KABARBURSA.COM – PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk menegaskan fokus ekspansi armada pada 2026 dengan rencana penambahan kapal baru, meski belum mempertimbangkan pembagian dividen. Strategi ini disampaikan manajemen dalam paparan publik insidentil yang digelar awal Januari 2026.
Dalam public expose yang digelar Rabu, 7 Januari 2026, BBRM menjelaskan arah kebijakan perseroan ke depan. Direktur Utama BBRM Na’im Machzyumi menyampaikan bahwa peningkatan laba jangka pendek akan diupayakan melalui optimalisasi basis pelanggan, sebelum tambahan kapal baru mulai beroperasi pada pertengahan 2026.
“Kami akan terus melakukan terobosan untuk mencari customer yang sudah ada maupun yang baru agar profit bisa meningkat di kuartal pertama 2026,” ujarnya dalam paparan tersebut.
Manajemen menyebutkan, satu kapal offshore support vessel akan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. Penambahan armada ini diproyeksikan memberi kontribusi lebih besar pada paruh kedua tahun depan.
Na’im menambahkan bahwa penambahan kapal akan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan pendanaan perseroan. “Tahun depan kami berencana menambah satu kapal yang diharapkan dapat meningkatkan laba perusahaan,” katanya.
Terkait kebijakan dividen, BBRM menyatakan belum akan membagikan dividen dalam waktu dekat. Manajemen menilai dana internal masih dibutuhkan untuk mendukung ekspansi armada. “Kami memang mempertimbangkan pembagian dividen ke depannya, tetapi saat ini perseroan masih membutuhkan dana untuk mengembangkan perusahaan,” ujar manajemen.
Lebih lanjut, dividen baru akan dipertimbangkan setelah investasi kapal dinilai memadai.
Dari sisi struktur keuangan, BBRM menegaskan posisi neraca masih kuat dengan rasio utang terhadap ekuitas sebesar 0,06 kali. Perseroan menyampaikan tidak memiliki pinjaman sejak awal berdiri. Namun, seiring rencana ekspansi armada, manajemen membuka kemungkinan penggunaan pendanaan eksternal.
“Kami harus membeli kapal untuk melakukan ekspansi, dan kemudian kami akan meminjam dana. Jadi kami akan mencari solusinya,” kata manajemen dalam sesi tanya jawab.
BBRM juga mengungkapkan bahwa pendanaan ekspansi lebih diprioritaskan melalui dukungan perbankan, dibandingkan aksi korporasi di pasar modal.
Corporate action disebut masih menjadi opsi di masa depan apabila dibutuhkan untuk investasi lanjutan, namun belum menjadi prioritas saat ini.
Dari sisi operasional, manajemen memaparkan tren positif tarif sewa kapal. Harga sewa kapal disebut telah meningkat signifikan, dari level tertekan di bawah satu dolar per horsepower menjadi sekitar USD150 per horsepower.
Kenaikan ini didorong oleh aktivitas offshore migas yang meningkat, khususnya di kawasan Asia. “Sebagian besar operasi kami berada di Asia, terutama Indonesia, di mana aktivitas perairan dalam sedang ramai,” ujar manajemen.
BBRM menyebut segmen offshore support vessel menjadi kontributor utama pendapatan perseroan. Jalur operasional tidak hanya terbatas di dalam negeri, tetapi juga mencakup rute internasional seperti Thailand dan Malaysia.
Manajemen menegaskan bahwa perseroan tidak menghadapi hambatan struktural untuk beroperasi di pasar internasional karena armada BBRM telah aktif di luar Indonesia.
Selain ekspansi armada, perseroan juga mulai mempertimbangkan investasi pada teknologi ramah lingkungan. Manajemen mengungkapkan ketertarikan pada kapal yang lebih efisien dan bertenaga listrik, meski keputusan investasi akan dilakukan secara selektif.
“Kami harus memastikan teknologi tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan kami,” kata manajemen. (*)