KABARBURSA.COM - Namun PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) mengajukan rencana buyback saham senilai maksimal Rp1 triliun. Rencana tersebut akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Selasa, 9 Juni 2026.
Jika disetujui, pembelian kembali saham dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus dalam waktu paling lama 12 bulan.
Pertanyaannya, apakah MIKA memang cukup kuat untuk melakukan aksi sebesar itu? Jawabannya terlihat dari kondisi fundamental perusahaan yang masih sangat solid.
Laba Terus Tumbuh, Pendapatan Cetak Rekor
Di tengah berbagai tantangan sektor kesehatan, MIKA masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan yang stabil. Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan Rp1,36 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,27 triliun.
Laba bersih juga naik menjadi Rp326 miliar, dibandingkan Rp311 miliar pada kuartal I 2025.
Jika dihitung secara tahunan, pendapatan MIKA diproyeksikan mencapai Rp5,43 triliun, sementara laba bersih berada di kisaran Rp1,30 triliun. Artinya, buyback tidak dilakukan ketika perusahaan sedang menghadapi tekanan fundamental, tetapi justru saat bisnis masih bertumbuh secara konsisten.
EPS tahunan juga meningkat menjadi 93,71, sementara EPS trailing twelve months mencapai hampir 99,20, menunjukkan kemampuan perusahaan terus mencetak keuntungan bagi pemegang saham.
Buyback Rp1 Triliun, Seberapa Besar?
Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp19,96 triliun, nilai buyback Rp1 triliun setara sekitar 5 persen dari nilai pasar perusahaan. Nilai tersebut cukup besar untuk ukuran emiten rumah sakit dan berpotensi memberikan dukungan terhadap harga saham apabila direalisasikan secara bertahap.
Manajemen sendiri menegaskan bahwa pelaksanaan buyback akan mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas, harga saham, serta struktur permodalan perusahaan.
Dengan kata lain, buyback bukan sekadar aksi simbolis, melainkan instrumen untuk mengoptimalkan nilai perusahaan ketika harga saham dianggap berada di bawah nilai wajarnya.
Mengapa Buyback Penting?
Jika melihat historical data, alasan buyback menjadi semakin mudah dipahami. Dalam kurang dari satu bulan, saham MIKA telah turun dari Rp1.850 pada pertengahan Mei menjadi Rp1.435, atau terkoreksi sekitar 22 persen.
Tekanan jual juga datang secara konsisten dari investor asing. Pada perdagangan 29 Mei misalnya, net foreign sell mencapai sekitar Rp48,45 miliar, disusul Rp9,86 miliar pada 4 Juni dan Rp7,44 miliar pada 5 Juni.
Sementara pada 8 Juni, saham kembali turun hampir 6 persen ke level Rp1.435. Artinya, pelemahan harga lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dibandingkan penurunan fundamental perusahaan.
Dalam kondisi seperti ini, buyback dapat berfungsi sebagai penyangga psikologis sekaligus memberikan sinyal bahwa manajemen menilai valuasi saham sudah cukup menarik.
Analis Sangat Optimistis
Menariknya, optimisme terhadap MIKA tidak hanya datang dari manajemen. Sebanyak 23 dari 25 analis masih memberikan rekomendasi Buy, sementara hanya dua analis yang memilih Hold dan tidak ada satupun yang merekomendasikan Sell.
Target harga rata-rata analis berada di Rp3.062 per saham, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp3.600 dan terendah Rp2.100.
Jika dibandingkan dengan harga saat ini di Rp1.435, rata-rata target tersebut mencerminkan potensi kenaikan lebih dari 110 persen. Perbedaan yang sangat lebar ini menunjukkan bahwa mayoritas analis masih melihat nilai intrinsik MIKA jauh di atas harga pasar saat ini.
Apakah Prospeknya Masih Cerah?
Jawabannya masih sangat terbuka. Sektor rumah sakit memiliki karakter bisnis yang relatif defensif dengan permintaan layanan kesehatan yang terus meningkat setiap tahun. MIKA juga memiliki rekam jejak profitabilitas yang konsisten, arus kas yang kuat, serta kebijakan dividen yang stabil.
Perseroan membagikan dividen sebesar Rp43 per saham dengan dividend yield sekitar 3 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 1,65 persen. Payout ratio juga berada di level 45,89 persen, menunjukkan keseimbangan antara pembagian keuntungan kepada pemegang saham dan kebutuhan ekspansi perusahaan.
Melihat kombinasi fundamental yang masih tumbuh, laba yang stabil, dukungan mayoritas analis, serta rencana buyback Rp1 triliun, MIKA memiliki cerita yang cukup menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.