KABARBURSA.COM - PT Niramas Utama Tbk dengan kode saham JELI resmi membuka penawaran umum perdana saham (IPO) pada 15-22 Juni 2026 dengan kisaran harga Rp900-Rp1.120 per saham dan target dana segar hingga Rp392 miliar.
INACO tentu sudah tidak asing. Produk nata de coco dan jelly cukup dikenal masyarakat. Namun, bagaimana fundamentalnya?
Laba perusahaan terlihat sangat impresif. Dalam dua tahun terakhir, laba bersih melonjak drastis dari hanya Rp1,68 miliar pada 2023 menjadi Rp39,03 miliar pada 2025. Angkanya tumbuh lebih dari 235 persen.
Namun, pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan dalam periode yang sama, dari Rp838,94 miliar menjadi Rp753,05 miliar. Artinya, peningkatan laba bukan berasal dari ekspansi penjualan, melainkan hasil dari strategi efisiensi yang dilakukan manajemen.
Perusahaan memilih menaikkan harga jual, menghentikan produk yang kurang menguntungkan, sekaligus menekan biaya bahan baku. Strategi tersebut berhasil memperbaiki margin laba bruto dari 29,4 persen menjadi 38,6 persen.
Dari sisi operasional, ini menunjukkan disiplin manajemen dalam menjaga profitabilitas di tengah tekanan pasar.
Penggunaan Dana IPO
Dana IPO yang diperoleh pun sebagian besar diarahkan untuk mendukung ekspansi. Sekitar 51,04 persen akan disuntikkan ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera dalam bentuk tambahan modal.
Sebanyak 18,36 persen digunakan membeli mesin baru untuk meningkatkan kapasitas produksi. Sementara 19,97 persen dialokasikan sebagai modal kerja mulai dari pembelian bahan baku hingga aktivitas pemasaran.
Sebagian lagi, sekitar 10,63 persen, dipakai untuk membayar pokok utang kepada Bank Mandiri. Langkah ini cukup penting mengingat struktur permodalan JELI masih cukup agresif dengan rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) mencapai 2,79 kali sebelum IPO.
Artinya, meskipun sebagian utang akan berkurang setelah penawaran saham, leverage perusahaan masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor jangka panjang.
Valuasi Premium
Pada kisaran harga IPO Rp900-Rp1.120 per saham, JELI diperdagangkan dengan Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 30-39 kali dan Price to Book Value (PBV) mencapai 8,32 kali. Angka tersebut tergolong premium jika dibandingkan dengan perusahaan makanan dan minuman lain yang sudah lama tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Mayora Indah (MYOR), misalnya, yang memiliki jaringan distribusi global dan portofolio produk sangat kuat, diperdagangkan pada PER sekitar 18-22 kali dengan PBV sekitar 3,5-4,2 kali.
Garudafood berada di kisaran PER 22-25 kali dan PBV 4-4,8 kali. Ultra Jaya bahkan hanya berada di kisaran PER 11-14 kali dengan PBV sekitar 2 kali. Sedangkan Campina diperdagangkan pada PER 13-16 kali dan PBV sekitar 1,2-1,5 kali.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa investor yang membeli saham JELI pada harga IPO harus membayar valuasi yang lebih mahal dibandingkan sejumlah emiten konsumsi besar yang sudah memiliki rekam jejak panjang, pertumbuhan penjualan yang lebih stabil, serta posisi keuangan yang relatif lebih kuat.
Di sisi lain, JELI tetap memiliki daya tarik tersendiri. Merek INACO sudah dikenal luas, perusahaan berhasil membuktikan kemampuan meningkatkan profit melalui efisiensi, dan dana IPO lebih banyak diarahkan untuk ekspansi bisnis dibandingkan sekadar menutup kewajiban lama.
Jika investasi pada mesin baru dan anak usaha mampu menghasilkan pertumbuhan penjualan dalam beberapa tahun ke depan, valuasi premium tersebut bisa menjadi lebih masuk akal.
Namun untuk saat ini, pasar tampaknya sedang diminta membayar harga masa depan dari sebuah perusahaan yang omzetnya masih mengalami tren penurunan.
Karena itu, IPO JELI menjadi pilihan yang menarik sekaligus menantang. Investor yang percaya pada kekuatan merek INACO dan keberhasilan strategi ekspansi mungkin melihat peluang pertumbuhan jangka panjang.
Sebaliknya, investor yang lebih konservatif kemungkinan akan menunggu bukti bahwa pertumbuhan laba dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan pendapatan sebelum memberikan valuasi yang lebih tinggi.(*)