KABARBURSA.COM – Kinerja keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di kuartal pertama 2026, menjadi sorotan pasar. Labanya bertumbuh 4 persen, namun NIM menyusut. Kinerja ini memang sejalan dengan ekspektasi pasar, namun tidak mencerminkan akseleras yang kuat.
Dalam catatan kinerja, laba bersih BCA tercatat sebesar Rp14,7 triliun. Tapi, dari sisi pendapatan, net interest income cenderung datar. Pertumbuhannya lebih banyak ditopang oleh pendapatan non bunga yang naik hingga 16 persen.
Jika dilihat dari struktur profitabilitas, dinamikanya lebih berlapis. Pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 5 persen. Akan tetapi, biaya pencadangan naik sebanyak 20 persen dan mendorong cost of credit ke level 60 basis poin. Ini level yang sangat tinggi dari panduan yang ada.
Di saat yang sama, margin bunga bersih (NIM) justru turun menjadi 5,4 persen. Penyebabnya adalah penurunan imbal hasil aset, terutama dari segmen korporasi. Segmen ini memang sangat sensitif terhadap suku bunga.
Beralih ke sisi intermediasi. Pertumbuhan kredit saat ini berada di level 6 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dari target 8 sampai 10 persen.
Segmen korporasi dan komersial sampai saat ini masih jadi penopang, sedangkan segmen komsumer mengalam kontraksi sebesar 2 persen lantaran adanya penurunan tajam pada kredit otomotif sebanyak 20 persen.
Kualitas aset juga bergerak tipis, di mana NPL-nya hanya naik 1,8 persen dan loan at risknya ke 5,1 persen. Hal ini terjadi meskipun rasio cakupan tetap berada di kisaran 70 persen.
Struktur Pendanaan Menguat
Di tengah tekanan tersebut, struktur pendanaan justru menunjukkan penguatan. Dana pihak ketiga tumbuh 8 persen, didorong oleh peningkatan CASA sebesar 11 persen yang membawa rasio CASA ke level 85 persen.
Kondisi ini memberikan ruang likuiditas yang lebih stabil, meski belum cukup untuk menahan tekanan pada margin.
Respons pasar terhadap kombinasi data tersebut langsung tercermin pada sesi pertama perdagangan hari ini. Saham BBCA dibuka di level Rp6.400, sempat menyentuh Rp6.425, namun kemudian bergerak turun hingga menyentuh Rp6.050 sebelum berada di kisaran Rp6.075.
Penurunan 5,45 persen ini menunjukkan tekanan jual yang muncul sejak awal sesi dan berlangsung tanpa fase penahanan yang kuat.
Pergerakan intraday ini mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah pertumbuhan ke depan. Tekanan tidak hanya datang dari perlambatan kredit dan margin, tetapi juga dari kenaikan biaya pencadangan yang menunjukkan pendekatan lebih konservatif terhadap risiko.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap setiap perubahan persepsi terhadap kualitas aset dan profitabilitas.
Rekomendasi Buy
Di sisi lain, pandangan analis terhadap BBCA masih berada pada posisi positif. Saham ini diperdagangkan di kisaran valuasi yang lebih rendah dibanding rata-rata historis, yakni sekitar 2,7 kali price to book value dan 13 kali price to earnings ratio.
Dengan posisi tersebut, analis dari Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp10.600, mencerminkan ruang kenaikan dari level saat ini meski dalam konteks pertumbuhan yang lebih moderat.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.