KABARBURSA.COM – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) resmi menyetujui rencana pembagian dividen tunai senilai total Rp1,3 triliun dari laba bersih tahun buku 2025.
Persetujuan ini diperoleh melalui forum Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilaksanakan pada Kamis, 11 Juni 2026. Setiap pemegang saham akan menerima jatah keuntungan tunai sebesar Rp114 per lembar saham.
PTBA menetapkan rasio pembayaran dividen sebesar 45 persen dari total laba bersih tahun buku 2025.
Total pembagian dividen tersebut memberikan indikasi dividend yield sebesar 4,2 persen jika dihitung berdasarkan harga saham PTBA yang diperdagangkan pada level Rp2.730 per lembar saat sesi intraday berlangsung hari ini.
Angka yield ini dinilai kompetitif bagi para pelaku pasar yang mengutamakan instrumen investasi dengan imbal hasil terukur. Investor kini hanya menunggu pengumuman resmi mengenai jadwal cum date dan tanggal pembayaran dividen dari manajemen perusahaan.
Keputusan penyesuaian porsi pembagian laba ini diambil sebagai bentuk kehati hatian manajemen dalam mengelola arus kas menghadapi tantangan volatilitas harga komoditas global.
Laba Bersih 2025 PTBA Tergerus
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) meraup laba bersih sebesar Rp2,93 triliun pada tahun buku 2025. Angka ini turun dibanding tahun sebelumnya yang senilai Rp5,10 triliun.
Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan PTBA di 2025 tercatat sebesar Rp42,65 triliun, sedikit menurun dari Rp42,76 trliun pada tahun 2024. Penurunan tipis ini terjadi saat beban pokok pendapatan justru meningkat menjadi Rp36,39 triliun dari Rp34,56 triliun.
Kondisi tersebut menekan laba bruto emiten batu bara ini menjadi Rp6,25 triliun atau turun dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp8,20 triliun.
Dari sisi neraca, total aset PTBA meningkat menjadi Rp43,91 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp41,78 triliun pada 2024. Kenaikan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan aset tetap yang naik menjadi Rp11,18 triliun dari Rp8,73 triliun serta investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp9,62 triliun.
Total liabilitas juga meningkat menjadi Rp21,30 triliun dari Rp19,14 triliun. Kenaikan ini didorong oleh liabilitas jangka panjang yang naik menjadi Rp8,57 triliun dari Rp7,16 triliun.
Sementara itu, ekuitas relatif stabil di kisaran Rp22,61 triliun, sedikit turun dari Rp22,64 triliun. Penurunan ini terjadi seiring pembagian dividen sebesar Rp3,82 triliun selama tahun berjalan.
Dari sisi arus kas, aktivitas operasi menghasilkan kas sebesar Rp6,26 triliun, meningkat dari Rp5,04 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, arus kas investasi tercatat negatif Rp3,40 triliun, sementara arus kas sebesar Rp2,52 triliun.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail menekankan, capaian kinerja operasional sepanjang 2025 ini menjadi cerminan ketahanan bisnis Perseroan di tengah tekanan harga batu bara global yang berfluktuasi.
"Tahun 2025 adalah pembuktian atas resiliensi operasional kami. Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22 persen, PTBA mampu menjawab tantangan tersebut dengan peningkatan efisiensi operasional dan perluasan pangsa pasar global," jelas dia dalam siaran pers.
Meskipun di tengah tantangan volatilitas pasar global, kinerja keuangan PTBA juga masih sehat didukung dengan arus kas yang kuat secara finansial. Sepanjang 2025, PTBA mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun dengan EBITDA mencapai Rp6,08 triliun.
Memasuki tahun 2026, PTBA menyambut positif persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tanpa adanya pemotongan volume produksi. Perseroan membidik target produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton pada tahun ini.
Arsal menambahkan, strategi cost leadership melalui skema selective mining dan optimasi rantai pasok akan terus menjadi mesin utama perusahaan untuk menjaga daya saing.
“Dengan fokus pada efisiensi dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan kepatuhan terhadap tata kelola perusahaan, PTBA optimis dapat menjaga kinerja positif yang berkelanjutan untuk berkontribusi pada perekonomian bangsa serta menjaga ketahanan energi nasional,” pungkasnya. (*)