KABARBURSA.COM - Perdagangan sesi pertama Senin, 29 Juni 2026, tidak hanya diwarnai tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ada pergerakan menarik dari para broker papan atas, yaitu UBS Sekuritas Indonesia (AK), Maybank Sekuritas Indonesia (ZP), dan J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK).
Data Top Broker menunjukkan Mandiri Sekuritas (CC) memimpin nilai transaksi sebesar Rp1,06 triliun. Posisi berikutnya ditempati Stockbit Sekuritas Digital (XL) dengan transaksi sekitar Rp987,9 miliar, dan disusul UBS Sekuritas Indonesia (AK) senilai Rp984,3 miliar.
Sementara Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) berada di posisi keempat dengan nilai transaksi sekitar Rp632,7 miliar, sedangkan J.P. Morgan Sekuritas Indonesia (BK) menempati posisi keenam dengan transaksi sekitar Rp347,7 miliar.
Yang menarik, ketiga broker aktif memperdagangkan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan komoditas. Aktivitas tersebut memberi gambaran mengenai rotasi dana yang masih berlangsung di pasar.
UBS Sekuritas Akumulasi BBCA, Buang BMRI
UBS Sekuritas Indonesia menjadi salah satu broker paling aktif sepanjang sesi pertama. Dari sisi pembelian, broker berkode AK ini paling banyak mengakumulasi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yaitu senilai sekitar Rp36,9 miliar dengan harga rata-rata Rp6.120.
Akumulasi berikutnya pada saham PT United Tractors Tbk (UNTR) senilai Rp36,7 miliar, disusul saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sekitar Rp30 miliar.
Namun di sisi lain, UBS juga melakukan distribusi pada sejumlah saham unggulan. Penjualan terbesar tercatat pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai sekitar Rp43,7 miliar, kemudian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sekitar Rp36,1 miliar, serta PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp34,4 miliar.
UBS tidak melakukan aksi beli secara agresif di sektor tertentu, melainkan melakukan rotasi portofolio dengan mengurangi eksposur di beberapa saham perbankan sambil menambah posisi pada saham lain seperti BBCA, UNTR, dan AMMN.
ZP Serok Besar BBCA, Buang BMRI
Aktivitas serupa juga terlihat di Maybank Sekuritas Indonesia. Broker berkode ZP tercatat melakukan pembelian terbesar pada saham BBCA dengan nilai sekitar Rp142,2 miliar. Di bawahnya terdapat BBRI senilai Rp124,6 miliar, kemudian PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sekitar Rp38,5 miliar.
Meski demikian, di sisi penjualan Maybank justru lebih banyak membuang saham BMRI dengan nilai sekitar Rp205,9 miliar. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga dilepas senilai sekitar Rp104,2 miliar, sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat dijual sekitar Rp34,9 miliar.
Pergerakan ini memperlihatkan adanya reposisi portofolio di dalam kelompok saham berkapitalisasi besar. Maybank masih masuk sebagai pembeli pada BBCA dan BBRI, tetapi secara bersamaan juga melakukan pelepasan cukup besar di BMRI dan TLKM.
BK Beli Banyak BMRI, Lepas ANTM
Sementara itu, J.P. Morgan Sekuritas Indonesia memperlihatkan pola transaksi yang sedikit berbeda. Broker berkode BK membukukan pembelian terbesar pada saham BMRI sekitar Rp55,3 miliar, disusul TLKM senilai Rp29,6 miliar, serta BBCA sekitar Rp27 miliar.
Di sisi penjualan, J.P. Morgan paling banyak melepas saham ANTM dengan nilai sekitar Rp83,3 miliar. Selain itu terdapat UNTR yang dijual sekitar Rp14,3 miliar, serta PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sekitar Rp8,1 miliar.
Jika dicermati, pola transaksi J.P. Morgan menunjukkan kecenderungan berbeda dibanding UBS dan Maybank. Broker ini justru masih melakukan akumulasi pada saham-saham perbankan besar, sementara pelepasan lebih banyak diarahkan ke sektor pertambangan dan energi.
Saham Perbankan Paling Banyak Diperdagangkan
Dari keseluruhan transaksi tersebut terlihat bahwa sektor perbankan tetap menjadi pusat perhatian pelaku pasar. BBCA, BBRI, dan BMRI muncul berulang kali baik di daftar pembelian maupun penjualan ketiga broker.
Di sisi lain, saham-saham komoditas seperti ANTM, UNTR, AMMN, TINS, hingga DSSA juga cukup aktif berpindah tangan.
Dengan IHSG yang masih bergerak di zona merah pada sesi pertama, aktivitas UBS, Maybank, dan J.P. Morgan memperlihatkan bahwa pasar belum kehilangan likuiditas. Dana masih terus berputar di saham-saham unggulan, hanya saja arah alirannya kini lebih selektif seiring meningkatnya aksi rotasi portofolio di kalangan investor institusi.(*)