KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor pasar modal menembus 26,12 juta single investor identification (SID) per 24 April 2026. Angka ini tumbuh 28,37 persen secara tahunan dengan tambahan 5,77 juta investor baru sepanjang tahun berjalan.
BEI menyebut pertumbuhan ini mencerminkan minat masyarakat yang terus meningkat terhadap investasi. Rata-rata penambahan investor mencapai 50.645 SID per hari, sementara jumlah investor saham tercatat 9,52 juta SID atau naik 10,69 persen secara tahunan, dengan tambahan 919.448 investor baru.
Di sisi lain, BEI juga terus mendorong literasi dan partisipasi melalui berbagai inisiatif. BEI juga menegaskan komitmen penguatan kualitas sumber daya manusia melalui dukungan terhadap sertifikasi profesi pasar modal. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme dan integritas layanan di industri.
Namun, lonjakan jumlah investor domestik tersebut tidak diikuti oleh aliran dana dari investor asing. Di saat partisipasi ritel terus bertambah, pergerakan dana asing justru menunjukkan arah berlawanan.
Asing Berbalik Keluar
Aliran dana investor asing di BEI sepanjang kuartal I 2026 mencatat tekanan yang konsisten. Setelah sempat masuk di awal Januari, dana asing berbalik keluar dengan nilai jual bersih mencapai Rp33,83 triliun hingga awal April.
Merujuk data BEI yang dihimpun Kabarbursa.com, pada pekan 5–9 Januari 2026, investor asing masih mencatat net buy Rp2,56 triliun dengan akumulasi Rp3,1 triliun. IHSG saat itu menguat 2,16 persen ke level 8.936,754 dari 8.748,132 pada pekan sebelumnya.
Tren berlanjut pada pekan 12–15 Januari, ketika asing kembali mencatat net buy Rp947,45 miliar. Akumulasi meningkat menjadi Rp7,30 triliun, sementara IHSG naik 1,55 persen ke level 9.075,406 dari 8.936,754 dan mencetak rekor tertinggi.
Namun arah mulai berubah pada pekan 19–23 Januari. Meski masih mencatat net buy Rp759 miliar, akumulasi turun ke Rp4,05 triliun. IHSG terkoreksi 1,37 persen ke level 8.951,010 dari 9.075,406.
Tekanan berlanjut pada pekan 23–30 Januari. Asing mencatat net sell Rp1,53 triliun dan posisi akumulatif berbalik menjadi net sell Rp9,88 triliun. IHSG turun tajam 6,94 persen ke level 8.329,606 dari 8.951,010.
Memasuki Februari, tekanan belum mereda. Pada pekan 2–6 Februari, IHSG kembali turun 4,73 persen ke level 7.935,260 dari 8.329,606, meski pada hari terakhir tercatat net buy Rp944,31 miliar. Posisi akumulatif tetap berada di net sell Rp11,02 triliun.
Pada periode 16–20 Februari, net buy Rp240,57 miliar tidak mengubah arah karena akumulasi masih mencatat net sell Rp14,42 triliun. IHSG hanya menguat 0,72 persen ke level 8.271,767 dari 8.212,271.
Arah kembali negatif pada pekan 23–27 Februari dengan net sell Rp694,22 miliar. IHSG turun 0,44 persen ke level 8.235,485 dari 8.271,767.
Tekanan berlanjut ke Maret. Pada pekan 2–6 Maret, IHSG turun 7,89 persen ke level 7.585,687 dari 8.235,485, disertai net sell Rp263 miliar. Pelemahan berlanjut pada pekan 9–13 Maret, dengan IHSG turun 5,91 persen ke level 7.137,212 dari 7.585,687 dan net sell Rp117,17 miliar.
Puncak tekanan terjadi pada akhir kuartal I. Pada periode 30 Maret–2 April, asing kembali mencatat net sell Rp813,51 miliar. Secara akumulatif, dana asing keluar mencapai Rp33,83 triliun sepanjang 2026. IHSG pada periode tersebut turun 0,99 persen ke level 7.026,782 dari 7.097,057.
Dalam waktu kurang dari tiga bulan, IHSG turun dari level tertinggi di atas 9.000 ke kisaran 7.000. Kapitalisasi pasar juga menyusut dari Rp16.512 triliun menjadi sekitar Rp12.305 triliun.(*)