KABARBURSA.COM – Pipeline Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menjadi sorotan pasar seiring minimnya realisasi IPO hingga akhir April 2026. Hingga 30 April 2026, baru 1 perusahaan yang resmi mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun sebesar Rp0,30 triliun, yakni PT BSA Logistik Tbk (WBSA).
Meski realisasi masih terbatas, antrean perusahaan yang bersiap melantai di bursa terbilang cukup besar. BEI mencatat terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. Pipeline sendiri merupakan daftar perusahaan yang sedang dalam proses menuju aksi korporasi di pasar modal, seperti IPO, penerbitan obligasi, maupun rights issue, namun belum resmi terealisasi.
Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan pipeline tersebut mencerminkan minat dunia usaha untuk tetap memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan di tengah dinamika ekonomi.
“Kami melihat pipeline masih terjaga, ini menunjukkan minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal tetap ada,” ujar Nyoman dalam keterangan tertulis Jumat, 1 Mei 2026.
Dari sisi klasifikasi aset, mayoritas perusahaan dalam pipeline IPO berasal dari kelompok aset besar. Sebanyak 11 perusahaan tercatat memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara 4 perusahaan berada di kategori aset menengah dengan rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tidak terdapat perusahaan dengan skala aset kecil di bawah Rp50 miliar.
Jika ditinjau dari sektor, pipeline IPO cukup terdiversifikasi meski tidak merata. Sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals masing-masing menyumbang 3 perusahaan atau sekitar 20 persen dari total pipeline. Sektor healthcare juga cukup dominan dengan 3 perusahaan atau 20 persen. Sementara itu, sektor infrastructures dan technology masing-masing menyumbang 2 perusahaan atau sekitar 13,3 persen.
Adapun sektor energy dan financials masing-masing hanya diisi oleh 1 perusahaan atau sekitar 6,7 persen. Tidak terdapat perusahaan dalam pipeline dari sektor basic materials, industrials, properties dan real estate, serta transportation dan logistic.
Selain pipeline saham, aktivitas penghimpunan dana melalui obligasi juga menunjukkan geliat yang cukup kuat. Hingga akhir April 2026, telah diterbitkan 54 emisi dari 35 penerbit efek bersifat utang dan sukuk dengan total dana dihimpun mencapai Rp58,90 triliun.
Di sisi lain, pipeline obligasi masih cukup tebal dengan 47 emisi dari 33 penerbit. Sektor financials menjadi yang paling dominan dengan porsi sekitar 38,3 persen, diikuti sektor infrastructures sebesar 21,3 persen. Sektor energy juga mencatat kontribusi signifikan sebesar 14,9 persen.
Sementara itu, sektor basic materials menyumbang sekitar 6,4 persen, consumer non-cyclicals 4,3 persen, technology 2,1 persen, serta transportation dan logistic dalam porsi terbatas. Tidak terdapat pipeline obligasi dari sektor healthcare maupun industrials.
Adapun untuk aksi korporasi rights issue, hingga 30 April 2026 tercatat telah ada 3 perusahaan yang menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun. Rights issue merupakan aksi penambahan modal dengan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru.
Ke depan, pipeline rights issue relatif terbatas dengan hanya 1 perusahaan yang masih dalam antrean. Perusahaan tersebut berasal dari sektor properties dan real estate dengan porsi 100 persen dari total pipeline rights issue saat ini.
Kondisi ini mencerminkan bahwa meski realisasi IPO masih minim di awal tahun, potensi penghimpunan dana di pasar modal Indonesia tetap terbuka lebar.(*)