KABARBURSA.COM - Tekanan di pasar saham Indonesia pada perdagangan sesi pertama hari ini tidak terlepas dari aksi investor asing. Setelah sempat melakukan akumulasi pada sejumlah saham dalam beberapa pekan terakhir, kini terlihat mulai melakukan profit taking. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks menjadi sasaran utama.
Data aktivitas investor asing hingga perdagangan midday Senin, 29 Juni 2026, total nilai pembelian asing mencapai sekitar Rp1,27 triliun, sementara nilai penjualan mencapai Rp1,72 triliun. Selisih keduanya menghasilkan net foreign sell sebesar Rp449,83 miliar, mencerminkan tekanan jual yang masih cukup dominan di pasar.
Dari jumlah itu, sekitar Rp321,93 miliar atau sekitar 71,6 persen berasal dari aksi jual asing di empat saham bank besar tersebut.
Tekanan jual terkonsentrasi pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
BBCA Paling Banyak Dilepas Asing
BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing. Hingga pertengahan perdagangan, nilai jual bersih asing mencapai sekitar Rp186,40 miliar dengan volume mencapai 30,64 juta saham. Tekanan tersebut sejalan dengan pelemahan harga saham BBCA yang turun 2,43 persen ke level Rp6.025.
Padahal, sehari sebelumnya, BBCA masih mencatat penguatan 2,49 persen dan berhasil membukukan net foreign buy sekitar Rp429,71 miliar.
Perubahan yang terjadi dalam waktu singkat itu memperlihatkan adanya rotasi dana setelah saham berhasil menguat pada perdagangan sebelumnya. Dengan kata lain, sebagian investor asing tampaknya memilih mengamankan keuntungan yang sudah diperoleh.
Rp58,63 Miliar Menguap dari BBRI
Pola serupa juga terlihat pada saham BBRI. Investor asing membukukan net sell sekitar Rp58,63 miliar dengan volume penjualan mencapai 20,60 juta saham. Saham BBRI sendiri terkoreksi 1,05 persen ke level Rp2.840.
Jika melihat beberapa hari terakhir, saham BBRI sebenarnya sempat mengalami pola transaksi yang fluktuatif. Pada perdagangan 26 Juni lalu, investor asing masih mencatat net buy sekitar Rp75,14 miliar, sementara sehari sebelumnya justru terjadi net sell sekitar Rp93,23 miliar.
Investor asing tampaknya masih aktif melakukan pengelolaan portofolio secara jangka pendek di saham ini.
BMRI Kehilangan Rp48,80 Miliar
Tekanan jual juga berlanjut pada saham BMRI. Hingga sesi pertama, asing mencatat net sell sekitar Rp48,40 miliar dengan volume sekitar 12,20 juta saham. Harga saham BMRI ikut melemah 1 persen ke level Rp3.950.
Apabila melihat histori perdagangan beberapa hari terakhir, aksi jual asing di BMRI sebenarnya bukan fenomena baru. Pada perdagangan 26 Juni, saham ini juga mencatat net foreign sell sekitar Rp173,95 miliar, bahkan sehari sebelumnya mencapai sekitar Rp224,17 miliar.
Artinya, tekanan distribusi di saham BMRI telah berlangsung selama beberapa hari dan masih berlanjut pada perdagangan hari ini.
BBNI Fluktuatif
Saham BBNI juga tidak luput dari aksi ambil untung. Investor asing membukukan net sell sekitar Rp28,50 miliar dengan volume sekitar 8,65 juta saham. Saham BBNI turun 1,20 persen ke level Rp3.280 pada sesi pertama.
Berbeda dengan BBCA maupun BBRI yang dalam beberapa hari terakhir masih sempat memperoleh akumulasi asing, BBNI justru lebih banyak mengalami pola transaksi yang bergantian.
Pada perdagangan 26 Juni misalnya, asing mencatat net sell sekitar Rp27,97 miliar, sedangkan pada 23 Juni masih terdapat net buy sekitar Rp25,16 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan belum adanya arah akumulasi yang benar-benar konsisten.
Di sisi lain, aksi jual di kelompok perbankan tidak berarti investor asing sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia. Dana asing justru mulai berpindah ke sejumlah saham sektor energi dan komoditas.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi tujuan utama dengan net foreign buy sekitar Rp49,77 miliar. Di bawahnya terdapat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang membukukan pembelian bersih asing sekitar Rp23,63 miliar, disusul PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sekitar Rp8,52 miliar, serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sekitar Rp7,82 miliar.
Rotasi tersebut memperlihatkan bahwa investor asing masih mempertahankan eksposurnya di pasar saham Indonesia, tetapi mulai mengalihkan dana dari saham-saham yang telah mengalami kenaikan sebelumnya menuju sektor yang dinilai memiliki momentum berbeda.
Perdagangan sesi kedua akan menjadi penentu apakah tekanan jual asing masih berlanjut atau mulai mereda. Jika aksi profit taking mulai berkurang dan pembeli kembali masuk di saham-saham perbankan, bukan tidak mungkin pelemahan harga dapat tertahan.
Sebaliknya, apabila distribusi asing terus berlanjut hingga penutupan perdagangan, tekanan terhadap indeks berpotensi tetap bertahan mengingat besarnya bobot kapitalisasi empat bank tersebut terhadap pergerakan IHSG.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.