Logo
>

Ada Tekanan Baru di Balik Kinerja Blue Bird (BIRD) Kuartal I 2026

Laba bersih BIRD pada kuartal I 2026 tercatat Rp156 miliar atau turun 6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut hanya setara 21 persen dari estimasi.

Ditulis oleh Syahrianto
Ada Tekanan Baru di Balik Kinerja Blue Bird (BIRD) Kuartal I 2026
Kinerja Blue Bird pada kuartal I 2026 dibayangi kenaikan biaya operasional dan depresiasi. (Foto: Dok. Blue Bird)

KABARBURSA.COM – PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencatat penurunan laba bersih pada kuartal I 2026 di tengah kenaikan biaya operasional dan depresiasi. Meski pendapatan masih tumbuh dua digit, tekanan biaya membuat margin laba perusahaan mulai menyusut.

Investment Analyst Stockbit, Christian William Munaba, mengatakan laba bersih BIRD pada kuartal I 2026 tercatat Rp156 miliar atau turun 6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut hanya setara 21 persen dari estimasi laba bersih konsensus sepanjang 2026.

“Penurunan laba bersih secara tahunan disebabkan oleh pelemahan operasional, di mana laba usaha pada 1Q26 turun menjadi Rp152 miliar,” ujar Christian dalam risetnya dikutip, Kamis, 7 Mei 2026.

Pendapatan BIRD pada kuartal I 2026 tercatat Rp1,45 triliun. Angka tersebut tumbuh 12 persen yoy dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,30 triliun, meski turun 8 persen dibanding kuartal IV 2025 sebesar Rp1,58 triliun.

Pertumbuhan pendapatan didorong kenaikan seluruh lini bisnis. Segmen taksi menyumbang pendapatan Rp1,02 triliun atau naik 12 persen yoy dari Rp912 miliar.

Sementara segmen non-taksi mencatat pendapatan Rp432 miliar atau tumbuh 11 persen yoy dibanding Rp390 miliar pada kuartal I 2025.

Namun pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan beban pokok pendapatan dan biaya operasional. Beban pokok pendapatan naik 15 persen yoy menjadi Rp1 triliun dari sebelumnya Rp875 miliar.

Kenaikan beban terutama berasal dari depresiasi yang melonjak 31 persen yoy menjadi Rp181 miliar. Selain itu, biaya pendukung (supporting expense) naik 21 persen yoy menjadi Rp93 miliar.

Christian menilai lonjakan depresiasi yang terjadi dalam tiga kuartal terakhir menunjukkan adanya indikasi accelerated depreciation.

“Kenaikan pada biaya depresiasi mencapai sekitar 30 persen yoy dalam tiga kuartal terakhir, dibanding periode sebelumnya yang hanya naik 5 hingga 10 persen,” kata dia.

Di sisi lain, biaya operasional BIRD juga meningkat 13 persen yoy menjadi Rp293 miliar. Beban administrasi dan umum (general & administrative expense) naik menjadi Rp281 miliar dari sebelumnya Rp249 miliar.

Komponen1Q254Q251Q26QoQYoY
PendapatanRp1,30 TRp1,58 TRp1,45 T-8%+12%
Pendapatan TaksiRp912 MRp1,11 TRp1,02 T-9%+12%
Pendapatan Non-TaksiRp390 MRp470 MRp432 M-8%+11%
Beban Pokok PendapatanRp875 MRp1,09 TRp1,00 T-8%+15%
DepresiasiRp138 MRp174 MRp181 M+4%+31%
Laba KotorRp427 MRp487 MRp445 M-9%+4%
Beban OperasionalRp258 MRp314 MRp293 M-7%+13%
Laba UsahaRp169 MRp173 MRp152 M-12%-10%
Laba Sebelum PajakRp213 MRp202 MRp201 M-1%-6%
Laba BersihRp166 MRp153 MRp156 M+2%-6%

Akibat tekanan biaya tersebut, laba usaha BIRD turun menjadi Rp152 miliar atau melemah 10 persen yoy dan 12 persen dibanding kuartal sebelumnya. Margin laba usaha juga turun menjadi 10,5 persen dari sebelumnya 13 persen pada kuartal I 2025.

Margin laba kotor (gross profit margin/GPM) turun menjadi 30,6 persen dari 32,8 persen. Sementara margin laba bersih (net profit margin/NPM) turun menjadi 10,7 persen dibanding 12,7 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Selain tekanan operasional, kenaikan beban keuangan juga turut menekan laba bersih perusahaan. Beban keuangan bersih naik 75 persen yoy menjadi Rp23 miliar dibanding Rp13 miliar pada kuartal I 2025.

Meski demikian, BIRD masih mencatat pertumbuhan laba bersih secara kuartalan sebesar 2 persen dibanding kuartal IV 2025 yang sebesar Rp153 miliar.

Christian menilai secara keseluruhan kinerja BIRD pada awal 2026 masih relatif lemah. Selain tekanan depresiasi, potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai menjadi faktor yang perlu diperhatikan pasar.

“Terdapat pula potensi kenaikan harga BBM yang juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan biaya operasional dan kembali menekan margin laba kotor perseroan,” ujar dia.(*)

Margin1Q254Q251Q26
GPM32,8%30,7%30,6%
OPM13,0%10,9%10,5%
NPM12,7%9,6%10,7%

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.