KABARBURSA.COM - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan 15 April 2026, didorong sentimen risk-on selektif seiring meredanya kekhawatiran geopolitik dan turunnya harga energi global.
Penguatan terjadi di hampir seluruh indeks utama, mengikuti reli pasar global yang dipicu harapan de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks Nikkei melonjak 1,05 persen ke level 58.485,99, diikuti Kospi yang memimpin penguatan dengan kenaikan 2,98 persen ke 6.145,68. Sementara itu, Hang Seng naik 0,82 persen ke 25.872,32 dan SSE Composite menguat 0,95 persen ke 4.026,63.
Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Sentimen positif sudah terbentuk sejak sesi sebelumnya di Wall Street, di mana S&P 500 naik 1,17 persen dan Nasdaq menguat 1,95 persen mendekati rekor penutupan.
Optimisme tersebut muncul setelah pasar melihat peluang terbukanya jalur negosiasi baru antara AS dan Iran.
Penurunan harga minyak menjadi katalis utama bagi pasar Asia. Harga Brent tercatat turun tajam ke kisaran USD94 per barel, meredakan kekhawatiran inflasi dan biaya produksi di kawasan yang mayoritas merupakan importir energi.
Pelemahan dolar AS juga memperkuat sentimen, dengan indeks dolar turun mendekati level sebelum konflik meningkat.
Namun, perilaku pasar menunjukkan reli ini belum sepenuhnya berbasis fundamental jangka panjang. Investor cenderung melakukan reposisi risiko setelah sebelumnya bersikap defensif.
“Kita memang belum mendapatkan penyelesaian, tetapi investor tidak ingin melewatkan momentum pemulihan,” kata Burns McKinney, Portfolio Manager NFJ Investment Group, dikutip Reuters, 14 April 2026.
Pandangan serupa datang dari sisi strategi pasar global. Karl Schamotta, Chief Market Strategist Corpay, menyebut ekspektasi pasar mulai mengarah pada kemungkinan solusi diplomatik
“Ada sinyal yang sangat jelas dari pemerintahan Trump bahwa mereka sedang mencari jalan keluar, dan hal ini membentuk ekspektasi pasar bahwa pada akhirnya akan ada kesepakatan simbolis antara AS dan Iran yang memungkinkan serangan berhenti serta Selat Hormuz kembali dibuka,” ujarnya dikutip dari Reuters, 14 April 2026.
Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan fondasi makro masih rapuh. Lonjakan harga energi sebelumnya mulai tercermin dalam data ekonomi kawasan.
Korea Selatan mencatat kenaikan harga impor sebesar 18,4 persen secara tahunan pada Maret, sementara kepercayaan manufaktur Jepang turun tajam akibat tekanan biaya dan gangguan rantai pasok. Di sisi valuasi global, tekanan juga mulai terlihat.
“Pasar (AS) telah mengalami penyesuaian valuasi dan kini diperdagangkan dengan premi dibandingkan pasar negara maju di luar AS; ini mendekati rata-rata historis,” kata analis Citigroup dalam laporan yang dikutip Reuters, 14 April 2026.
Kondisi ini menempatkan reli Asia dalam konteks yang lebih hati-hati. Kenaikan saat ini lebih mencerminkan relief rally yang berlanjut didukung penurunan harga minyak, pelemahan dolar, dan sentimen global.(*)