KABARBURSA.COM – Saham Asia melemah pada perdagangan tengah hari, Kamis, 30 April 2026 ketika pelaku pasar mempertimbangkan lonjakan tajam harga minyak, kinerja keuangan perusahaan yang beragam, serta prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang cenderung berhati-hati.
Sebagaimana dilansir Investing, Wall Street ditutup relatif stagnan pada perdagangan sebelumnya, sementara kontrak berjangka yang terkait dengan indeks berbasis teknologi justru menguat dalam perdagangan Asia pada Kamis.
Saham teknologi bergerak bervariasi di kawasan, mengikuti reaksi yang tidak merata terhadap laporan keuangan perusahaan raksasa teknologi di Amerika Serikat.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,4 persen, sementara indeks TOPIX yang lebih luas melemah 1,5 persen.
Indeks Shanghai Composite China bergerak cenderung datar, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 1,5 persen.
Harga minyak tetap menjadi penggerak utama sentimen pasar, dengan Brent melonjak di atas USD120 per barel di tengah berlanjutnya penutupan Selat Hormuz.
Laporan Wall Street Journal pada Rabu, 29 April 2026 menyebut Donald Trump mendorong sekutu untuk bergabung dalam koalisi “Maritime Freedom Construct” guna memulihkan jalur pelayaran di selat tersebut, di saat Washington dilaporkan bersiap menghadapi potensi blokade berkepanjangan.
Sentimen investor juga dipengaruhi keputusan terbaru The Fed yang mempertahankan suku bunga.
Ketua The Fed Jerome Powell, dalam konferensi pers yang diperkirakan menjadi yang terakhir selama masa jabatannya sebagai ketua, memperingatkan bahwa risiko inflasi masih tinggi akibat kenaikan harga energi, sekaligus memberi sinyal akan tetap berada di dewan sebagai gubernur.
Indeks KOSPI Korea Selatan turun tipis 0,2 persen setelah sempat menyentuh rekor tertinggi 6.750,27 poin pada awal perdagangan, didorong oleh kinerja kuat Samsung Electronics.
Saham Samsung juga sempat mencapai rekor tertinggi pada Kamis sebelum berbalik melemah. Perusahaan melaporkan laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, ditopang oleh lonjakan permintaan chip memori yang terkait kecerdasan buatan.
Di Amerika Serikat, kinerja perusahaan yang dikenal sebagai “Magnificent Seven” bervariasi, namun secara umum tetap mencerminkan kuatnya belanja di sektor kecerdasan buatan.
Data ekonomi turut menambah kehati-hatian pasar. Output pabrik Jepang secara tak terduga turun pada Maret, mengindikasikan lemahnya sektor manufaktur, sementara pertumbuhan penjualan ritel melampaui perkiraan.
Di China, data resmi menunjukkan aktivitas pabrik tumbuh untuk bulan kedua berturut-turut, dengan indeks manajer pembelian manufaktur tetap berada di atas level 50, didukung oleh ekspor yang lebih kuat.
Di kawasan Asia lainnya, indeks Nifty 50 India turun 1,1 persen.
Indeks Straits Times Singapura naik 0,5 persen, sementara S&P/ASX 200 Australia melemah tipis 0,3 persen.(*)