KABARBURSA.COM – Laba PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk di tahun 2025, terbang tinggi 112 persen. Perusahaan mencatatkan laba bersih Rp647,82 miliar, naik dibandingkan Rp304,62 miliar pada 2024.
Kenaikan ini berjalan seiring dengan pertumbuhan penjualan yang mencapai Rp2,01 triliun, naik 35,2 persen dari Rp1,49 triliun pada periode sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh struktur biaya yang relatif terkendali. Beban pokok penjualan hanya naik 1,6 persen menjadi Rp919,57 miliar, sehingga laba kotor melonjak 87,1 persen menjadi Rp1,09 triliun. Pergerakan ini menunjukkan adanya ekspansi margin yang cukup lebar di tingkat operasional.
Dari sisi operasional, laba usaha tercatat Rp894,41 miliar, meningkat 61,6 persen secara tahunan. Laba sebelum pajak juga naik 90,2 persen menjadi Rp773,45 miliar, sebelum akhirnya menghasilkan laba bersih Rp647,82 miliar setelah beban pajak sebesar Rp125,63 miliar.
Struktur neraca turut mencerminkan penguatan tersebut. Ekuitas meningkat 42,1 persen menjadi Rp1,94 triliun, sementara liabilitas justru turun 4,3 persen menjadi Rp2,26 triliun. Di sisi aset, total mencapai Rp4,2 triliun atau naik 12,7 persen, dengan posisi kas dan setara kas melonjak 97 persen menjadi Rp761,73 miliar.
Ekspektasi 2026
Dengan basis kinerja tersebut, ekspektasi terhadap 2026 mulai terbentuk dari konsensus analis. Rata-rata target harga saham NSSS berada di kisaran Rp625 per saham dalam 12 bulan ke depan, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp650.
Angka ini muncul setelah saham sempat mencatatkan harga tertinggi di level Rp2.180 pada Januari 2026 sebelum mengalami volatilitas dan suspensi perdagangan.
Dari sisi proyeksi kinerja, laba bersih NSSS untuk 2026 diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp1,01 triliun. Revisi ini mencerminkan asumsi peningkatan efisiensi operasional serta dukungan dari harga jual yang lebih tinggi. Mayoritas analis masih mempertahankan rekomendasi buy terhadap saham ini.
Faktor Penggerak Kinerja
Sejumlah faktor menjadi pendorong utama dalam proyeksi tersebut. Implementasi program biodiesel B50 yang ditetapkan pada April 2026 menjadi salah satu katalis, karena berpotensi meningkatkan permintaan domestik terhadap minyak sawit. Kebijakan ini memberikan ruang tambahan bagi penyerapan produksi CPO di dalam negeri.
Dari sisi operasional, profil tanaman NSSS juga menjadi perhatian. Dengan usia rata-rata sekitar 10,7 tahun, sebagian besar kebun masih berada dalam fase pertumbuhan menuju puncak produksi. Rentang usia optimal produksi di kisaran 16 hingga 20 tahun menjadi dasar proyeksi peningkatan volume ke depan.
Ekspansi kapasitas juga masuk dalam rencana perusahaan. NSSS berencana membangun pabrik pengolahan CPO ketiga dengan kapasitas 45 hingga 60 ton per jam. Selain itu, penambahan lahan tanam baru sekitar 1.500 hingga 2.000 hektare per tahun menjadi bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.
Di sisi eksternal, pergerakan harga CPO global turut menjadi faktor penopang. Keterbatasan pasokan dari produsen utama mendorong harga tetap berada di level yang tinggi. Kondisi ini secara langsung berpengaruh terhadap margin dan profitabilitas perusahaan.
Dengan kombinasi antara pertumbuhan kinerja 2025 dan proyeksi 2026, NSSS bergerak dalam dua fase yang saling terhubung. Kinerja historis menunjukkan ekspansi yang kuat, sementara proyeksi ke depan ditopang oleh faktor kebijakan, struktur tanaman, dan kondisi pasar global.(*)