG juga bergerak di atas MA100 di level 7.153, memperkuat sinyal bahwa tren naik mulai mendapatkan konfirmasi yang lebih solid.

Band indikator Bollinger Bands menunjukkan harga bergerak di sisi atas band, menandakan tekanan beli masih dominan. Namun posisi yang mendekati upper band juga mengindikasikan potensi konsolidasi jangka pendek apabila terjadi profit taking.

Sementara itu, indikator MACD (12,26,9) mulai menunjukkan pembalikan arah. Garis MACD tampak bergerak naik dan mendekati garis sinyal, dengan histogram yang mulai mengecil di area negatif. Ini mengindikasikan momentum bearish sebelumnya mulai mereda dan berpotensi berbalik menjadi bullish.

Perbandingan antara sesi pertama dan sesi akhir juga menunjukkan bahwa penguatan pada saham-saham tersebut bukan hanya fenomena sesaat. Kenaikan harga yang berlanjut hingga penutupan menandakan adanya sustain demand, bukan sekadar dorongan spekulatif jangka sangat pendek.

Meski demikian, pola penguatan yang terkonsentrasi pada kelompok saham tertentu biasanya tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan pasar secara keseluruhan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).