KABARBURSA.COM – PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp4,41 triliun pada 2025 meski pendapatan tumbuh 23,42 persen menjadi Rp42,45 triliun. Pada 2024, EXCL masih mencatat laba Rp1,85 triliun. Lonjakan beban membuat kinerja berbalik dari laba menjadi rugi.
Pendapatan EXCL naik dari Rp34,39 triliun pada 2024 menjadi Rp42,45 triliun pada 2025. Kenaikan pendapatan mencapai Rp8,05 triliun secara tahunan. Pertumbuhan tersebut tidak diikuti perbaikan laba bersih.
Total beban meningkat menjadi Rp43,58 triliun dari Rp28,63 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan beban mencapai Rp14,95 triliun atau sekitar 52,22 persen. Beban yang meningkat lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan menekan hasil akhir perusahaan.
Beban penyusutan tercatat Rp17,59 triliun pada 2025 dibanding Rp12,07 triliun pada 2024. Beban infrastruktur mencapai Rp12,33 triliun dari sebelumnya Rp8,94 triliun. Beban interkoneksi dan beban langsung lainnya naik menjadi Rp4,91 triliun dari Rp3,28 triliun.
Beban gaji dan kesejahteraan karyawan meningkat menjadi Rp4,29 triliun dari Rp1,74 triliun pada 2024. Beban penjualan dan pemasaran tercatat Rp2,30 triliun dari Rp2,09 triliun. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp842 miliar dari Rp455 miliar.
Laba operasi berubah menjadi rugi Rp1,14 triliun pada 2025. Pada 2024, perusahaan masih mencatat laba operasi Rp5,76 triliun. Perubahan ini mencerminkan tekanan pada margin operasional.
Biaya keuangan meningkat menjadi Rp4,02 triliun dari Rp3,11 triliun pada tahun sebelumnya. Penghasilan keuangan tercatat Rp97,86 miliar dari Rp80,26 miliar. Bagian rugi dari entitas asosiasi sebesar Rp206,18 miliar, lebih rendah dibanding Rp297,83 miliar pada 2024.
Dari sisi posisi keuangan, total aset EXCL meningkat menjadi Rp115,32 triliun dari Rp86,18 triliun. Total liabilitas naik menjadi Rp85,31 triliun dari Rp59,96 triliun. Total ekuitas tercatat Rp30,01 triliun dibanding Rp26,22 triliun pada 2024.
Aset tetap bersih meningkat menjadi Rp66,98 triliun dari Rp61,03 triliun. Aset takberwujud naik menjadi Rp13,59 triliun dari Rp6,89 triliun. Goodwill tercatat Rp13,35 triliun dari Rp6,92 triliun pada tahun sebelumnya.
Kas dan setara kas pada akhir tahun tercatat Rp2,67 triliun, naik dari Rp1,39 triliun. Piutang usaha pihak ketiga meningkat menjadi Rp2,75 triliun dari Rp882 miliar. Beban dibayar dimuka tercatat Rp6,15 triliun dari Rp4,45 triliun.
Pinjaman jangka panjang meningkat menjadi Rp21,48 triliun dari Rp8,85 triliun. Liabilitas sewa tercatat Rp39,17 triliun dari Rp33,59 triliun. Utang usaha meningkat menjadi Rp14,02 triliun dari Rp8,25 triliun.
Arus kas bersih dari aktivitas pendanaan digunakan sebesar Rp9,06 triliun pada 2025. Pada 2024, arus kas pendanaan digunakan sebesar Rp6,05 triliun. Kenaikan bersih kas dan setara kas sepanjang tahun mencapai Rp1,28 triliun. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.