KABARBURSA.COM – Seperti halnya PT Elnusa Tbk (ELSA) yang menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga melakukan hal serupa. Namun, pergerakan sahamnya justru tidak dalam keadaan baik.
Pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, di sesi kedua, TLKM menjadi salah satu saham dengan tekanan jual yang cukup besar. Hingga sesi perdagangan yang berlangsung siang hari, saham emiten telekomunikasi pelat merah itu ditutup sementara di level 2.360, turun 400 poin atau 14,49 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 2.760.
Di satu sisi, rencana pembelian kembali saham atau buyback tidak cukup untuk menahan asing untuk melakukan penjualan besar-besaran.
Secara teori, buyback sering kali dipandang sebagai sinyal positif karena menunjukkan keyakinan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan sekaligus berpotensi mengurangi jumlah saham beredar di pasar.
Manajemen Telkom memang mengusulkan alokasi dana maksimal Rp4 triliun untuk aksi korporasi tersebut. Jika mendapatkan persetujuan pemegang saham, buyback akan dilaksanakan mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027, dengan jumlah saham yang dibeli tidak melebihi 10 persen dari modal disetor.
Namun pasar tampaknya memilih melihat faktor lain.
Data aktivitas investor asing pada perdagangan tengah hari menunjukkan net foreign sell mencapai Rp88,55 miliar dengan volume penjualan bersih sekitar 35,02 juta saham. Arus dana keluar tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan TLKM meski sentimen buyback sedang menjadi perhatian.
Tekanan jual itu juga tercermin dari aktivitas perdagangan yang sangat tinggi. Nilai transaksi saham TLKM mencapai sekitar Rp553,19 miliar dengan volume mencapai 2,23 juta lot dan frekuensi transaksi lebih dari 35 ribu kali. Harga bergerak dari pembukaan di level 2.620, sempat menyentuh 2.650, sebelum akhirnya turun hingga 2.360, yang sekaligus menjadi level terendah pada sesi tersebut.
Pola tersebut menggambarkan bahwa tekanan jual sudah muncul sejak awal perdagangan dan terus berlanjut sepanjang sesi, tanpa mampu diimbangi oleh aksi beli yang signifikan.
Lalu, mengapa buyback belum mampu mengangkat harga saham? Jawabannya kemungkinan terletak pada cara pelaku pasar membaca informasi tersebut.
Buyback memang menjadi katalis positif untuk jangka menengah dan panjang, tetapi pelaksanaannya baru dapat dimulai setelah memperoleh persetujuan RUPS dan berlangsung dalam periode hingga satu tahun ke depan.
Artinya, aksi pembelian saham oleh perseroan tidak akan langsung menyerap seluruh tekanan jual yang muncul di pasar hari ini.
Selain itu, arus keluar investor asing juga mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar masih memilih mengurangi eksposur terhadap saham TLKM, baik karena strategi rebalancing portofolio maupun faktor sentimen pasar yang lebih luas.
Meski demikian, koreksi tajam ini juga menghadirkan perspektif lain.
Dengan adanya komitmen buyback hingga Rp4 triliun, Telkom pada dasarnya telah memberikan sinyal bahwa perusahaan memiliki fundamental dan likuiditas yang cukup kuat untuk melakukan pembelian kembali sahamnya sendiri. Langkah tersebut berpotensi menjadi penyangga harga apabila tekanan jual mulai mereda dalam beberapa waktu ke depan.
Karena itu, investor jangka pendek masih perlu mewaspadai volatilitas tinggi yang kemungkinan berlanjut pasca-RUPS. Sementara bagi investor jangka menengah dan panjang, fokus utama bukan lagi pada pelemahan satu hari perdagangan, melainkan bagaimana realisasi buyback dan kemampuan Telkom mempertahankan kinerja operasionalnya sepanjang 2026.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.