KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia pada Kamis, 7 Mei 2026, anjlok tajam setelah muncul sinyal bahwa Amerika Serikat dan Iran mulai mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang yang selama ini mengguncang pasar energi global.
Laporan Axios menyebut Washington percaya kerangka perjanjian sederhana satu halaman kini semakin dekat tercapai. Kabar itu langsung memicu aksi jual besar-besaran di pasar minyak karena investor mulai melihat peluang meredanya gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Dilansir dari Reuters, minyak mentah Brent turun USD6,70 atau sekitar Rp113.900 per barel ke level USD103,17 per barel atau sekitar Rp1,75 juta. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah USD6,77 atau sekitar Rp115.090 menjadi USD95,50 per barel atau sekitar Rp1,62 juta.
Penurunan ini menjadi koreksi harian terbesar sejak pertengahan April, baik secara persentase maupun nominal. Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak juga sudah melemah sekitar 4 persen.
Axios melaporkan Amerika Serikat kini menunggu respons Iran terhadap sejumlah poin penting dalam 48 jam ke depan. Meski belum ada kesepakatan resmi, situasi ini disebut menjadi titik paling dekat menuju perdamaian sejak perang pecah pada Februari lalu.
Di sisi lain, Iran menegaskan hanya akan menerima kesepakatan yang dianggap adil dan menyeluruh.
Selama konflik berlangsung, harga minyak sempat melonjak tajam akibat terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Penutupan jalur tersebut membuat pasokan minyak laut tersendat dan memicu pengurasan cadangan minyak global.
Situasi itu sempat mendorong harga Brent mencapai level tertinggi sejak Maret 2022 pada pekan lalu.
Tekanan pasokan juga tercermin dari menurunnya stok minyak Amerika Serikat selama tiga pekan berturut-turut. Mengutip data American Petroleum Institute, persediaan minyak mentah AS turun 8,1 juta barel pada pekan yang berakhir 1 Mei.
Stok bensin juga turun 6,1 juta barel, sementara persediaan distilat berkurang 4,6 juta barel. Namun pasar kini mulai mengalihkan fokus dari ancaman kekurangan pasokan menuju peluang normalisasi distribusi energi global. Artinya, reli harga minyak yang sebelumnya ditopang ketakutan perang mulai kehilangan tenaga.
Meski begitu, arah pasar masih sangat bergantung pada hasil negosiasi Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari ke depan. Jika pembicaraan kembali buntu, volatilitas harga energi berpotensi kembali memanas.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.