KABARBURSA.COM — PT Indo Premier Sekuritas melalui platform IPOT memberikan sejumlah rekomendasi saham untuk strategi trading pada pekan 9–13 Maret 2026 di tengah kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian global dan domestik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diproyeksikan bergerak dalam rentang support di level 7.400 dan resistance di level 7.900. Pelaku pasar diminta mencermati sejumlah sentimen penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
"Fokus utama pelaku pasar pada pekan depan kemungkinan masih tertuju pada stabilitas sentimen investor terhadap ekonomi domestik, terutama setelah revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings yang memicu kehati-hatian di pasar," ujar David dalam keterangan tertulis Senin, 9 Maret 2026.
Ia menjelaskan investor juga akan memperhatikan apakah tekanan jual dari investor asing mulai mereda. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah serta respons kebijakan dari Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar juga akan menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Di sisi lain, dinamika geopolitik global juga menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen pasar. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Pergerakan harga komoditas di tengah konflik tersebut berpotensi menjadi penopang bagi saham-saham berbasis energi dan sumber daya alam di Bursa Efek Indonesia.
Merespons kondisi pasar tersebut, IPOT merekomendasikan strategi trading pada saham-saham yang berpotensi mengalami breakout. Salah satu saham yang direkomendasikan adalah PT Diastika Biotekindo Tbk (DAAZ).
Saham DAAZ direkomendasikan dengan strategi buy pada harga saat ini di level Rp3.820 dengan target harga Rp4.200 atau potensi kenaikan sekitar 9,95 persen. Adapun batas stop loss ditetapkan pada level Rp3.640 atau sekitar minus 4,71 persen sehingga menghasilkan risk to reward ratio sebesar 1 banding 2,1. Emiten ini dinilai menarik karena memiliki value chain mineral yang komprehensif dan dalam jangka pendek mampu mempertahankan tren di atas indikator MA5.
Selain itu, IPOT juga merekomendasikan strategi buy on pullback untuk saham PT Elnusa Tbk (ELSA). Saham ini memiliki harga saat ini di level Rp850 dengan rencana entry di Rp810, target harga Rp900 atau potensi kenaikan sekitar 11,11 persen serta stop loss di Rp780 atau minus 3,70 persen. Dengan demikian risk to reward ratio saham ini berada di level 1 banding 3,0.
Menurut David, saham ELSA diuntungkan dari kenaikan harga minyak global. Secara teknikal saham ini juga berpotensi mengalami retracement menuju indikator MA20 sehingga dinilai menarik untuk strategi buy on pullback.
Rekomendasi berikutnya adalah PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dengan strategi buy on breakout. Saham ini memiliki harga saat ini Rp600 dengan rencana entry di Rp620, target harga Rp685 atau potensi kenaikan sekitar 10,48 persen serta stop loss di Rp590 atau minus 4,84 persen. Risk to reward ratio saham ini tercatat sekitar 1 banding 2,2.
SIMP dinilai menarik karena harga minyak sawit mentah atau crude palm oil mulai menunjukkan tren kenaikan. Secara teknikal saham ini juga memiliki potensi breakout dari area resistance.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan instrumen reksa dana saham Premier ETF Indonesia Consumer (XIIC) yang termasuk dalam Power Fund Series. Produk ini dinilai memiliki prospek menarik seiring dinamika pasar energi global.
Harga minyak West Texas Intermediate tercatat melonjak lebih dari 3 persen ke kisaran USD77 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Eskalasi konflik semakin memanas setelah muncul laporan bahwa kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di dekat Sri Lanka. Insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas di kawasan.
Ketegangan tersebut juga berdampak pada jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz setelah adanya peringatan dari Garda Revolusi Iran. Selat tersebut merupakan jalur utama perdagangan energi dunia sehingga potensi gangguan pasokan menjadi perhatian pasar global.
Sebagai respons, pemerintah Amerika Serikat berupaya meredam risiko dengan menawarkan perlindungan asuransi serta pengawalan militer bagi kapal komersial yang melintas di Teluk Persia guna menjaga stabilitas pasokan energi global.(*)