KABARBURSA.COM – Peluang Indonesia untuk tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang atau emerging market dalam klasifikasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai masih cukup besar meski sejumlah catatan terkait aksesibilitas pasar atau market accessibility masih menjadi perhatian.
Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, menilai fundamental pasar modal Indonesia masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara lain, terutama dari sisi likuiditas dan kapitalisasi pasar.
"Menurut saya peluang Indonesia untuk tetap bertahan dalam kategori emerging market MSCI masih lebih besar," kata Elandry kepada KabarBursa.com melalui pesan WhatsApp, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut dia, berbagai isu yang menjadi perhatian MSCI belum cukup kuat untuk menggeser posisi Indonesia dari kelompok pasar berkembang. Apalagi Indonesia masih memiliki peran strategis di kawasan Asia Tenggara dengan ukuran pasar yang relatif besar.
"Meskipun masih ada beberapa catatan terkait market accessibility, secara umum Indonesia masih memiliki likuiditas pasar yang besar, kapitalisasi pasar yang memadai, serta peran yang cukup penting di kawasan Asia Tenggara," ujarnya.
Menjelang pengumuman hasil review MSCI, Elandry memperkirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dibayangi sikap wait and see investor. Kondisi tersebut membuat ruang pergerakan indeks cenderung terbatas dan fluktuatif.
"IHSG berpotensi bergerak fluktuatif di kisaran 6.150–6.350 karena pelaku pasar cenderung menunggu kepastian hasil review," katanya.
Meski demikian, ia melihat sentimen pasar masih cukup terjaga selama tidak muncul keputusan yang berada di luar ekspektasi investor.
"Selama tidak ada kejutan negatif, saya melihat market sentiment tetap relatif terjaga," ujar Elandry.
Dari sisi aliran modal asing, Elandry memperkirakan tidak akan terjadi tekanan berarti apabila Indonesia tetap dipertahankan dalam kelompok emerging market. Sebaliknya, kepastian hasil evaluasi MSCI berpotensi menjadi sentimen positif yang dapat mengembalikan minat investor global ke pasar domestik.
"Untuk arus dana asing, skenario utama saya adalah tidak terjadi outflow signifikan apabila status emerging market tetap dipertahankan," katanya.
Menurut dia, kepastian status Indonesia dalam klasifikasi MSCI justru dapat mengurangi ketidakpastian yang selama beberapa bulan terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.
"Kepastian status tersebut dapat mengurangi ketidakpastian dan mendukung masuknya kembali capital flow asing ke pasar domestik," tutur Elandry.
Lebih lanjut, Elandry mengungkapkan dirinya masih menggunakan Vietnam sebagai salah satu tolok ukur dalam menilai posisi Indonesia di klasifikasi MSCI. Menurutnya, ukuran pasar modal Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan Vietnam yang baru memperoleh peningkatan status ke kategori emerging market.
"Saat ini, saya menjadikan pasar Vietnam sebagai benchmark. Mengingat nilai pasar Vietnam yang baru saja masuk ke kategori Emerging Market masih jauh di bawah kita dengan selisih ribuan triliun," ujarnya.
Melalui kondisi tersebut, ia berasumsi bahwa ukuran pasar Indonesia masih berada jauh di atas ambang batas minimum yang dibutuhkan untuk tetap berada dalam kelompok pasar berkembang.
"Saya berasumsi bahwa passing grade untuk transisi dari Frontier ke Emerging Market berada di level tersebut," katanya.
Karena itu, Elandry tetap optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia meski berbagai tantangan domestik masih menjadi perhatian investor.
"Terlepas dari dinamika pemerintahan, saya tetap optimis dengan prospek ke depannya," ujar dia.
MSCI sebelumnya menempatkan Indonesia dalam daftar negara yang mendapat perhatian khusus terkait aspek market accessibility. Hasil evaluasi MSCI menjadi penting karena dapat memengaruhi persepsi investor global serta alokasi dana dari berbagai produk investasi yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan.
Bagi pasar modal Indonesia, keputusan mempertahankan status emerging market akan menjadi sinyal positif yang dapat membantu menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat peluang masuknya kembali dana asing ke Bursa Efek Indonesia.
Dalam pengumuman resminya 21 Mei 2026, MSCI menyatakan hasil MSCI 2026 Global Market Accessibility Review akan diumumkan pada 18 Juni 2026, sedangkan hasil MSCI 2026 Annual Market Classification Review dijadwalkan dirilis pada 23 Juni 2026.
“Pengumuman akan tersedia sesaat setelah pukul 22.30 waktu Central European Summer Time (CEST),” tulis MSCI dalam keterangan resminya.
Jika dikonversikan ke waktu Indonesia bagian barat (WIB), pengumuman tersebut diperkirakan dirilis sekitar pukul 03.30 WIB pada hari berikutnya, mengingat selisih waktu antara CEST dan WIB mencapai lima jam.
Setiap tahun, MSCI melakukan evaluasi terhadap pasar saham di berbagai negara untuk menentukan apakah suatu negara layak diklasifikasikan sebagai developed market, emerging market, frontier market, atau standalone market.
Penilaian tersebut menjadi salah satu acuan penting bagi investor institusi global dalam menentukan alokasi investasi mereka di berbagai kawasan dunia.Dalam dokumen MSCI Market Classification Framework, MSCI menjelaskan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan tiga faktor utama, yakni tingkat perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta aksesibilitas pasar bagi investor internasional.
MSCI juga memberikan sinyal bahwa apabila perbaikan yang dilakukan dinilai belum memadai, status Indonesia dalam klasifikasi pasar global dapat ditinjau kembali.
Reaksi pasar berlangsung cepat. Pada 28 Januari 2026, sehari setelah pengumuman MSCI, IHSG anjlok 586 poin atau 6,53 persen ke level 8.393 dan terus melemah hingga menyentuh 8.261,95 pada pukul 13.43 WIB, yang memicu trading halt pertama oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tekanan berlanjut pada 29 Januari 2026 ketika IHSG kembali jatuh 8 persen ke level 7.654,66 hanya sekitar 26 menit setelah perdagangan dibuka. Kondisi tersebut memaksa BEI memberlakukan trading halt kedua dalam dua hari berturut-turut.
Di tengah gejolak pasar tersebut, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan pengunduran dirinya pada 30 Januari 2026. Meski demikian, persetujuan resmi atas pengunduran diri tersebut baru diberikan dalam RUPS Tahunan BEI pada 11 Juni 2026.
Setelah dua kali trading halt dan berlanjutnya arus keluar dana asing, IHSG terus bergerak turun hingga mencapai titik terendah tahun berjalan di level 5.317,91 pada 8 Juni 2026. Jika dibandingkan dengan posisi puncaknya pada awal Januari, indeks telah kehilangan sekitar 3.856 poin atau lebih dari 42 persen nilainya.(*)
Jelang Review MSCI, Pengamat Nilai Peluang Bertahan di Emerging Market Masih Besar
Berbagai isu yang menjadi perhatian MSCI belum cukup kuat untuk menggeser posisi Indonesia dari kelompok pasar berkembang.