KABARBURSA.COM – Selasa, 9 Juni 2026, merupakan periode cum date dividen PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA). Emiten produsen olahan kedelai, kacang tanah, dan almond ini akan memasuki memberikan kesempatan terakhir bagi investor yang ingin mendapatkan pembagian dividen tahun buku 2025.
Yang menarik, momen tersebut datang ketika harga saham GUNA justru sedang berada dalam tren pelemahan.
Pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, saham GUNA ditutup di level Rp142, turun 2,74 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp146. Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan jual juga cukup terasa. Harga yang sempat berada di area Rp204 pada pertengahan Mei kini telah terkoreksi lebih dari 30 persen.
Namun di balik pelemahan tersebut, fundamental perseroan justru masih terlihat cukup stabil.
Pemasok Unilever dengan Bisnis yang Konsisten
Gunanusa Eramandiri bukanlah nama baru di industri makanan. Perusahaan yang berdiri sejak 1993 ini memproduksi berbagai olahan kacang dan kedelai melalui merek Almonesia, John Farmers, Kagil, hingga GENuts 2 Naga.
Yang membuat model bisnisnya menarik adalah dominasi segmen business to business (B2B). Salah satu pelanggan terbesar perseroan adalah Unilever, sehingga sebagian besar pendapatan berasal dari kontrak pasokan industri, bukan semata-mata penjualan ritel.
Untuk menjaga margin keuntungan, GUNA juga menerapkan strategi pembelian bahan baku saat musim panen raya yang berlangsung dua kali dalam setahun. Strategi tersebut membantu perusahaan mengendalikan biaya produksi ketika harga komoditas berfluktuasi.
Operasional perusahaan didukung oleh tiga fasilitas produksi yang berada di Cikarang dan Pati.
Fundamental Masih Terlihat Sehat
Jika melihat laporan keuangan terbaru, kondisi fundamental GUNA masih relatif solid.
Pendapatan kuartal I 2026 mencapai Rp446 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp428 miliar. Secara tahunan, pendapatan diproyeksikan mencapai sekitar Rp1,79 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp1,76 triliun.
Memang, laba bersih kuartal I 2026 turun menjadi Rp11 miliar dari Rp16 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun secara tahunan perseroan masih membukukan estimasi laba sekitar Rp45 miliar, mencerminkan bisnis yang tetap menghasilkan keuntungan positif.
Dari sisi profitabilitas, EPS tahunan berada di kisaran 18,06, sementara trailing twelve months (TTM) masih mencapai 22,85.
Yang lebih menarik justru kondisi neracanya. Current ratio berada di 2,08 kali, quick ratio 1,55 kali, sedangkan debt to equity ratio hanya 0,29 kali. Total utang terhadap aset juga hanya sekitar 15 persen, dengan interest coverage mencapai 12,24 kali.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa struktur keuangan GUNA masih cukup konservatif dan kemampuan membayar kewajiban jangka pendek maupun bunga utang berada pada level yang aman.
Dividen yang Mulai Konsisten
Bagi investor yang menyukai pendapatan pasif, GUNA mulai menunjukkan rekam jejak pembagian dividen yang menarik. Untuk tahun buku 2025, perseroan membagikan dividen sebesar Rp7,46 per saham, sama dengan tahun sebelumnya yang juga sebesar Rp7,46 per saham.
Dengan harga saham di kisaran Rp142, dividend yield mencapai sekitar 4,93 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan yield tahun sebelumnya yang berada di kisaran 2,59 persen.
Payout ratio juga meningkat menjadi 41,30 persen, menunjukkan komitmen perusahaan untuk membagikan sebagian laba kepada pemegang saham.
Pergerakan Saham Masih Berada di Bawah Tekanan
Meski fundamental cukup baik, sentimen pasar terhadap saham GUNA belum sepenuhnya pulih.
Dalam beberapa hari terakhir, harga terus bergerak turun dari Rp185 menuju Rp142. Aktivitas asing sebenarnya tidak terlalu dominan karena likuiditas saham relatif terbatas, tetapi pola perdagangan menunjukkan minat beli masih cenderung menunggu.
Koreksi ini bisa dipengaruhi oleh aksi ambil untung menjelang pembagian dividen atau sentimen pasar secara umum terhadap saham berkapitalisasi kecil.
Apakah Menarik Dikoleksi Saat Cum Date?
Jawabannya bergantung pada tujuan investasi. Jika tujuan utama adalah dividend investing, GUNA menawarkan yield hampir 5 persen dengan kondisi fundamental yang masih sehat dan struktur keuangan yang konservatif. Hal tersebut menjadi nilai tambah bagi investor yang mencari kombinasi dividen dan stabilitas bisnis.
Namun bagi trader jangka pendek, perlu diingat bahwa setelah cum date harga saham secara teori akan mengalami penyesuaian sebesar nilai dividen yang dibagikan. Selain itu, tren harga saat ini masih berada dalam fase koreksi sehingga volatilitas masih berpotensi berlanjut.
Dengan valuasi yang sudah turun cukup dalam, bisnis yang stabil, pelanggan utama yang kuat, serta konsistensi pembagian dividen, GUNA memiliki peluang menarik untuk dikoleksi secara bertahap oleh investor jangka menengah hingga panjang.
Meski demikian, strategi yang lebih bijak adalah melakukan akumulasi secara bertahap dibandingkan membeli sekaligus, sambil menunggu apakah tekanan jual pasca-cum date mulai mereda dan harga mampu membentuk tren kenaikan baru.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.