KABARBURSA.COM – PT Bank OCBC NISP Tbk atau dalam kode saham NISP memaparkan capaian kinerja keuangan tahun penuh 2025 dalam rangkaian Paparan Publik Tahunan yang berlangsung hari ini.
Perseroan menyatakan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang solid sebesar 4 persen secara tahunan menjadi Rp5,1 triliun, meskipun menghadapi tantangan pada sisi pendapatan bunga.
Direktur Keuangan OCBC, Hartati, mengungkapkan bahwa pertumbuhan laba ini diikuti dengan tingkat pengembalian ekuitas atau Return on Equity yang terjaga di level 12,2 persen. Namun, ia tidak menampik adanya perlambatan pada pos pendapatan bunga bersih seiring dengan dinamika penyaluran kredit di sepanjang tahun lalu.
“Berikut saya akan menyampaikan kinerja keuangan ketiba posisi NSPT Rika tahun 2020. Pada tahun 2025, kembali mengumpulkan kinerja berkelanjutan. Kalau kita lihat ada labah ekstresi, tumbuh 4 persen menjadi Rp5,1 triliun dengan ROE atau Rekun On Equity sebesar 12,2 persen,” ujar Hartati di OCBC Tower, Jakarta Selatan pada Kamis, 9 April 2026.
Dalam paparannya, Hartati merinci bahwa total kredit yang disalurkan perusahaan tumbuh tipis 2 persen menjadi Rp173 triliun. Meski tumbuh terbatas, kualitas aset perseroan tetap berada dalam kondisi prima dengan rasio kredit bermasalah atau NPL Bruto di level 1,9 persen, yang mana angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan.
Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru melonjak tajam hingga 18 persen mencapai Rp244 triliun. Pertumbuhan ini didominasi oleh dana murah melalui komposisi Giro dan Tabungan (CASA) yang meningkat 24 persen, sehingga rasio CASA naik ke posisi 58 persen.
“Total kredit yang disarurkan tumbuh 2 persen menjadi Rp173 triliun dengan kualitas kredit yang terjaga, yang terjemin pada NPA ratio sebesar 1,9 persen di mana rasio ini lebih rendah dari rata-rata industri. Total simpanan kasaba atau dana pihak TK meningkat 18 persen mencapai Rp244 triliun,” jelas Hartati.
Meskipun pendapatan bunga bersih mengalami penurunan akibat perlambatan kredit dan tekanan marjin bunga bersih (NIM) ke level 3,9 persen, perseroan mampu mengimbanginya melalui efisiensi. Hal ini terlihat dari Cost to Income Ratio (CTIR) yang membaik ke angka 47,1 persen serta rasio BOPO yang terjaga di level 69,6 persen.
Pendapatan non-bunga juga menjadi penopang kinerja tahun 2025, yang didorong oleh keuntungan dari penjualan surat berharga serta pendapatan transaksi valuta asing yang dipengaruhi oleh kondisi pasar yang fluktuatif. Dari sisi struktur kredit, sektor produktif masih mendominasi sebesar 84 persen, yang terbagi atas kredit modal kerja 41 persen dan investasi 43 persen.
OCBC juga memperkuat bantalan risikonya dengan mengalokasikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang memadai, dengan provision coverage ratio mencapai 256 persen. Ketahanan modal bank pun terlihat sangat kokoh dengan CAR atau rasio kecukupan modal sebesar 24,5 persen pada akhir tahun 2025.
Sementara itu, di pasar modal, harga saham NISP pada perdagangan hari ini terpantau berada di level 1.395 per lembar saham. Meski kinerja keuangan tergolong impresif, saham NISP masih memiliki tantangan dari sisi regulasi bursa terkait porsi saham publik atau free float yang saat ini tercatat sebesar 13,98 persen.
Angka tersebut masih berada di bawah ketentuan minimal Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mewajibkan perusahaan tercatat memiliki free float minimal 15 persen.(*)