Logo
>

AMMN Sudah Ambles 47 Persen, Masih Menarik untuk Masuk?

AMMN masih tertekan akibat aksi jual asing, tetapi fundamental semakin kuat dan indikator teknikal mulai menunjukkan peluang rebound di tengah pemulihan IHSG.

Ditulis oleh Yunila Wati
AMMN Sudah Ambles 47 Persen, Masih Menarik untuk Masuk?
Setelah dikeluarkan dari indeks MSCI pada Mei 2026, AMMN mengalami tekanan jual yang cukup besar. (Foto: dok AMMN)

KABARBURSA.COM – Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kembali menjadi sorotan setelah Algo Research memberikan strategi di tengah membaiknya sentimen pasar. 

Secara fundamental, narasi positif terhadap AMMN memang semakin kuat. Perseroan menjadi salah satu saham pilihan utama (top pick) karena memiliki prospek pertumbuhan yang dinilai paling konstruktif di sektor pertambangan. 

Optimisme tersebut didukung oleh ekspansi strategis perusahaan serta kenaikan harga komoditas utama. Dalam satu tahun terakhir, harga tembaga tercatat naik sekitar 30 persen, sedangkan harga emas meningkat sekitar 28 persen.

Meski memiliki fundamental yang semakin solid, performa saham AMMN justru bergerak berlawanan. Setelah dikeluarkan dari indeks MSCI pada Mei 2026, saham ini mengalami tekanan jual yang cukup besar. 

Arus keluar dana asing atau foreign net outflow telah mencapai sekitar Rp3,2 triliun secara year to date (YTD), dan membuat harga saham terkoreksi sekitar 47 persen sepanjang tahun berjalan.

Ironisnya, pelemahan tersebut terjadi ketika proyeksi kinerja perusahaan justru membaik. Konsensus analis memperkirakan laba bersih AMMN akan melonjak 414 persen secara tahunan menjadi Rp21,1 triliun pada 2026. Sementara, pendapatan diperkirakan tumbuh 161 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

PER 13 Kali, Murah Dibandingkan Perusahaan Tambang Lain

Dengan valuasi sekitar 13 kali price to earnings ratio (PER), saham ini juga dinilai lebih murah dibandingkan rata-rata perusahaan tambang tembaga global yang diperdagangkan di kisaran 20 kali PER. Berdasarkan valuasi tersebut, potensi kenaikan harga bahkan diperkirakan dapat mencapai level Rp5.000 per saham.

Bagi trader maupun investor jangka pendek, kondisi teknikal sering kali menjadi penentu utama dalam mengambil keputusan. Dari sisi ini, AMMN memang belum sepenuhnya keluar dari tekanan, tetapi mulai menunjukkan beberapa sinyal yang layak diperhatikan.

Pergerakan harga dalam beberapa pekan terakhir memperlihatkan volatilitas yang cukup tinggi. Pada 29 Mei, AMMN sempat menguat 6,61 persen ke level 3.300 dengan nilai transaksi mencapai Rp3,98 triliun dan volume 12,04 juta lot. 

Namun, penguatan tersebut justru dimanfaatkan investor asing untuk melakukan distribusi besar-besaran dengan net foreign sell mencapai Rp1,61 triliun.

Tekanan jual asing kemudian masih berlanjut pada 20 Mei sebesar Rp123,35 miliar, 21 Mei Rp103,92 miliar, 22 Mei Rp156,32 miliar, 25 Mei Rp226,20 miliar, serta 26 Mei Rp157,03 miliar.

Memasuki awal Juni, pola tersebut mulai berubah. Pada 2 Juni terjadi net foreign buy sebesar Rp35,27 miliar yang diikuti net foreign buy Rp87,46 miliar pada 3 Juni dan Rp15 miliar pada 4 Juni. Meski asing kembali mencatat net foreign sell Rp70,09 miliar pada 5 Juni, Rp77,59 miliar pada 8 Juni, dan Rp141,58 miliar pada 9 Juni, tekanan jual tersebut sudah jauh lebih kecil dibandingkan distribusi besar yang terjadi pada akhir Mei.

Terkoreksi, tapi Masih Menarik

Pada perdagangan 10 Juni, AMMN kembali terkoreksi tipis 30 poin atau 0,88 persen ke level 3.380. Nilai transaksi mencapai Rp432,12 miliar dengan volume perdagangan 1,26 juta lot dan frekuensi transaksi 24,52 ribu kali. 

Saham ini dibuka di level 3.430, sempat menyentuh level tertinggi 3.550 sebelum turun ke level terendah 3.320 dengan harga rata-rata transaksi berada di level 3.417.

Jika melihat histori pergerakan harga, saham ini masih berada dalam fase konsolidasi yang cukup menarik. Setelah melonjak 17,88 persen ke level 3.890 pada 2 Juni, AMMN langsung terkoreksi 14,91 persen ke level 3.310 pada 3 Juni. 

Selanjutnya, saham bergerak naik 5,74 persen ke 3.500 pada 4 Juni, turun 6 persen ke 3.290 pada 5 Juni, melemah lagi 4,26 persen ke 3.150 pada 8 Juni, kemudian rebound 8,25 persen ke 3.410 pada 9 Juni sebelum terkoreksi tipis ke level 3.380 pada perdagangan hari ini.

Dari sisi indikator teknikal, ringkasan sinyal memang masih menunjukkan status "Jual" dengan komposisi dua indikator beli, tiga netral, dan lima jual. RSI berada di level 42,226 sehingga belum memasuki area overbought maupun oversold. 

MACD masih berada di level minus 323,585 yang menandakan tren bearish jangka menengah belum sepenuhnya berakhir. ADX di level 49,063 juga menunjukkan tren yang sedang berlangsung masih cukup kuat.

Meski demikian, sejumlah indikator mulai memberikan sinyal yang lebih konstruktif. Williams %R berada di level minus 44 dengan rekomendasi beli, sedangkan CCI berada di level 65,7773 dan juga memberikan sinyal beli. 

Stochastic berada di level 49,18 atau netral, sementara Stochastic RSI mencapai 85,946 yang menunjukkan momentum jangka pendek mulai menguat meski mendekati area beli berlebih.

Sinyal serupa juga terlihat pada moving average. MA5 dan MA10 baik sederhana maupun eksponensial telah memberikan rekomendasi beli dengan level masing-masing 3.352 dan 3.362 untuk MA5 serta 3.352 dan 3.388 untuk MA10. 

Tren jangka menengah masih menjadi tantangan karena MA20 berada di level 3.490, MA50 di 4.515, MA100 di 5.839, dan MA200 di 6.565 yang seluruhnya masih memberikan sinyal jual.

Dari sisi pivot point, posisi AMMN juga masih cukup menarik. Pivot klasik berada di level 3.337, sedangkan harga saat ini berada di atas level tersebut pada kisaran 3.380. Kondisi ini membuka peluang pengujian resistance pertama di level 3.554, kemudian resistance kedua di 3.697, dan resistance ketiga di 3.914 apabila sentimen positif terus berlanjut. 

Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat, area support berada di level 3.194, kemudian 2.977 dan 2.834.

Buy on Weakness?

Melihat kombinasi faktor fundamental, histori perdagangan, arus dana asing, dan indikator teknikal, strategi buy secara bertahap atau buy on weakness masih menjadi pendekatan yang paling rasional untuk AMMN. 

Tekanan jual asing memang belum sepenuhnya hilang, tetapi intensitasnya mulai berkurang. Harga juga mulai bertahan di atas MA5, MA10, dan pivot point harian, memberikan peluang technical rebound dalam jangka pendek.

Selama IHSG mampu mempertahankan momentum penguatan dan harga komoditas tetap solid, peluang AMMN untuk menguji area 3.550 hingga 3.700 masih terbuka. 

Sementara untuk jangka menengah, apabila proyeksi pertumbuhan laba 414 persen dan kenaikan pendapatan 161 persen benar-benar terealisasi, target fundamental di kisaran Rp5.000 per saham masih menjadi skenario yang layak diperhitungkan investor.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79