Logo
>

Minyak Ngebut, Bursa Asia Kena Tekan di Sesi Pagi

Lonjakan harga minyak, sinyal hati-hati The Fed, dan kinerja saham teknologi global membentuk arah pasar Asia yang bergerak variatif.

Ditulis oleh Syahrianto
Minyak Ngebut, Bursa Asia Kena Tekan di Sesi Pagi
Ilustrasi: Layar menampilkan indeks saham Korea Selatan KOSPI, KOSDAQ, USD/KRW. (Foto: Wikimedia Commons/bada.kbs.co.kr)

KABARBURSA.COM – Saham Asia melemah pada perdagangan tengah hari, Kamis, 30 April 2026 ketika pelaku pasar mempertimbangkan lonjakan tajam harga minyak, kinerja keuangan perusahaan yang beragam, serta prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang cenderung berhati-hati.

Sebagaimana dilansir Investing, Wall Street ditutup relatif stagnan pada perdagangan sebelumnya, sementara kontrak berjangka yang terkait dengan indeks berbasis teknologi justru menguat dalam perdagangan Asia pada Kamis.

Saham teknologi bergerak bervariasi di kawasan, mengikuti reaksi yang tidak merata terhadap laporan keuangan perusahaan raksasa teknologi di Amerika Serikat.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,4 persen, sementara indeks TOPIX yang lebih luas melemah 1,5 persen.

Indeks Shanghai Composite China bergerak cenderung datar, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 1,5 persen.

Harga minyak tetap menjadi penggerak utama sentimen pasar, dengan Brent melonjak di atas USD120 per barel di tengah berlanjutnya penutupan Selat Hormuz.

Laporan Wall Street Journal pada Rabu, 29 April 2026 menyebut Donald Trump mendorong sekutu untuk bergabung dalam koalisi “Maritime Freedom Construct” guna memulihkan jalur pelayaran di selat tersebut, di saat Washington dilaporkan bersiap menghadapi potensi blokade berkepanjangan.

Sentimen investor juga dipengaruhi keputusan terbaru The Fed yang mempertahankan suku bunga.

Ketua The Fed Jerome Powell, dalam konferensi pers yang diperkirakan menjadi yang terakhir selama masa jabatannya sebagai ketua, memperingatkan bahwa risiko inflasi masih tinggi akibat kenaikan harga energi, sekaligus memberi sinyal akan tetap berada di dewan sebagai gubernur.

Indeks KOSPI Korea Selatan turun tipis 0,2 persen setelah sempat menyentuh rekor tertinggi 6.750,27 poin pada awal perdagangan, didorong oleh kinerja kuat Samsung Electronics.

Saham Samsung juga sempat mencapai rekor tertinggi pada Kamis sebelum berbalik melemah. Perusahaan melaporkan laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, ditopang oleh lonjakan permintaan chip memori yang terkait kecerdasan buatan.

Di Amerika Serikat, kinerja perusahaan yang dikenal sebagai “Magnificent Seven” bervariasi, namun secara umum tetap mencerminkan kuatnya belanja di sektor kecerdasan buatan.

Data ekonomi turut menambah kehati-hatian pasar. Output pabrik Jepang secara tak terduga turun pada Maret, mengindikasikan lemahnya sektor manufaktur, sementara pertumbuhan penjualan ritel melampaui perkiraan.

Di China, data resmi menunjukkan aktivitas pabrik tumbuh untuk bulan kedua berturut-turut, dengan indeks manajer pembelian manufaktur tetap berada di atas level 50, didukung oleh ekspor yang lebih kuat.

Di kawasan Asia lainnya, indeks Nifty 50 India turun 1,1 persen.

Indeks Straits Times Singapura naik 0,5 persen, sementara S&P/ASX 200 Australia melemah tipis 0,3 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.