KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia pada Kamis, 16 April 2026, kembali bergerak naik di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. Pasar tampak lebih fokus pada gangguan pasokan dibanding sinyal meredanya tensi geopolitik.
Kenaikan harga terjadi meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran mendekati akhir. Pernyataan tersebut belum cukup meredakan kekhawatiran pasar terhadap distribusi energi global.
Dilansir dari Reuters, minyak Brent tercatat naik sekitar 1,2 persen menjadi USD95,93 per barel atau setara Rp1,62 juta. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate juga menguat 1,3 persen ke level yang sama.
Gangguan pasokan masih menjadi faktor utama. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak lebih dari satu bulan lalu membuat arus pengiriman energi global tersendat. Jalur ini biasanya dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
Hingga kini, lalu lintas kapal tanker belum sepenuhnya pulih. Volume pengiriman masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik terjadi. Analis dari Gelber & Associates melihat mulai ada pergerakan kapal, meski belum signifikan.
“Data pelacakan terbaru menunjukkan jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mulai meningkat meski secara keseluruhan masih jauh di bawah tingkat normal,” tulis mereka.
Menurut mereka, pasar kini tidak lagi memperkirakan gangguan total, tetapi tetap menyimpan premi risiko karena pemulihan distribusi berjalan tidak merata.
“Pasar tidak lagi memperhitungkan gangguan total, tetapi masih mempertahankan premi risiko karena pemulihan aliran berlangsung tidak merata dan belum kembali normal,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan ekonomi global mulai terasa. Sejumlah menteri keuangan dari berbagai negara menyerukan agar gencatan senjata dijalankan penuh, mengingat konflik berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar.
Dana Moneter Internasional juga menilai konflik ini memperburuk kondisi fiskal global yang sudah rapuh. Kenaikan harga energi dan suku bunga dinilai memperbesar tekanan terhadap negara berkembang.
Di Amerika Serikat, kekhawatiran muncul dari sisi kebijakan moneter. Ancaman Trump terhadap pimpinan bank sentral dinilai berpotensi mengganggu independensi kebijakan suku bunga.
Pejabat Federal Reserve memperingatkan kenaikan harga minyak dapat mendorong ekspektasi inflasi, yang pada akhirnya berdampak pada daya beli masyarakat.
Sementara itu, sejumlah negara mulai menyiapkan langkah antisipasi. Jepang, misalnya, menyiapkan skema pembiayaan sekitar USD10 miliar (Rp169 triliun) untuk membantu negara-negara Asia mengamankan pasokan energi.
Di sisi lain, Rusia membuka peluang peningkatan pasokan energi ke China untuk menjaga stabilitas permintaan global. Dalam situasi ini, pasar energi tampak bergerak di antara dua kutub. Di satu sisi ada harapan konflik mereda, namun di sisi lain gangguan pasokan yang belum pulih sepenuhnya masih membayangi pergerakan harga minyak dunia.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.