KABARBURSA.COM — Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menutup perdagangan Jumat, 24 April 2026 di level Rp4.050, menguat sekitar 0,75 persen dalam sehari. Dalam sebulan terakhir, kenaikan bahkan mencapai sekitar 8 persen, menunjukkan tren yang mulai menguat di tengah sentimen sektor komoditas.
Secara pergerakan harian, saham ANTM cenderung bergerak dalam rentang sempit di kisaran Rp3.970 hingga Rp4.070. Pola ini mencerminkan fase konsolidasi setelah penguatan sebelumnya dengan level Rp4.000 menjadi area psikologis yang cukup kuat menahan pergerakan.
Dari sisi teknikal, posisi harga yang berada di atas rata-rata pergerakan jangka pendek menunjukkan kecenderungan tren yang masih terjaga. Indikator momentum juga mulai melandai yang menandakan pasar sedang menunggu katalis baru untuk menentukan arah berikutnya.
Di tengah kondisi tersebut, muncul sentimen korporasi yang berpotensi memengaruhi arah saham. Bloomberg melaporkan Danantara tengah dalam pembicaraan untuk mengakuisisi sebagian atau seluruh 38,7 persen saham Eramet di PT Weda Bay Nickel.
Sebagai bagian dari rencana tersebut, Danantara juga disebut berpotensi ikut serta dalam peningkatan modal sebesar €500 juta. Di sisi lain, produksi Weda Bay Nickel akan dihentikan sementara mulai Mei 2026 karena pemangkasan kuota produksi hingga 71 persen dalam RKAB tahun ini.
ANTM sendiri memiliki kepemilikan sekitar 10 persen di proyek tersebut sehingga setiap perubahan struktur kepemilikan maupun operasional berpotensi berdampak terhadap eksposur bisnis perseroan di sektor nikel.
Dari sisi fundamental, proyeksi analis menunjukkan arah pertumbuhan yang masih positif. Konsensus memperkirakan pendapatan ANTM meningkat dari sekitar Rp84,6 triliun pada 2025 menjadi Rp117,5 triliun pada 2026, dan kembali naik ke Rp124,5 triliun pada 2027.
Laba bersih juga diproyeksikan tumbuh dari Rp7,2 triliun menjadi Rp8,9 triliun pada 2026, sebelum mencapai Rp9,4 triliun pada 2027. Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi terhadap perbaikan kinerja operasional di tengah dinamika harga komoditas.
Dari sisi pasar, mayoritas analis masih memberikan rekomendasi positif. Dari total 28 analis yang memantau saham ini, sebanyak 24 memberikan rekomendasi beli, tiga menahan, dan hanya satu yang merekomendasikan jual.
Target harga rata-rata analis berada di kisaran Rp5.219, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp6.000 dan terendah Rp4.300. Dibandingkan harga saat ini, ruang kenaikan masih terbuka, meski tetap bergantung pada perkembangan sentimen eksternal dan korporasi.
Dalam konteks ini, arah saham ANTM tampak berada di persimpangan antara sentimen jangka pendek dan ekspektasi jangka menengah. Di satu sisi, pasar masih bergerak hati-hati dalam fase konsolidasi. Di sisi lain, proyeksi kinerja dan dukungan analis memberi ruang bagi potensi lanjutan penguatan.
Dalam program Morning Investview BNI Sekuritas, Research Analyst Kevin mengungkapkan lonjakan ANTM merupakan respons yang ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar. "Selama ini investor bertanya-tanya mengapa emas dunia naik dan saham emas lain seperti ARCHI atau BRMS melesat, tapi ANTM diam saja,” katanya seperti disiarkan Channel YouTube BNI Sekuritas.
Selain faktor teknis, sentimen fundamental juga datang dari regulasi terbaru. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025 menetapkan tarif bea keluar emas hingga maksimal 15 persen. Kebijakan ini justru diproyeksikan berdampak positif bagi emiten yang memiliki kilang pemurnian sendiri.
ANTM sendiri tengah dalam rencana besar untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Perusahaan menargetkan kapasitas pemurnian emas naik menjadi 90 ton per tahun. Langkah strategis ini diharapkan dapat memaksimalkan margin keuntungan di tengah aturan ekspor yang baru.
Data pasar menunjukkan kepercayaan investor institusi global kembali kuat ke saham ini. Data perdagangan Stockbit menunjukkan investor asing masih mencatatkan net buy sekitar Rp3,09 miliar di pasar reguler pada 24 April 2026.
Nilai pembelian asing tercatat mencapai sekitar Rp120,37 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan penjualan yang berada di kisaran Rp117,28 miliar. Meski selisihnya relatif tipis, kondisi ini memberi sinyal bahwa minat investor global terhadap ANTM masih terjaga di tengah ketidakpastian sentimen sektor nikel.
Namun, dominasi transaksi tetap berada di tangan investor domestik yang menguasai sekitar 62,72 persen dari total aktivitas pasar, sementara porsi asing berada di level 37,28 persen. Investor domestik tercatat melakukan pembelian sekitar Rp198,40 miliar, tetapi di saat yang sama juga mencatatkan penjualan lebih besar yakni Rp201,49 miliar, sehingga berujung pada tekanan jual bersih.
Kombinasi ini mencerminkan kondisi pasar yang masih tarik-menarik. Di satu sisi, aliran dana asing yang mulai masuk memberi bantalan bagi harga saham. Di sisi lain, aksi ambil untung dari investor domestik menahan laju penguatan lebih lanjut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.