Logo
>

CATL Uji Baterai Ion Natrium: Solusi Mobil Listrik Murah?

CATL perkenalkan baterai ion natrium untuk EV, lebih murah dan tahan cuaca ekstrem. Aion Y Plus akan jadi mobil penumpang pertama yang menggunakannya.

Ditulis oleh Harun Rasyid
CATL Uji Baterai Ion Natrium: Solusi Mobil Listrik Murah?
lustrasi plus-minus baterai Ion Natrium untuk mobil listrik. Bakal diterapkan ke mobil listrik penumpang tahun ini. Foto: CATL

KABARBURSA.COM - Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) belum lama ini meluncurkan baterai Ion Natrium untuk kendaraan listrik komersial ringan.

Penggunaan baterai Ion Natrium kini diproyeksikan digunakan untuk mobil listrik penumpang di China, mulai kuartal dua atau antara April sampai Juni 2026.

CarNewsChina melaporkan, Aion Y Plus menjadi mobil listrik penumpang pertama yang mengadopsi baterai Ion Natrium. Langkah CATL tersebut dapat terjadi seiring meningkatnya investasi produsen baterai Tiongkok pada teknologi ion natrium. 

BYD sebagai raksasa otomotif China telah mengoperasikan lini produksi baterai Ion Natrium berkapasitas 30 GWh.

Sementara EVE Energy selaku perusahaan baterai asal China yang dikenal dengan produk Lithium, telah meluncurkan proyek baterai Ion Natrium senilai 1 miliar yuan atau setara Rp2,414 triliun. 

Selain itu perusahaan China lainnya, Ronbay Technology mulai mengalihkan sebagian produksi material baterai Lithium ke Ion Natrium.

Secara global, distribusi baterai Ion Natrium dalam industri Tiongkok pada 2025 tercatat mencapai sekitar 9 GWh, atau mengalami lonjakan 150 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Lonjakan ini, terjadi karena meningkatnya minat industri terhadap Ion Natrium sebagai alternatif daei baterai Lithium.

Bagi industri otomotif, baterai Ion Natrium memiliki kelebihan semisal biaya yang lebih ekonomis, pasokan bahan baku yang lebih memadai, dan keunggulan lain seperti ketahanan di suhu ekstrem.

Dari sisi kinerja, baterai Ion Natrium juga memiliki keunggulan pada daya tahannya di suhu rendah. Sejumlah prototipe mampu mempertahankan lebih dari 90 persen kapasitas pada suhu minus 20 derajat Celsius.

Performanya terhitung lebih tinggi dibandingkan baterai Lithium konvensional yang berada di kisaran 80 persen.

Dari aspek biaya, material Ion Natrium diperkirakan 30–40 persen lebih murah dibandingkan material Lithium meski efisiensi biaya secara keseluruhan masih bergantung pada skala produksi dan kematangan rantai pasok.

Namun, keterbatasan teknologi ini masih terlihat pada kepadatan energi. Saat ini, baterai Ion Natrium memiliki kepadatan energi sekitar 100–170 Wh/kg atau lebih rendah dibandingkan baterai LFP yang mencapai 180–200 Wh/kg.

Kondisi ini membuat penggunaan baterai Ion Natrium belum ideal untuk mobil listrik jarak jauh. Para analis di China menilai, baterai Ion Natrium akan lebih cepat diadopsi pada segmen kendaraan listrik kelas bawah, kendaraan di wilayah bersuhu dingin, serta penyimpanan energi stasioner.

Teknologi ini diproyeksikan berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti langsung baterai berbasis litium. Di sisi lain, tahun 2026 diperkirakan menjadi titik awal percepatan komersialisasi baterai Ion Natrium di Tiongkok.

Sedangkan, bagi industri otomotif Indonesia, perkembangan baterai Ion Natrium berpotensi membuka alternatif teknologi baterai yang lebih terjangkau, terutama untuk kendaraan listrik harga mass market dan kendaraan niaga ringan. 

Biaya material yang lebih rendah dapat membantu produsen menekan harga kendaraan listrik.

Di sisi lain, Indonesia yang saat ini fokus membangun ekosistem baterai berbasis Nikel dan Litihum perlu mencermati dinamika ini.

Meski Ion Natrium tidak secara langsung menggeser kebutuhan Lithium dan Nikel dalam waktu dekat, kehadiran teknologi alternatif berpotensi memengaruhi arah investasi jangka panjang, khususnya untuk segmen kendaraan listrik entry-level.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.