KABARBURSA.COM - Dinamika pasar saham serta strategi investasi 2026 menjadi pembahasan utama dalam kegiatan Investor Gathering yang digelar di Jakarta, Jumat, 7 Februari 2026. Acara ini mengupas dasar pasar saham sekaligus outlook investasi bersama para praktisi pasar modal.
Equity Research Analyst RHB Sekuritas Indonesia, Arandi Nugraha, menilai tahun 2026 menuntut investor lebih selektif, khususnya pada sektor berbasis komoditas seperti CPO (crude palm oil) serta minyak & gas (migas).
Untuk sektor perkebunan, Arandi melihat ruang penguatan harga CPO relatif terbatas. Ia menyebut proyeksi harga CPO tahun 2026 berada di kisaran 4.250 ringgit Malaysia per ton.
“Kalau bisa memilih, investor lebih baik masuk ke emiten plantation berbasis Malaysia. Di Indonesia ada banyak disruption, mulai dari kebijakan pemerintah, penarikan lahan, banjir, sampai rencana kenaikan levy tax ekspor CPO menjadi 12,5%,” kata Arandi.
Menurutnya, kenaikan pungutan ekspor membuat harga jual CPO Indonesia terdiskon dibanding Malaysia. Jika harga CPO Malaysia di level tertentu, maka ekspor Indonesia hanya bisa menikmati sekitar 87,5 persen dari harga tersebut.
Selain itu, kebijakan penertiban kawasan hutan juga dinilai menjadi tekanan bagi kinerja emiten sawit. Sejumlah perusahaan harus membayar denda pemanfaatan lahan, yang berpotensi menekan laba bersih hingga puluhan persen.
“Di 2026 penertiban masih berlanjut, sehingga kemungkinan penalti masih ada. Untuk plantation, saat ini kami tidak terlalu promote. Kalau ada kenaikan, lebih baik taking profit,” ujarnya.
Berbeda dengan sawit, Arandi justru melihat industri migas lebih menarik untuk strategi 2026. Ia menilai harga minyak sangat dipengaruhi tiga faktor utama, yakni supply-demand, persediaan, dan sentimen geopolitik.
Ia menjelaskan, produksi minyak Amerika Serikat berpotensi melambat karena harga saat ini belum cukup menarik bagi perusahaan migas untuk agresif melakukan eksplorasi.
“Jumlah sumur produksi di AS sudah turun sekitar 12–14 persen secara tahunan. Kalau harga minyak tidak favorable, produksi AS bisa turun lebih cepat dari perkiraan,” jelasnya.
Sementara dari sisi permintaan, konsumsi global bahan bakar cair diperkirakan tetap meningkat seiring perbaikan ekonomi, termasuk dari China sebagai importir minyak terbesar dunia.
Arandi memperkirakan harga minyak global 2026 akan bergerak di atas USD60 per barel, karena di bawah level tersebut tidak ekonomis bagi banyak perusahaan migas, terutama di Amerika Serikat.
“Kalau terlalu murah, eksplorasi berhenti. Itu sebabnya banyak kepentingan global menjaga harga minyak tetap di atas USD60,” katanya.
Ia juga menyinggung target ambisius Indonesia untuk meningkatkan produksi migas menuju 1 juta barel minyak per hari dan 12 BSCFD gas pada 2030. Hal ini membuka peluang investasi besar di sektor energi nasional.
“Indonesia menarik karena masih punya cadangan gas besar dan proyek seperti Andaman serta optimalisasi lapangan tua lewat EOR. Ini bisa jadi motor pertumbuhan sektor migas ke depan,” ujar Arandi.
Melalui Investor Gathering ini, RHB Sekuritas menekankan pentingnya investor memahami risiko kebijakan, sentimen global, serta struktur biaya komoditas sebelum menentukan strategi investasi di tahun 2026. (Nade) (*)